
" Kenapa Airin, kenapa kamu datang lagi mengusik hatiku. Disaat aku telah berhasil menata kembali kepingan hati yang telah kau hancurkan. Kenapa... kenapa..." gumam Devan yang sedikit frustasi.
Pikiran Devan begitu kacau. tak dipungkiri masih ada sedikit cinta dalam hati nya untuk Airin. Devan merasa begitu kesal kenapa Airin baru datang sekarang ketika ia telah memilik istti yang notabennya juga mulai ia sayangi.
Rendi yang baru saja masuk ke ruangan Devan menatap gusar pada sahabatnya itu. ada rasa iba pada diri Rendi pada sang sahabat.
"Gue tahu gimana perasaan loe sekarang. tapi jangan siksa diri loe sendiri." Ucap Rendi.
" Gue gak tahu harus gimana sekarang. Gue masih sayang sama dia. Tapi gue juga sayang sama istri gue."
" Sekarang loe tenangin diri loe dulu. mending loe pulang kasihan istri loe ini udah hampir malem. loe dari tadi hanya diam dan nglamun disini.'' ucap Rendi.
" Gue gak bisa pulang dengan kondisi yang seperti ini. gue gak mau Sera terbebani dengan masalah ini. apalagi kemarin gue baru aja nyatain rasa sayang gue ke dia. gue gak mau dia kecewa dan sakit hati karena gue."jelas Devan pada Rendi.
"Tadi setelah meeting Airin nemuin gue, dia minta nomer telpon loe." ucapan Rendi itu membuat Devan mendongak melihat ke arah nya.
"Dia bilang, dia mau jelasin segala nya sama loe." ucap Rendi lagi.
" Lalu, apa loe kasih nomer telpon gue ke dia." tanya Devan.
"Ya kagak lah, ngapain gue kasih nomer loe ke dia. Gue gak mau dia ngerusak kebahagiaan loe sekarang." jawab Rendi.
"Sebenarnya gue gak mau cerita soal ini ke loe, tapi liat keadaan loe yang kayang gini, gue mikir lebih baik loe tahu." ucap Rendi.
"Melihat loe yang kayak gini, saran gue loe temuin dia, dan menyelesaikan masalah kalian, dan jelasin status loe sekarang ke dia. mungkin dengan begitu loe akan jauh lebih tenang ngejalani kehidupan baru loe." Kelas Rendi sambil mengulurkan sebuah kertas yang berisikan nomer telpon Airin.
~ flashback on ~
Sepeninggal Devan dan Tuan Alex dari ruang meeting, tinggal lah Rendi yang masih membereskan berkas berkas di meja meeting. dan Juga Airin yang entah mengapa tidak keluar bersama Bos nya.
"Ren, bisa kita bicara." ucap Airin
__ADS_1
"Maaf nona, saya rasa semua nya sudah dijelaskan tadi saat meeting" jawab Rendi.
" Aku tidak ingin membahas soal pekerjaan. Aku ingin tahu kabar mengenai Devan." ucap Airin.
"Maaf nona, anda bisa melihat kan tadi bahwa Tuan Devan baik baik saja, bahkan sangat baik."
"Aku tau dia tak baik baik saja, aku mengenal nya cukup lama. dia tak akan bisa membohongi aku." ucap Airin.
"Apa maksud anda nona, to the points saja, apa yang anda inginkan." sarkas Rendi
" bisakah aku meminta nomer ponselnya, aku ingin bicara secara pribadi dengannya, aku ini minta maaf dan menjelaskan semua nya pada Devan." ucap Airin.
"Maaf untuk itu saya tidak bisa memberikan nya, karena itu termasuk privasi dari Bos saya. Kalau tidak ada yang perlu di bahas, silahkan tinggalkan tempat ini." ucap Devan.
"Baiklah, tapi aku akan tetap mencari tahu tentang Devan." ucap Airin." ini nomer telpon ku jika Bos mu merindukan ku dia bisa menghubungi ku." Pamit Airin Sembari meletakkan sebuah kertas berisikan nomer telpon nya di atas meja meeting.
~flashback of~
Rendi menyerahkan sebuah kertas pada Devan. dan pergi meninggal kan Devan sendiri. yang masih berkutat dengan pikiran dan kehidupan masa lalu nya.
Sera benar benar khawatir, diputuskan nya untuk menelpon Rendi, mungkin saja Devan sedang bersama Rendi.
Saat Sera mulai mencari nomer telpon Rendi. terdengar suara pintu terbuka.
Cklek...
Dilihatnya Devan baru saja pulang. Tapi ada yang aneh pada diri Devan. penampilan nya acak acak an, Devan berjalan gontai menuju kamarnya. tak dihiraukan nya Sera yang sedang berdiri menunggunya di ruang tamu.
"Kenapa dengan tuan Devan, apa aku membuat kesalahan sehingga dia tak melihatku disini.'" Gumam Sera dalam hati dengan perasaan bingung.
Sera memutuskan untuk mengikuti Devan. didalam kamar dilihatnya Devan duduk termenung di sisi ranjang.
__ADS_1
"Tuan, anda nampak sangat lelah, biar saya siapkan air panas untuk anda mandi." Devan tak merespon dan Sera berjalan ke arah kamar mandi.
"Tuan, air panas nya sudah siap." ucap Sera setelah menyiapkan air panas untuk Devan. Tapi Devan tak merespon Sera sedikit pun.
Sera duduk di sebelah Devan dan memegang bahu Devan Sembari berkata "Tuan, anda tidak apa apa. saya perhatikan dari tadi anda tidak mendengarkan atau pun merespon ucapan saya."
Devan menangkis tangan Sera dengan kasar.
"lepaskan tanganmu itu, dan pergilah dari sini. jangan pernah kau mengganggu ku." Teriak Devan pada Sera.
Sera yang merasa tak tahu apapun hanya bisa berdiri mematung melihat perlakuan Devan yang tiba tiba kasar kepadanya.
"Keluar dari sini." Teriak Devan pada Sera. Membuat Sera tak bisa membendung air mata nya dan memutuskan keluar dari kamar.
"Bruak.." Sera menutup pintu kamar dengan kasar. dan berlari menuju ruang tamu.
"Ah.... kenapa aku harus kasar pada nya, tidak salah apapun bahkan dia tidak tahu apa apa." ucap Devan pada dirinya sendiri.
"Kau b*doh Devan, kau memang orang yang egois. Bisa bisa nya kau lampiaskan kekesalan mu pada Gadis itu, gadis yang tak tahu apapun tentang masalahmu." lanjutnya lagi.
"Baiklah kau harus minta maaf padanya." Devan memutuskan keluar mencari Sera. karena rasa bersalah nya diputuskan nya untuk minta maaf pada Sera.
*Di ruang tamu dilihatnya Sera duduk di sofa sembari menangis sesenggukan. Devan menghampiri Sera duduk di sebelah nya dan langsung memeluk Sera.
"Maafkan aku sayang, aku tak bermaksud membentak mu. aku hanya sedikit pusing dengan pekerjaan ku. tak seharusnya aku melampiaskan nya padamu." Jelas Devan yang masih memeluk Sera. tak ada perlawanan atau pun respon dari Sera.
"Apa kau masih marah kepada ku Sayang. aku sungguh minta maaf." Ucap Devan sambil melepaskan pelukan nya dan memandang wajah Sera.
" Aku benar benar menyesak. maafkan aku Sera." Sera memandang mata Devan mencari ketulusan. Dan setelah merasa permintaan maaf itu tulus Sera mengangguk kecil.
Devan kembali menarik Sera dalam pelukannya dan mengecup lembut pucuk kepala Sera.
__ADS_1
"Tolong jangan pernah membentak ku atau melampiaskan kekesalan mu pada ku. Kau bisa menceritakan atau membicarakan masalah mu dengan ku. jika aku bisa membantu aku akan membantu mu. Karena Aku adalah istrimu, aku akan selalu ada untuk mu Tuan." Lirih Sera dalam pelukan Devan.
"Hmmm... Aku mencintaimu sayang." ucap Devan mengecup bibir Sera.