
Pov. Danu Narendra
Pagi ini, banyak orang memadati halte Bus, bahkan halte nyaris tak mampu lagi menampung banyaknya orang yang tengah menunggu Bus datang. Kebanyakan anak-anak dengan seragam sekolahnya. Tak terkecuali diriku sendiri, yang baru pertama akan masuk ke bangku Sekolah Menengah Atas.
Hampir semua kursi terisi penuh, hingga kebagian belakang. Mataku pun tak bisa lagi menemukan adanya kursi yang kosong, hingga kuputuskan untuk berdiri saja saat ini. Yang penting aku bisa tiba di sekolah tepat waktu dan tidak terlambat.
Aku menggantungkan tanganku pada pegangan yang terjuntai di atas kepalaku. Berpegangan kuat, berharap tak akan terjatuh saat Bus akan mengerti nanti.
"Hey, sini!"
Seorang wanita cantik di sana mengarahkan matanya kepadaku. Mungkinkah dia memanggilku?
"Sini, duduk di sini!" Panggilnya lagi.
Wanita yang mengenakan seragam putih abu-abu itu menepuk-nepuk kursi kosong disebelahnya.
"Aku?" Merasa tak yakin, aku pun menunjukkan jari kebagian dadaku sendiri.
Wanita itu mengangguk, dan tanpa fikir panjang aku pun menuju kursi di mana ia duduk. Bagaimana bisa ada kursi kosong di situ? Jelas saja, aku tak menemukannya tadi.
"Terimakasih," ucapku ramah.
Aku menundukkan wajahku, segera kupalingkan wajah ini, tak berani menatapnya lebih lama. Setelah itu aku pun duduk di sebelahnya. Senyumannya itu membuat hatiku tak kuat. Sungguh, manis sekali bak madu.
Wanita ini begitu ramah, sekilas dapat aku lihat bagaimana cantiknya wajahnya ini. Rambut panjang lurus dengan poni yang menutupi dahinya. Tak lupa ada bandana pink yang melekat pada rambut lurus itu.
Pertama kali hatiku bergetar saat berada di sebelah wanita. Tak pernah kurasakan sebelumnya hal seperti ini. Pertanda apakah ini? Tuhan, tolong aku.
Ingin sekali aku mengajaknya berbicara, bahkan jika bisa aku berkenalan dengannya, mengetahui namanya. Tetapi, mulutku seolah tertambal oleh plester hitam. Sehingga tersumbat dan tak dapat mengeluarkan suara meski sebenarnya hatiku berteriak.
Tak lama, Bus yang kami tumpangi pun berhenti tepat di depan halte sekolah. Aku pun memutuskan turun dari Bus lebih dulu karena posisi dudukku yang berada di pinggir dan wanita cantik itu di sebelah jendela.
Aku pergi, meninggalkan dia. Tanpa berpamitan.
Ah, ada-ada saja aku ini? Memangnya untuk apa aku berpamitan dengannya? Siapa dia? Orang yang baru saja pertama kali aku jumpai. Namun, sudah bisa membuat hatiku berdesir sangat hebat. Oh, tidak! Jika terus mengingatnya, bisa-bisa aku tak fokus ke sekolah.
Tetapi, hati kecil ini berharap akan bertemu kembali dengannya. Mudah-mudahan.
Aku berdiri di halte Bus terlebih dahulu, melihat Bus yang tadi aku tumpangi melaju. Namun betapa terkejutnya aku ketika melihat pemandangan yang begitu menyilaukan mata.
Kesan di hari pertama sekolahku yang amat indah. Menatap wanita cantik yang menurutku kecantikannya tak bisa digambarkan oleh apapun. Cantik yang alami, tetapi tak ada yang secantik dirinya. Bahkan, Ibuku yang menurutku wanita paling cantik pun tersaingi olehnya.
Ku ikuti kemana arah langkahnya dengan mataku yang tak lagi bisa berkedip ini, semakin terkejut lagi ketika melihatnya memasuki gerbang sekolah yang juga akan aku masuki.
Apakah dia berada satu sekolah denganku? Apakah dia juga murid baru di sini? Aku bahkan berharap, dia berada satu kelas denganku. Jika bisa, kami akan berada di satu meja yang sama.
Senyum mengembang diwajahku, benar-benar hari pertama yang mengesankan. Semangatku kini semakin bertambah. Ternyata dia lah yang menjadikan semangatku ini menjadi dua kali lipat. Apakah dia sudah bisa disebut sebagai My Crush.
Banyak siswa-siswi baru yang berkumpul di lapangan sekolah setelah mendengarkan sebuah pengumuman yang di sampaikan oleh seorang siswa yang menurutku berparas tampan. Kabarnya, dia adalah ketua OSIS di sekolah kami ini.
Sepertinya pagi ini kami akan menjalani Masa Orientasi Siswa atau MOS. Harapanku, jangan lagi ada kakak-kakak kelas yang mendiskriminasi siswa-siswi didikan baru sepertiku. Apalagi, aku adalah anak baik yang tak suka berdebat apalagi berkelahi. Aku ini anak Alim (Anak yang baik dan tidak nakal).
Senyumku kembali mengembang ketika sepasang mata indah dengan kecantikan yang teramat menyilaukan mataku, dia berada di depan sana. Ya, dia.
Dia yang sempat kucari-cari sejak tadi, akhirnya menampakkan diri. Untung aku berdiri paling depan, hingga aku bisa melihatnya dengan sangat jelas. Sungguh aku takkan bosan meskipun akan di jemur di lapangan yang panas ini sampai pulang.
__ADS_1
Jika dia berdiri di sana, berarti dia adalah kakak kelasku. Oh. Hati kecil ini sedikit kecewa, mengetahui jika wanita cantik ini bukanlah siswi baru yang akan menjadi teman sekelasku, seperti harapanku tadi. Tetapi, setidaknya aku bisa terus melihatnya karena kami berada dalam satu lingkup sekolah yang sama.
Angin berhembus, memberi kesegaran pagi ini untuk diriku yang sedikit menegang. Di depan sana, dapat aku lihat helaian demi helaian rambut panjang yang lurus itu tersibak olehnya hingga mengayun kesana-kemari berkali-kali.
Rambut yang melayang itu menutupi sedikit wajah cantiknya. Jika memang diizinkan, biarkan aku yang menyelipkan kembali ke belakang telinganya. Sayangnya, angan-anganku ini terlalu tinggi.
"MAHARANI."
Yes! Aku bisa membaca name tag yang terpasang pada baju wanita cantik itu. Aku senang sekali, sungguh. Seperti sedang mendapat lotre.
Tetapi sayang, sepertinya ada lagi nama depan yang masih tertutup oleh rambut panjang lurusnya. Hingga mataku tak bisa mengetahui nama lengkap wanita indah itu.
"Maharani ..."
"Danu,"
"Maharani!!!"
Aku pun berteriak sekuat tenaga, agar wanita cantik itu bisa mendengar suaraku. Aku tak peduli ketika banyak mata yang menatap kearahku, menyampaikan banyak tanya. Aku pun tak ingin menjawab tanya mereka semua.
"Danu, heyy!!"
"Maharani!!"
"Danu, bangun!"
Aku pun membuka kedua kelopak mata ini. Betapa terkejutnya aku, setelah beberapa kali sempat terkejut saat di Bus dan di sekolah tadi. Aku kembali melihat wanita cantik itu. Namun kini ia tepat berada di hadapanku. Dekat sekali, sangat dekat.
"Danu, kamu mimpi??"
Aku memegang tangannya, berharap apa yang kualami ini bukanlah mimpi seperti yang baru saja dia ucapkan. Tuhan sangat baik padaku, hingga membuatku berada sangat dekat dengannya.
"Maharani..."
Perasaan berdesir di hati ini kembali lagi. Jantungku pun semakin berdegup, aku tak bisa menahannya. Apalagi aroma wangi yang keluar dari tubuhnya membuatku ingin tetap mendekapnya.
"Danu! Lepasin!!! Jangan kurang ajar!"
Dia mendorongku, tenaganya lumayan kuat. Hingga aku pun melepaskan dekapanku terhadap wanita cantik ini. Meski sebenarnya aku masih sangat ingin memeluknya dengan erat. Melepaskan kerinduanku selama ini.
PLAK!!!
Tamparan keras yang aku terima ini membuatku merasakan sakit. Ku tatap wajahnya dalam-dalam, hingga aku baru menyadari jika wanita yang melayangkan tangannya ke wajahku adalah AYUNA, bukan MAHARANI.
"A-Ayuna???"
"Kamu melewati batasan, Danu!" Ucapnya marah.
Aku bisa melihat, betapa marahnya Ayuna. Tatapannya itu membuatku tak berani dan tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Ayuna, aku ..."
"Jangan berlaku kurang ajar hanya karena saya seorang wanita. Jaga sikap kamu, Danu!!"
Ayuna pergi meninggalkanku begitu saja. Apa yang tengah aku lakukan? Apa yang aku perbuat di bangku panjang ini? Mengapa aku berada di pinggir kolam? Bukankah aku tadi ada di sekolah?
__ADS_1
Astaga! Aku hanya bermimpi.
Aku seperti orang linglung. Setelah menatap sekitar, aku baru menyadarinya.
Dengan cepat aku pun menyusul Ayuna yang tadi menuju lantai bawah. Ada hal yang harus aku jelaskan padanya. Ketika ku tatap arloji ditanganku, ternyata masih menunjukkan pukul dua dini hari.
Aku pun sembari mengingat-ingat hal apa yang terjadi padaku? Rupanya aku ketiduran di atas bangku yang berada di pinggir kolam. Untung saja aku tidak 'nyebur' ke dalamnya.
Setelah aku menuju lantai dasar, aku pun menemukan keberadaan Ayuna di sana. Duduk termenung, sepertinya hal ini sudah menjadi hobinya. Karena sudah beberapa kali aku melihatnya seperti ini.
Ku tarik kursi yang berada di hadapannya dan mendudukkan bokongku. Sebelum berbicara, aku terus menarik dalam-dalam nafas ini dan menghembuskannya perlahan.
Sedikit takut, karena Ayuna terus saja diam. Hingga aku pun mengumpulkan keberanian untuk mulai berbicara mode serius dengannya.
"Ayuna, aku minta maaf."
Tak ada balasan apapun dari mulut Yuna, bahkan wajahnya masih fokus dengan minuman hangat yang terus digenggam oleh kedua tangannya.
"Yuna, aku nggak bermaksud kurang ajar. Aku minta maaf, karna aku tadi mimpi," jelasku dengan penuh kehati-hatian.
Ku tatap wajah Ayuna. Masih saja dia tak menanggapi penjelasanku. Padahal aku ini sudah bersusah payah untuk berbicara dengannya.
Aku lebih berusaha lagi untuk menjelaskan padanya, "Yuna, tolong maafin aku. Aku janji, hal ini nggak bakal terulang lagi. Maafin atas kelancanganku!"
Lagi, tak ada tanggapan dari Yuna. Dan aku pun tak bisa bersabar. Aku ingin setiap masalahku cepat selesai.
"Yuna!!!" Panggilku. Mencoba membuatnya tersadar.
Aku pun menyentuh tangan Yuna. Memberanikan diri, karena dia tak kunjung membalas sepatah katapun.
"Jaga batasan kamu, Danu!!!"
Ayuna menghempaskan tanganku dengan kuat. Sepertinya kali ini aku salah lagi. Tuhan, tolong aku.
"Yuna ..."
"Mulai sekarang, jaga batasan kamu. Jangan deketin aku saat aku lagi sendiri. Jangan menyentuh aku sembarangan! Aku nggak suka itu. INGAT!! Dalam hal atau kondisi apapun!"
Aku tertunduk lesu. Inikah yang harus aku dapatkan? Sebuah batasan yang hatiku pun tak bisa menerimanya. Mengganjal sekali rasanya.
"Satu lagi, jangan berbicara denganku selain masalah pekerjaan!"
Deg!
Jantungku rasanya mau jatuh. Ayuna, apakah kamu sedang menghukumku? Bahkan berbicara denganmu saja aku harus membatasinya? Batasan macam apa ini? Aku merasa jika ini bukanlah solusi untuk masalah kami, yang ada aku merasa sangat dirugikan.
"Ayuna, aku tahu kamu marah. Tapi apa harus kayak gini? Apa ini nggak berlebihan?" Tanyaku sebagai bentuk protes juga penolakan.
Jelas sekali aku menolak. Menolak batasan-batasan yang Ayuna buat. Ini sangat tidak masuk akal menurutku. Bahkan merugikan.
"Nggak ada yang berlebihan, Danu. Sikap kamu sendiri yang bikin aku membuat batasan ini! Kamu layak diginiin!"
Ayuna pergi begitu saja dengan mendorong kursi sedikit keras dan meninggalkanku.
Aku sangat merasa bersalah padanya. Tapi, Ayuna, bukan ini yang aku mau. Mengapa kamu membuat diriku harus menjauh darimu, setelah rasa ingin mendekatimu tengah meronta-ronta di dalam jiwaku?
__ADS_1
Semua gara-gara Maharani. Mengapa dia muncul di saat yang tidak tepat. Setelah sekian lama dia menghilang dari mimpiku, kini dia kembali lagi. Apa yang diinginkan olehnya? Bahkan aku sudah hampir melupakannya.
Maharani, sepertinya kamu membuat masalah dengan Ayuna.