
Tak terasa, kini kandungan Sera telah memasuki usia 7 bulan, begitupun dengan Airin. usia kandungannya hampir sama dengan Sera.
Sera masih tinggal di rumah kedua orangtuanya. dan Devan karena kesibukannya. terpaksa harus meninggalkan istrinya tinggal di sana dan hanya pada akhir pekan ia akan mengunjungi istrinya.
Disisi lain, Airin juga masih berada di rumah orang tua Devan sesuai dengan perjanjian di awal. Bahkan Airin tak pernah keluar rumah itu, selain untuk pergi ke rumah sakit memeriksakan kandungannya.
Beberapa bulan yang lalu, kondisi kehamilan Airin terjadi sedikit masalah yang mengharuskan ia untuk beristirahat dan tidak memikirkan sesuatu yang akan menimbulkan stres.
Devan, selaku ayah dari janin yang dikandung Airin. selalu memantau keadaan calon anaknya meskipun secara tidak langsung. Dia hanya akan meminta data dari Rendi. Dan Airin tak pernah mempermasalahkan hal tersebut. dalam hatinya kini cukup Devan dan keluarganya mau memaafkan dan merawat anak nya kelak itu sudah cukup.
Tapi berbeda dengan hari ini, entah ini permintaan sang jabang bayi atau apa. Airin benar benar merasa ingin bertemu dengan Devan. dia sudah mencoba untung menekan egonya. tapi apalah daya, semakin ia menekan keinginan nya itu, semakin kuat pula rasa ingin bertemu Devan dalam hatinya.
Tak mau sesuatu hal buruk terjadi, Airin melangkahkan kakinya menemui ibu Devan yang sedang berada di ruang keluarga.
"Tante." panggil Airin.
"Iya, ada apa" tanya ibu Devan.
"Ai, bisa minta tolong."
"kenapa, kau butuh sesuatu. katakanlah jika ada yang kau butuhkan." jawab ibu Devan. meski ia sedikit ketus kepada Airin karena rasa kecewanya. tapi tak luput ia pun masih menyayangi Airin layaknya putrinya sendiri.
"hmmm... itu."
"katakan lah"
"entah kenapa, rasanya hari ini anak Airin pengen sekali ketemu ayahnya." ucapnya sambil menunduk kan pandangannya dan mengelus perutnya yang sudah membuncit.
"huftt..." ibu Devan membuang kasar nafasnya.
"Maaf, jika keinginan Airin keterlaluan."
" sudah lah, jangan bersedih. Tante akan coba hubungi Devan. semoga dia mengerti dan bersedia datang kemari."
*****
Di tempat lain, Devan sedang menemani Sera untuk melakukan cek kehamilan.
Setelah selesai mereka segera pulang ke rumah, dalam perjalanan tiba tiba terdengar dering ponsel dari ponsel Devan.
Drrrttt...Drrrrttt...
"Mas, telpon kamu bunyi. "
" tolong, kamu angkatin dulu yang" ujar Devan.
" Ini dari ibu, emang gak apa apa kalau aku yang angkat ."
__ADS_1
"Gak apa apa sayang, akat aja!" titah Devan.
kemudian Sera segera menggeser gambar warna hijau pada layar telpon Devan.
" Halo, Assalamualaikum" jawab Sera
" Wa'alaikumsalam, Sera, mana Devan, saya mau bicara sama Devan. " ucap ibu Devan.
" Mas Devan nya lagi nyetir bu. Aku loud speaker aja ya, biar mas Devan bisa denger apa yang ibu katakan."
" iya Sudah."
" Halo Bu, ini Devan. ibu mau bicara apa? Devan lagi nyetir ini." ujar Devan.
" Hmmmm... itu. si Airin katanya ngidam pengen ketemu kamu. "
" Emang gak bisa ibu bujuk, ini Devan masih di kampung Sera."
" Jangan gitu Devan. walau bagaimana pun. anak itu juga anak kamu, kamu harus adil atara keduanya. kamu jangan egois."
" oke, setelah Devan antar Sera pulang, Devan ke rumah ibu."
setelah mengatakan itu, Devan langsung mematikan sambungan telpon nya.
Sera melihat ke arah Devan, nampak wajah Devan sedikit murung. Sera memegang tangan Devan.
"Mas" panggil Sera.
"Jangan gitu, bagaimana pun, anak yang dikandung mbak Airin itu anak kamu. berarti dia juga anak aku mas. kamu harus adil dan jangan pilih kasih."
mendengar ucapan Sera, Devan segera menepikan mobil nya.
" ada apa mas kok berhenti, kita kan belum sampai." tanya Sera sedikit Heran.
" Maaf" Sebuah kata yang terlontar dari mulut Devan.
" Kenapa minta maaf."
" semua ini karena kesalahan ku. kamu dan anak kita harus menderita dan berbagi kasih sayang ku dengan orang lain."
"Mas, jangan gitu. Dia itu anak kamu. yang artinya dia juga anak aku, meskipun dia tak terlahir dari rahim ku. Dia gak salah. dia juga gak berdosa. jadi jangan pernah bicara seperti itu lagi. dan jangan pernah kamu membedakan nya dengan anak yang aku kandung ini. sayangi mereka berdua dengan tulus. "
" maaf kan aku."
"Sudahlah mas, tak perlu minta maaf lagi. sekarang kita pulang. dan kamu bisa segera ke rumah ibu, nemuin mbak Airin. kasihan dia mas, orang ngidam itu harus dituruti selagi dalam hal yang wajar, jika tidak dia akan merasa sedih, dan akan berpengaruh pada janinnya."
"Kamu gak apa apa, aku tinggal nemuin Airin."
__ADS_1
"Ya Allah mas, aku gak apa apa."
"Ya sudah, aku antar kamu pulang, habis itu aku langsung balik ke rumah ibu. kamu jaga diri dan calon anak kita. jangan terlalu capek atau memikirkan hal yang bisa membuat stres." ucap Devan, kemudian melajukan kendaraannya ke rumah Sera.
Dalam perjalanan ke rumah Devan melihat kearah Sera yang tengah memejamkan mata. Devan berpikir bahwa Sera tertidur karena lelah.
Devan mengusap pipi Sera seraya berkata, " Terbuat dari apa hati kamu sayang, kenapa Hati kamu begitu baik Sera. Bahkan dengan mudah kamu mengatakan bahwa dia juga anak kamu. Maaf kan aku, karena kesalahan ku kamu dan anak kita harus menderita. Aku tak bisa berjanji atau apapun, tapi aku akan berusaha untuk membahagiakan kalian."
Sera mendengar semua perkataan suaminya, karena sebenarnya dia tak tidur dia hanya memejamkan mata untuk menetralkan suasana hatinya. meskipun ia bisa berkata begitu mudah, tapi sebagai seorang wanita, dia juga merasakan sakit pada hatinya ketika berbicara seperti itu.
Setelah mengantar Sera sampai rumah, Devan segera berpamitan pergi ke rumah ibu nya.
karena, jalanan yang macet, Devan baru sampai rumah ibunya ketika hari sudah gelap.
"Assalamualaikum" ucap Devan ketika memasuki rumahnya
"Wa'alaikumsalam, masuk dulu nak."
" ibu, apa kabar. maaf Devan baru sempat ke sini."
"ibu baik nak, gimana kabar kamu sama Sera."
"Devan baik, Sera dan calon anak kami pun dalam keadaan baik bu"
"Alhamdulillah, ibu seneng dengernya."
"Dimana Airin bu, kata ibu tadi dia mau ketemu Devan. "
" Dia dikamar lagi istirahat, dari tadi nampak gelisah. nunggu kamu datang tapi gak kunjung datang."
"maaf bu, tadi jalan begitu macet jadi agak malem baru sampai."
"Ya sudah, Ibu panggil kan dulu Airin." kemudian beranjak pergi ke kamar Airin.
Tok...tok...tok...
"Ai, "
"Iya Bu " terdengar suara Airin dari dalam kamar.
"Kamu sudah tidur nak"
"Airin Belum tidur bu "
"ibu masuk boleh"
"masuk aja bu, pintunya gak Airin kunci kok."
__ADS_1
"ceklek" suara pintu terbuka.
"Ai, kamu kenapa nak ? "