
Sore hari sepulang kerja, Seraphina sudah berada di taman. Tempat dia janjian dengan teman teman nya. Tak lama menunggu kedua teman Sera akhirnya sampai juga.
"Sera" teriak Dewi menghampiri Sera, dan disambut pelukan oleh Seraphina. "Gue kangen banget sama loe Ser. " lanjut Dewi sambil melepaskan pelukannya.
"Gue juga kangen banget sama loe" sahut Seraphina.
"Hai, Sera apa kabar?" Tanya Reno.
"Alhamdulillah Baik Ren , Kalian berdua apa kabar?" tanya Seraphina balik.
"Kami baik" jawab Reno.
"Mending kita ngobrolnya di coffee shop sebrang sana, biar ngobrolnya lebih nyaman sekalian ngopi sore." Ajak Dewi pada kedua temannya dan langsung berangkat menuju coffee shop.
Sesampainya di coffee shop mereka menghabiskan waktu untuk bercerita kegiatan mereka hari hari sejak Sera ditugaskan di perusahaan Nugi Company. Begitupun Sera, dia menceritakan setiap kegiatan nya.
Tak terasa hati pun sudah malam. Mereka memutuskan untuk mengakhiri obrolan seru mereka dan menuju rumah masing masing.
Keesokan pagi seperti biasa, Sera menyiapkan sarapan untuk nya dan juga adiknya sebelum mereka berangkat bekerja. Sebelum mereka berangkat bekerja tiba tiba telpon Sera bergetar.
Drrrrtt...Drrrrrttt....
Sera yang melihat panggilan tersebut dari sang ayah langsung mengangkat telpon nya.
"Assalamualaikum Ayah, Ayah apa kabar, pagi pagi behini sudah telpon Sera apa ada yang penting." ucap Sera.
"Waalaikumsalam Sera, Ayah baik baik saja. Tapi tidak dengan ibu kalian?" ucap Ayah Sera dengan menahan tangisnya.
"Ayah, apa yang terjadi." tanya Sera yang masih bingung.
"Ibu mu masuk rumah sakit karena ada masalah pada jantungnya nak? ucapan sang ayah membuat Sera tak bisa berkata apapun dia hanya menangis dalam diam tak mau membuat ayahnya semakin khawatir.
"Sera, Ibumu butuh biaya yang banyak untuk melakukan operasi. Kata dokter ibu harus dibawah ke kota karena peralatan di sini tidak memadai. Ayah sangat bingung, bagaimana kita membawa ibu mu ke kota, karena ayah sama sekali tidak memiliki tabungan." ucap Ayah Sera.
"Ayah tenang saja, Sera akan mengusahakan yang terbaik untuk Ibu. Masalah biaya biar Sera yang mencari. Ayah jangan banyak fikiran nanti ayah jadi sakit, kalau ayah sakit siapa yang akan menjaga ibu." Ucap Sera membuat Ayahnya lebih tenang.
__ADS_1
Setelah Telpon terputus, Desi memeluk sang kakak karena dia merasa sedih dengan apa yang sedang dialami keluarga nya saat ini. Sera berusaha menjadi gadis yang kuat dan tegar dihadapan sang adik. Sera berusaha menenangkan sang adik. Dan Sera Meyakinkan bahwa semua akan baik baik saja. meskipun di di hatinya juga merasa sedih, dan bingung harus mencari biaya kemana lagi.
Setelah keduanya tenang, mereka bergegas berangkat kerja. Karena mereka berfikir Demi kesembuhan sang ibu Sera rela melakukan apapun.
Hari ini, Sera benar benar tidak fokus dengan dengan pekerjaan nya. Sera selalu kepikiran akan kondisi sang ibu yang harus segera di operasi. Pikiran Sera benar benar buntu, dia tidak tau lagi mau cari uang dimana. Sera tidak mungkin meminjam uang pada teman teman nya, karena Sera tidak mau merepotkan teman teman nya.
Disisi lain ada dua orang yang memperhatikan pekerjaan Sera tapi tidak ada yang benar sedari tadi. Malah Sera terlihat lebih banyak melamun.
" Ser, kamu kenapa kok saya perhatikan dari tadi kamu ngelamun terus dan tidak fokus pada pekerjaan kamu." Tegur Neli.
"Huh.... Gak pa apa kok Nel ." jawab Sera.
" Beneran gak apa apa, kamu kelihatan sedang tidak baik baik saja" Sahut lala.
" iya, beneran aku gak apa apa. Mungkin hanya kecapean saja jadi gak fokus."
"Kalau kamu capek mending istirahat aja dulu, dari pada malah sakit nanti nya." perintah Lala
"Gak usah, aku gak pa apa kok! mending lanjut kerja aja bentar lagi jam makan siang. Aku juga harus antar makanan si Bos." ucap Seraphina.
"Permisi Tuan, ini makan siang nya." UCAP Sera saat di ruang kerja Devan.
"Hmmm...Taruh saja di tempat biasa. " Perintah Devan.
"Sudah Tuan. Saya permisi dulu "
" Sera tunggu, bisa kamu temani saya makan siang seperti biasa."
"Baik Tuan."
Mereka berdua berjalan menuju sofa untuk makan siang. Selama makan siang berlangsung sesekali Devan melihat ke arah Sera yang kelihatan murung. karena Devan merasa ada sesuatu yang aneh pada Sera, Devan memberanikan diri menegur Sera.
"Sera." Panggil Devan.
"Iya Tuan." Sera tersentak kaget dari lamunannya
__ADS_1
"Kamu melamun dari tadi."
"Maaf Tuan."
"Kamu ada masalah atau ada yang sedang kamu pikirkan ?" Tanya Devan tapi Sera hanya diam tidak menjawab.
"Sorry, bukan maksud saya ingin ikut campur masalah pribadi kamu." ucap Devan lagi.
"hmmm... tidak apa apa Tuan, mungkin ini memang salah saya yang tidak bisa profesional dan membawa masalah pribadi ketempat kerja."
" Kalau kamu berkenan kamu bisa cerita sama saya, kalau tidak juga tidak apa apa. yang jelas saya tidak mau kamu membawa masalah kamu ke tempat kerja. karena dapat berpengaruh pada kinerja kamu." Tegas Devan.
"Maaf Tuan." Sera sudah tidak bisa menahan air mata nya, dia mencoba kuat dan tegar, apalah daya air mata itu pun terjatuh juga.
"Hiks .... hiks....."
"Kamu menangis" tanya Devan sambil mengangkat dagu Sera.
"Menangis lah jika bisa mengurangi sesak di dada mu," ucap Devan. "Cerita lah, mungkin saya bisa membantu kamu dan mungkin itu bisa mengurangi beban kamu." lanjut Devan.
Sera menumpahkan seluruh air matanya. karena iba melihat Sera yang menangis Devan menarik tubuh Sera kedalam pelukannya untuk menenangkan Sera. Saat memeluk Sera Jantung Devan berpaju kencang tidak seperti biasanya. Devan bingung sendiri dengan apa yang terjadi pada jantungnya.
"Ada apa dengan jantung ku Tuhan. Apa aku sudah benar benar jatuh cinta pada wanita ini. Tapi tidak mungkin karena hatiku hanya untuk Airin.'' gumam Devan dalam hati.
Ketika dirasa Sera lebih tenang. Devan melepaskan pelukannya. Merasa nyaman dan lebih baik, akhirnya Sera menceritakan semua masalahnya pada Devan.
"Aku akan membantu mu membiayai pengobatan ibu kamu." Sera langsung melihat ke arah Devan tidak percaya.
"Tapi ada syaratnya." lanjut Devan.
"Apapun syarat nya saya akan terima asalkan ibu saya bisa di operasi dan bisa sembuh" tanpa pikir panjang Sera menerima syarat dari Devan.
"Kamu harus bersedia menikah Dengan saya. Apa kamu setuju." Ucap Devan dan Sera membulatkan matanya melihat Devan.
"Apa anda serius Tuan, saya hanya pelayan rendah apa saya pantas menikah dengan anda seorang pemilik perusahaan." tanya Sera.
__ADS_1
"Saya serius, apa kamu bisa memenuhi syarat saya. jika bisa, sekarang juga saya akan menyuruh Rendi mengurus seluruh biaya dan perawatan yang dibutuhkan ibu kamu."