
Pov. Danu Narendra
"Untuk saat ini, buang rasa gengsi dan jual mahalmu itu, Ayuna!"
Ucapku, membantu membaringkan tubuhnya, tanpa melepaskan cekalan tangan ini pada kedua pundak Ayuna. Membalas tatapan tajam darinya yang terus menyorotiku.
Aku tetap beranikan diri, sampai mana kamu akan terus bertahan dengan ego yang begitu tinggi ini?
Dalam keheningan, tak ada lagi diantara kami yang membuka suara. Namun sepasang mata kami masih terus beradu. Seakan tak ingin ada yang mengalah. Saling menantang.
"Ehem!"
Suara seseorang yang tiba-tiba masuk membuat aku dan Ayuna saling melempar pandangan kearah lain. Merasa seolah sedang tertangkap basah. Bahkan memang sedang tertangkap basah oleh masuknya perawat yang sedang jaga malam.
"Aduh, maaf mengganggu sebentar," ucap perawat wanita itu menghampiri kami.
Aku hanya bisa menelan salivaku, mencoba menetralkan diri dari degupan jantung yang bertambah cepat.
Sial!
Mengganggu saja.
"Maaf ya, Mas. Pacarnya dipinjem sebentar, diperiksa dulu," lanjut perawat itu dengan mengulum senyuman.
What? Pacar?
Aku tersenyum sipu mendengar penuturan perawat itu. Berbeda dengan Ayuna yang hanya memberiku tatapan sinis.
"Dia bukan pacar saya, suster!"
Aku semakin ingin terkikik ketika mendengar penuturan Ayuna yang menyangkal jika aku bukanlah pacarnya.
Jika Ayuna tak bisa mengakui, setidaknya orang lain sudah menilai.
"Oh, bukan pacar. Tetapi suami istri ya, Mba," Jawab perawat itu dengan penuh senyuman.
Mata Ayuna semakin membola, sementara aku hanya bisa berdiri dengan meletakkan telapak tanganku yang tergenggam di depan mulut agar tak terlihat jika saat ini aku sedang tertawa.
"Suster, kami bukan ..."
"Suster, maaf ya. Istri saya lagi ngambek!" Timpalku, memotong ucapan Ayuna.
Perawat itu hanya tersenyum, kemudian segera memeriksa Ayuna.
Aku merasa menang, karena bisa menggoda Ayuna kali ini. Meskipun saat ini bola matanya tengah membulat, seakan mau terlepas dari kelopak matanya. Tetapi, aku tidak mempedulikan itu. Semakin dia menatapku, maka semakin senyum dibibir ini melebar.
"Sudah selesai," ucap perawat yang memeriksa Ayuna.
"Apa saya sudah boleh pulang, Sus?" Tanya Ayuna. Mungkin dia sudah merasa tidak betah berada di rumah sakit. Karena fikirannya hanya kerja, kerja dan kerja!
__ADS_1
Perawat hanya tersenyum, "mau cepet pulang ya, Mba?"
"Sabar dulu ya, Mba," lanjut si perawat.
"Kamu mau cepet pulang ngapain?" Tanyaku menyambung obrolan Ayuna dan perawat.
"Iya, padahal di sini di temenin terus sama suaminya," ucap perawat itu dengan senyum penuh candaan.
"Suster, dia buka suami saya!" Bantah Ayuna kesal.
"Sus, makasih, ya." Aku segera mengucapkan banyak terimakasih ketika perawat itu hendak keluar dan mengangguk pelan.
"Danu, ngapain kamu ngaku-ngaku kalau aku ini istri kamu?" Suara Ayuna sudah mulai sedikit meninggi.
"Kalau aku nggak ngaku-ngaku, nanti kamu keburu diakuin orang lain," jawabku dengan wajah serius. Tak lagi ada aroma-aroma candaan seperti di awal.
Aku berjalan semakin mendekat kearahnya, duduk pada kursi yang tersedia di dekat brankar di mana dia terbaring.
"Yuna, kamu lagi sakit. Jangan banyak tegang," ucapku lirih. Mencoba menurunkan sedikit emosi Ayuna yang kini sudah mulai melambung.
"Yang penting sekarang, kamu sembuh dulu," lanjutku lagi dengan nada bicara semakin lembut.
"Nggak usah mikir macem-macem," Aku belum berhenti memberikan saran demi kesehatan Ayuna.
"Tapi, kalau mau mikirin aku, enggak apa-apa," ucapku lagi dengan hati puas.
Puas sekali.
"Aku nggak sudi!!!" Ucap Ayuna dengan mulut yang kini bersungut.
Sungguh, wajah pucatnya itu tetap saja lucu. Bahkan rona kemerahan samar-samar muncul dari balik pipinya.
Aku hanya terkikik, meletakkan bantal kembali ke atas brankar.
"Mau ngapain, kamu??" Tanya Ayuna semakin galak.
"Mau jagain kamu," jawabku.
"Danu, apa kamu udah lupa dengan ..."
"Aku nggak pernah lupa dengan kamu, Ayuna."
"Ck!!" Ayuna berdecak terlihat semakin kesal.
Apa yang ia katakan, selalu aku jawab. Meski jawabanku ini tak mendapat respon baik darinya. Tetapi di sinilah, akhir dari perbincangan kami. Karena Ayuna lebih memilih diam, daripada melanjutkan ucapannya.
Ayuna, apa kamu tak pernah melihat sedikitpun sisi baikku?
"Yuna, kamu istirahat aja. Udah malem," pintaku. Merasa kasihan terhadap wanita ini karena sejak tadi terus kujahili.
__ADS_1
Aku hanya bisa mendengar hembusan nafas Ayuna. Seolah mengeluarkan sesak di dadanya.
"Tidur, udah malem," pintaku lagi dengan nada selembut mungkin.
Ayuna pun membaringkan tubuhnya perlahan, terlihat kesusahan hingga aku berniat untuk membantunya. Tetapi, baru saja aku mengulurkan tangan, Ayuna langsung menampiknya kasar.
"Nggak usah, aku bisa sendiri!"
Penolakannya ini semakin membuat hatiku menciut. Aku tahu kamu wanita mandiri. Aku tahu kamu tak ingin belaskasihan orang lain. Aku juga tahu jika kamu bersikeras untuk tetap terlihat kuat.
Tetapi sebenarnya kamu rapuh.
Ayuna berbaring, membelakangiku. Sedikit berposisi meringkuk. Aku memilih meraih selimut dan menutupi tubuhnya agar terjaga dari dinginnya malam ini.
"Get well soon," ucapku lirih.
Berharap, ketika besok ia membuka mata. Maka segala sakit yang dideritanya telah hilang.
Setelah beberapa menit memperhatikan Ayuna yang masih meringkuk. Perlahan terdengar nafasnya sudah mulai teratur. Kemungkinan besar Ayuna sudah terlelap. Semoga malam ini, kamu akan bermimpi indah.
Aku pun memilih untuk merebahkan tubuhku pada sofa panjang. Berharap tulang-tulangku yang bengkok sedikit lurus karena aktivitas hari ini. Namun, satu harapanku. Jangan membengkokkan tulang rusukku yang sedang berbaring di atas brankar itu.
"Selamat malam, tulang rusukku."
...****************...
Pukul lima pagi, rasanya perutku ini tak bisa di ajak kompromi dan harus segera ke kamar mandi. Mungkin karena sudah terbiasa, aku harus membuang hajat di jam segini. Tak sempat lagi aku melirik kanan dan kiri, aku langsung menuju ke kamar mandi.
Setelah perutku merasa lega, aku memilih untuk mencuci wajah dan keluar. Ketika membuka pintu, aku langsung terkejut karena sudah nampak Ayuna yang berdiri di sana.
Bukan cuma aku yang terkejut, Ayuna pun terlihat sama dengan mata yang membola. Hingga tubuhnya pun hampir terhuyung karena membawa tiang infus.
Sebelum tubuh langsing itu terjatuh, aku dengan sigap menahannya. Merengkuhnya dalam dekapanku. Mentapnya tanpa berkedip lagi.
Satu,
Dua,
Tiga,
Secantik ini wajah Ayuna.
Tes! Air yang tadi masih menyangkut di rambutku akibat mencuci wajah, kini menetes ke wajah Ayuna. Hingga membuat matanya berkedip berulang kali.
"Da-nu,"
Aku tidak tahan lagi, melihat wajah merona Ayuna yang terus menggodaku. Bukan mengambil kesempatan dalam kesulitan, tetapi ini merupakan momen langka di mana aku dan Ayuna sangat begitu dekat setelah kejadian lalu di Bogor.
Ayuna, kamu telah mengacak-acak hatiku. Mengobrak-abrik jantungku. Terus saja begini, tanpa ada diantara kita yang melepaskan diri.
__ADS_1
Aku beranikan diri mengusap tetesan air di wajah Yuna dengan jariku perlahan. Tetapi mata Ayuna seakan memanggilku, hingga aku terus mendekatkan wajah kepadanya.
Cup!