Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Ada aku di sini 3


__ADS_3

Pov. Danu Narendra


Pagi-pagi buta aku telah melajukan mobil menuju rumah Bu Siti untuk menjemput Ayuna. Jujur saja, semalaman aku pun tak bisa tidur karena hanya memikirkan keadaan Ayuna. Takut terjadi sesuatu lagi padanya.


"Mas, Danu?" Bu Siti terkejut melihatku sudah berkunjung sepagi ini.


Kemudian Bu Siti segera mempersilahkan aku masuk ke dalam rumahnya, "silahkan masuk, Mas,"


"Terimakasih, Bu." Ucapku.


"Mba Ayuna lagi mandi, Mas mau saya buatin minum??"


"Nggak usah, Bu. Saya udah sarapan tadi," tolakku.


"Oh, ya sudah saya ke dapur dulu, Mas." Pamitnya.


Ku tatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul enam lewat lima menit, waktu yang terbilang cukup untuk pergi ke kantor. Sayangnya, mobilku tidak bisa masuk sampai rumah Bu Siti karena jalan yang terlampau sempit. Hingga Mobilku pun ku parkirkan di gang depan.


"Danu??"


Keterkejutan Ayuna pun menjadikan lamunanku buyar. "Yuna,"


"Ngapain?" Tanya Yuna heran.


"Aku nungguin kamu!" Jawabku cepat.


"Udah siap??" Tanyaku ketika melihat Yuna sudah berpenampilan rapih.


"Danu, kamu nggak perlu ngelakuin hal kayak gini,"


"Setelah kamu bener-bener aman, aku bakal biarin kamu pergi sendiri."


Mungkin Yuna tak ingin lagi berdebat denganku. Kami pun berangkat ke kantor bersama. Tetapi Yuna memang keras kepala, karena saat di depan halte dia memintaku untuk menghentikan laju mobil.


"Aku turun di sini, Danu!"


"Lah, udah nanggung, Yuna." Aku masih melajukan mobil perlahan.


"Danu, apa kata orang-orang kantor kalo lihat kita bareng?"


Aku hanya berdecak kesal, "Memangnya kenapa kalo kita berangkat atau pulang bareng?? Toh, kita juga berada dalam satu ruangan kerja,"


"Danu, tolong. Aku nggak mau nimbulin fitnah," Yuna masih bersikeras menolak.


"Fitnah apa??" Aku sungguh penasaran.


"Danu berhenti!!!"


Jika sudah begini, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Yuna memang keras kepala. Karena ini sudah dekat dengan kantor dan orang-orang yang berlalu lalang pun ramai. Aku membiarkan Yuna keluar dari mobil.


"Nanti kita pulang bareng lagi. Aku tunggu di sini!!!" Teriakku. Aku yakin Yuna mendengar ucapanku barusan.


Tak lama, aku pun langsung masuk ke dalam ruang kerja setelah memarkirkan mobil. Ternyata Yuna sudah ada di dalam.


"Selamat datang kembali, Danu, Yuna!!!" Sapa Gita penuh semangat.


"Gimana nih, liburannya?? Seru 'kan??" lanjut Gita.


"Kerja sambil liburan, kapan ya aku kayak Mba Yuna??" Sambung Syifa dengan senyum bahagia.


Aku hanya mengangguk, sementara Yuna masih diam menjadi batu. Yang dia lakukan pun hanya menatap layar komputer yang sudah tiga hari tak ia sentuh. Mungkin ia begitu merindukannya.

__ADS_1


"Yuna," panggil Satria.


"Hey, Sat,"


"Ke ruangan Pak Robert, sekarang!" Perintah Satria.


"Danu, juga??" Tanya Yuna.


Satria hanya mengangguk. Sepertinya dia masih memiliki dendam tersembunyi denganku. Mungkin dia masih takut kalah saing.


Aku dan Yuna pun menuju ke ruangan Pak Robert. Tiba di ruangan Pak Robert, kami pun duduk pada meja yang sama.


"Yuna, Danu, terimakasih atas kerja keras kalian." Sapa Pak Robert ramah.


"Kalian berdua sangat membantuku, sekali lagi terimakasih." Lanjutnya.


"Satria, berikan bonus untuk Danu dan Yuna," ucap Pak Robert.


"Baik, Pak." Satria menjawab cepat.


"Pak, karena tugas saya sudah selesai. Saya ingin ..."


"Tunggu Yuna, masih ada tugas yang nggak kalah penting buat kamu." Potong Pak Robert.


"Tapi Pak, bukannya tempo hari bapak sudah izinkan saya jika ..."


"Yuna, tolong jangan menolak. Akhir-akhir ini saya sedang banyak masalah. Tolong bantu saya,"


Semua ucapan Yuna yang belum selesai pun terus disela oleh Pak Robert. Tak ada lagi yang bisa Yuna katakan selain menuruti permintaan Boss Killer itu.


"Danu, Satria, kalian bisa kembali ke ruangan masing-masing."


Aku dan Satria saling bertatap. Apalagi yang ingin Pak Robert katakan dengan Ayuna. Pak Robert sangat mencurigakan. Kami pun meninggalkan Yuna dan Pak Robert berdua.


"Masih sama Pak Robert!" Jawabku.


"Ini ada oleh-oleh dari Bogor, dimakan, ya!" Aku menaruh beberapa bungkusan kue dan camilan ke atas Meja Gita dan Syifa.


"Wah, makasih Danu!" Jawab Syifa.


"Danu, gimana di sana? Apa Yuna cerita sesuatu?" Gita berbicara sedikit berbisik kepadaku. Sembari mata yang melirik kesana-kemari. Takut akan kehadiran Yuna.


Aku merasa tengah diselidiki oleh Gita, "Yuna mana mau cerita sama aku. Ngomong aja jarang!"


"Masa sih?? Nggak percaya deh! Kalian 'kan tinggal di satu Villa yang sama??" Gita masih merasa penasaran.


"Kami tinggal dalam satu Villa, bukan berarti kami tinggal satu kamar." Jawabku.


"Ish!" Gita langsung beranjak dan kembali menuju ke kursi kerjanya.


"Kamu udah tau belum, Fa?" ucap Gita sedikit berbisik pada Syifa.


"Belum, Mba," jawab Syifa.


"Katanya Si Bagus di penjara!"


"Apaaa??!!" Teriak Syifa.


"Sssttt!!!"


Hingga teriakannya itu pun memekikkan telingaku. Aku bisa mendengar apa yang Gita katakan. Sbenenarnya siapa Bagus?? Jika tidak salah, kedua preman yang semalam juga menyebutkan nama Bagus kepada Yuna.

__ADS_1


"Ya ampun, kasihan ya, Mba Yuna!" Ucap Syifa.


"Apanya yang kasihan, Fa??"


Ternyata orang yang sedang dibicarakan pun datang tiba-tiba. Mengejutkan Gita dan Syifa.


"Eh, Mba Yuna. Anu ..." Syifa hanya menggaruk tengkuk. Tak bisa melanjutkan perkataannya.


"Kamu pasti capek, Yuna. Abis perjalanan dinas ke Bogor!" Sambung Gita.


Sebenarnya Gita dan Syifa ini teman Yuna atau bukan? Mengapa mereka membicarakan Yuna saat dirinya tak ada. Aku heran, pertemanan macam apa ini? Mengapa Gita tidak jujur saja pada Yuna?


"Mba, makasih ya oleh-olehnya," ucap Syifa mengalihkan pembicaraan.


"Iya, sering-sering dinas luar, Yuna. Biar kita kebagian oleh-olehnya." Sambung Gita.


"Pak Robert bahas apa lagi??" Tanyaku dengan suara kecil pada Yuna.


Yuna pun duduk dengan Tarikan nafas panjang, "Ngajak aku nemenin dia ke pesta rekan kerjanya,"


"Heuh! Nge-date?" Tanyaku dengan perasaan sedikit ngilu di hati.


"Danu???" Yuna menatapku dengan mata yang membola.


"Lah, apa namanya kalo bukan Nge-date? Cuma berdua 'kan??"


Yuna tak menanggapi perkataanku lagi. Ia pun memilih diam melanjutkan pekerjaannya. Memasang earphone Bluetooth pada kedua telinganya. Sepertinya sekarang ia memang tak ingin di ganggu.


Waktu terus berjalan, hingga waktu pulang pun sudah tiba. Aku segera merapihkan meja kerja dan melirik ke arah Yuna yang masih asyik dengan keyboardnya.


"Sssst!" panggilku dengan kode pada Yuna.


"Yuna, Danu, kita pulang duluan Ya...." Ucap Gita.


"Bye ..." Yuna pun melambaikan tangannya kearah Gita dan Syifa.


"Bye, Mba Yuna!" Sapa Syifa.


Setelah mereka berdua keluar, aku pun kembali berbicara dengan Yuna.


"Yuna, aku tungguin di halte, ya?"


Namun Yuna tak menanggapi ucapanku.


"Yuna, ssst!!!!"


Oh, aku baru sadar. Ternyata kedua telinga Yuna masih disumpal oleh earphone.


Aku beranjak dari kursi kerja, menghampiri Yuna dan berdiri dibelakangnya. Meniup tengkuk lehernya dan melepas kedua earphone dari telinganya, "Yuna."


"Danu!!!" Yuna menoleh kebelakang. Memegangi tengkuk lehernya yang mungkin terasa meremang akibat tiupanku tadi.


"Danu, ini di kantor!!!" Mata Yuna kembali membola.


"Oh, jadi kalo diluar kantor nggak apa-apa??"


"Danu!!!" Yuna menjentikkan jarinya pada keningku.


Aku meringis kesakitan, "Sakit, Yuna!"


"Aku tungguin kamu di halte," ucapku dengan senyuman. Kemudian mengambil tas dan segera berjalan menuju keluar.

__ADS_1


"Nggak usah nungguin aku. Aku pulang bareng Pak Robert!"


__ADS_2