Seraphina

Seraphina
Epson 45


__ADS_3

"Kak, apa makanan nya masih ada. Aku ingin membawanya pulang untuk ibu ku. dia belum makan dari kemarin. karena aku gak bawa uang pulang. dan Sekarang ibu di rumah sedang sakit." mendengar nya, Hati Devan terasa teriris teringat ibunya yang ada di rumah.


"Masih, tentu saja kamu boleh ambil untuk ibu kamu." Ucap Devan sambil menyodorkan bungkusan pada anak itu.


"Terimakasih Kak." ucap anak laki laki itu kemudian mengambil bungkusan itu dan berlari meninggalkan Devan.


Sebelum anak itu berlari jauh Devan segera memanggilnya untuk menghentikan langkahnya.


"Dek, tunggu."


"Iya kak, ada apa?" tanya anak itu.


"Dimana ibu mu, apa kakak boleh bertemu." tanya Devan.


"Ibu, di rumah kardus yang di ujung jalan sana kak. tentu saja kakak boleh bertemu ibu. pasti ibu senang melihat kakak berdua yang berhati baik." ucap anak itu.


"Kalau kakak mau ketemu ibu. mari ikut aku." ucapnya lanjut. Devan mengangguk kemudian mengikuti Langkah anak itu dan diikuti Rendi juga disebelah nya .


Mereka berjalan menyusuri jalanan yang kumuh. banyak sampah kardus dan barang rongsokan. belum lagi sampah sampah yang berserakan. menambah bau yang sangat menyengat.


Setelah berjalan kurang lebih 10 menit. mereka nampak di sebuah bangunan kecil berukurang 2×2 meter yang hanya terbuat dari kardus. Beratap dan berlantaikan kardus juga.


Nampak Seorang ibu paruh baya yang sedang berbaring di atas setumpuk kardus dan berselimutkan Kain sarung yang sudah lusuh.


Devan dan Rendi tertegun melihat pemandangan yang berada di depan mereka. Mereka berdua di buat tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"*Bagaimana mereka bisa hidup di tempat seperti ini." batin Rendi.


"Ya Allah, kasihan sekali mereka. Bagaimana mereka bisa melalui hari hari mereka di tempat seperti ini." Batin Devan*.


Rendi dan Devan sama sama masih dalam pikiran mereka masing masing. sampai akhirnya sebuah teriakan menyadarkan mereka.


"Buk, ibuk bangun buk. Abang bawa makanan untuk ibuk." teriak anak laki laki itu.


"Dek, apa yang terjadi dek?" tanya Devan.


"Ibu, dari tadi tidak mau membuka mata kak"


"Kita bawa ibu kamu ke rumah sakit ya!" ucap Devan.


"Tapi aku gak punya uang kak."


"Tidak usah dipikirkan. yang terpenting ibu adek bisa sembuh ya" Anak itu mengiyakan ucapan Devan. Tanpa menunggu lama lagi Devan dan Rendi membantu anak itu untuk membawa ke rumah sakit.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Ibu tersebut di bawa ke UGD untuk mendapatkan perawatan. Mereka semua nampak gusar menunggu kabar dari dokter.


Sudah hampir 30 menit mereka menunggu, namun belum ada tanda tanda dokter yang keluar dari ruangan itu membuat mereka semakin khawatir.


Devan melihat anak laki laki di sebelahnya sedang termenung dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Devan mengusap punggung anak tersebut.


"Dek, kamu tenang saja dan berdoa lah. ibumu pasti baik baik saja." ucap Devan.


"Iya kak."


"Nama kakak Devan, dan dia Rendi Teman kakak" sambil melihat ke arah Rendi yang tengah berdiri.


" saya, Andre kak. ibu Saya namanya Ibu Dewi."


Ketika terjadi sebuah obrolan ringan tiba tiba dokter menghampiri mereka.


" Permisi, apa disini ada yang namanya Andre."


"Saya Dok, saya Andre anaknya." ucap Andre menjawab pertanyaan Dokter.


"Ibu anda sudah sadar, beliau baik baik saja. beliau hanya mengalami kelelahan dan tensi darahnya cukup Rendah."


"Silahkan, tapi usahakan beliau istirahat cukup, oh ya satu lagi. saya meskipun beliau sudah baik baik saya. saya menyarankan untuk dirawat disini selama 2 sampai 3 hari dulu. untuk memantau dan agar beliau cepat pulih." saran dokter.


" Lakukan apa yang terbaik dok." ucap Devan.


"Kak, apa tidak dibawa pulang saja. Andre tak punya uang untuk membayar biaya perawatan ibu" ucap Andre.


"Kamu jangan khawatir, untuk biaya biar kakak yang bayar. kamu cukup jaga ibu, dan berdoa agar ibu cepet sehat." Andre mendengar itu langsung memeluk Devan dan mengucapkan kata Terima kasih.


Sejak saat itu, Andre menganggap Devan dan Rendi sebagai sosok yang berjasa untuknya dan sang ibu. Andre berjanji dalam hatinya bahwa dia akan membalas setiap kebaikan Devan dan Rendi.


Setelah beberapa hari, ibu Dewi sudah boleh di bawa pulang. Devan dan Rendi ikut mengantar Andre dan ibu Dewi.


Tapi Andre dibuat terkejut. Devan dan Rendi tak mengantar mereka ke rumah kardus yang dulu. Devan dan Rendi membawa mereka ke sebuah rumah kontrakan yang sederhana.


Di rumah itu, sudah nampak beberapa teman Andre di jalanan menunggu kedatangan mereka.


"Kak, kenapa kita kesini" Tanya Andre yang bingung.


"Kamu dan ibu, dan teman teman kamu yang lainnya. akan tinggal di sini." jawab Rendi.

__ADS_1


"Iya, kalian akan tinggal disini." lanjut Devan mempertegas ucapan Rendi.


"Terima kasih kak." ucap Andre. " Kalian berdua sangat baik kepada kami. apa yang harus kami lakukan untuk membalas semua kebaikan kalian." ucap Andre Devan dan Rendi hanya tersenyum.


" sudah, ayo masuk kasian ibu, dari tadi berdiri. pasti capek."


Ketika didalam rumah. mereka semua berkumpul di ruang tamu.


"Maaf, kami hanya bisa menyewa rumah sederhana ini untuk tempat tinggal kalian" ucap Rendi.


"Tidak apa apa kak, kami sangat bersyukur kami dapat tempat tinggal yang lebih layak dari sebelumnya."ucap Adit salah satu teman Andre.


" ini sudah lebih dari cukup untuk kami semua kak" kata Didit lalu semua nya mengiyakan.


" kalian tidak usah memikirkan uang sewa nya, rumah ini sudah kakak sewa untuk 2 tahun ke depan. dan satu hal lagi. kakak ada ini untuk modal kalian usaha kelontong kecil kecil an."


"Terima kasih kak." ucap semuanya berbarengan.


Sejak saat itu, mereka semua selalu ada dan saling membantu ketika membutuhkan.


Flashback of.


*****


Di sebuah taman terlihat Airin yang sedang berbincang dengan dua orang pria memakai jaket hitam dengan tubuh kekar dan wajah garangnya.


" ini, bonus untuk kalian.". ucap Airin menyodorkan amplop coklat kepada dua laki laki itu.


"Thanks Bos, lain kali hubungi kami lagi jika ada pekerjaan baru." ucap preman itu lalu pergi meninggalkan Airin sendirian.


Airin nampak begitu senang setelah mendengar berita dari orang suruhannya.


" Akhirnya, gue bisa nyingkirin loe Sera. Gue akan miliki Devan Sepenuhnya."


Tanpa ia sadari ada seseorang yang telah merekam semua percakapan nya.


*****


Di rumah sakit, Devan masih setia berada di samping sang istri. sudah hampir 24 jam namun Sera tak kunjung membuka matanya.


Devan merasa ada seseorang yang menepuk bahunya. Devan melihat sekilas ke arah orang itu.


"Dev, gue udah tahu dalang di balik semua yang menimpa rumah tangga loe dan Sera."

__ADS_1


__ADS_2