
"CUKUP" bentak Devan lalu berdiri dari posisi duduknya.
"Cukup, Ai.untuk apa lagi kamu menemui istriku. tidak puas kah, kamu menyakitinya."
" Dev, aku bener bener minta maaf. aku menyesal dengan semua perbuatan ku. aku hanya ingin minta maaf sama Sera." Airin sedikit memberi jeda pada ucapannya.
" Dev, aku tahu kesalahan ku kali ini tak dapat kamu maafkan. tapi setidaknya ijinkan aku bertemu Sera. aku mau minta maaf. setelah itu aku tak akan menemui atau pun mengganggu kalian lagi." Devan hanya diam mendengar ucapan Airin.
"aku akan pergi dari kehidupan kalian setelah anak ini lahir dan menyerahkan nya kepadamu. tolong beri kehidupan yang layak pada anak mu ini,beri lah kasih sayang sepenuhnya dan jangan bedakan antara dia dan anak anak mu yang lain." Mendengar penjelasan Airin akhir Devan luluh dan mengijinkan Airin bertemu Sera.
Kini mereka berada didepan pintu ruang rawat Sera.
" Masuk lah, Kamu bisa menemui nya. " Airin berjalan membuka pintu ruang rawat Sera. dan betapa terkejutnya dia melihat kondisi Sera yang dipenuhi alat bantu.
"Ya Allah, apa yang telah ku perbuat pada wanita di depanku ini" gumam Airin dalam hati. " Ya Allah ampuni aku." tak terasa air mata Airin pun luruh dalam penyesalan dan kesedihan melihat kondisi Sera.
Devan berjalan mendahului Airin yang masih diam dalam pemikirannya, Devan mendekat ke arah Sera. dan berbisik pada telinganya.
"Sayang, ada yang ingin berbicara sama kamu." Sekilas Devan melihat ke arah Airin. dan berkata.
"Kemarilah, dan cepat katakan tujuan mu kesini untuk apa lalu pergilah. "
Airin pun tersentak dari lamunannya dan berjalan mendekat kearah Sera.
Airin tak kuasa lagi membendung air mata nya.
"Sera, a..aku minta maaf. hiks..hiks.."
" Aku mohon, maaf kan kesalahan ku. Devan tak sepenuhnya bersalah dalam hal ini. Aku yang telah menjebak dia sehingga aku Hamil. tapi aku berjanji setelah anak ini lahir aku akan pergi jauh dari kehidupan kalian. aku tak akan mengganggu kehidupan kalian lagi."
"Sera, maafkan aku.hiks...hiks... aku tahu kesalahan ku ini begitu besar. tapi tolong maafkan aku."
ditengah tangis dan penjelasan Airin, tiba tiba air mata Sera keluar dengan sendirinya. dan itu semua tak luput dari perhatian Devan.
Devan segera berlari memanggil dokter. Dokter pun memeriksa keadaan Sera.
Tak lama dokter pun keluar dan menjelaskan keadaan Sera.
"Nona Sera, telah melewati masa kritisnya, dan sekarang kita hanya menunggu untuk dia sadar saja." penjelasan sang Dokter yang sedikit membuat kelegaan didalam hati Devan.
__ADS_1
"Terima kasih dok."
"Kalau begitu saya permisi jika ada sesuatu lagi segera panggil kami" Devan mengangguk.
Setelah kepergian sang dokter, Devan segera masuk untuk menemui Sera begitu pun dengan Airin.
"Kenapa kamu masih disini" ucap sinis Devan pada Airin.
"A..aku..."ucapan Airin langsung dipotong oleh Devan.
"Pergilah, kau sudah minta maaf kan. dan sekarang pergi. jangan munculkan dirimu dihadapan kami lagi." Devan
"Ta...tapi"
"Pergilah, aku tak mau istriku shock saat ia sadar dan melihat dirimu disini." pada Akhirnya Airin pun mengalah dan pergi dari Rumah sakit.
Sebelum Airin pergi Devan Berkata" Pergilah ke rumah mu, kemasi beberapa barang yang kau butuhkan. nanti Rendi akan menjemputmu untuk tinggal di rumah orang tua ku sampai anak ku lahir. aku tak mau terjadi hal buruk Kepda nya. jadi menurut lah. "
*****
Jam sudah menunjukkan Pukul 10 malam, namun Sera tak kunjung membuka mata.
1jam 2 jam, kondisi Sera masih sama, belum mau membuka mata. Devan merasa kan kantuk dan tertidur dengan posisi duduk di sebelah tempat tidur Sera.
Tak terasa sinar mentari pun menyapa, Sera mulai membuka mata dan melihat sekelilingnya, terlihat tembok berwarna putih, dan bau khas Rumah sakit.
Penglihatan Sera berhenti menatap kesamping nya.
Terlihat Devan tengah tidur sambil memegang tangannya. Sera memandangi dan mengelus wajah Devan.
"Wajah ini, nampak begitu lelah. maafkan aku mas karena telah merepotkan mu. tapi hati terlalu sakit bila mengingat penghiatan mu." batin Sera.
Devan merasa terganggu akan hal itu, dan perlahan membuka matanya. dan betapa senang nya ia melihat orang yang ia sayangi telah membuka matanya.
"Sayang kau sudah bangun, apa ada yang sakit, kamu butuh sesuatu" melihat kekhawatiran dimata Devan Sera meneteskan air mata nya.
"Kenapa kamu menangis? "
"Maafkan aku, jika membuatmu sakit atau tidak nyaman. aku akan pergi jika kamu menginginkannya.'' Devan segera berbalik akan meninggalkan ruang rawat Sera, karena ia merasa Sera masih marah kepadanya.
__ADS_1
Sera melihat akan hal itu, ia segera memegang tangan Devan dan menggeleng kan kepalanya
"Kenapa, sayang" Devan
"Mas, aku haus, aku mau minum." Devan mendengar akan permintaan Sera segera mengambil air dan membantu Sera untuk minum.
"Mas, jangan pergi. tetap disini. aku dan anakmu membutuhkan mu." Devan tersenyum mendengar penuturan Sera.
"Sayang, apapun untukmu." Devan segera duduk di samping Sera memeluk sang istri. berada dalam pelukan Devan membuat Sera merasa nyaman dan merasakan kantuk lagi.
"Mas, tetaplah seperti ini, aku merasa sangat nyaman. dan sekarang aku ngantuk lagi. bolehkan aku tidur lagi dalam pelukanmu." lirih Sera.
"Tidurlah jika kamu lelah dan nyaman dalam pelukanku. aku akan tetap berada di sampingmu sampai kamu bangun nanti." Sera akhirnya memejamkan matanya kembali.
*****
Dikediaman Airin, setelah dari rumah sakit kemarin Airin langsung mengemasi barang - barang miliknya. dan kini ia sedang menunggu Rendi untuk datang menjemputnya .
di tempat lain, di kantor Devan tepatnya. Rendi sedang menyelesaikan beberapa urusan sebelum ia pergi menjemput Airin di rumahnya.
Setelah semua urusan selesai tak membutuhkan waktu lama, Rendi telah sampai di rumah Airin.
"Apa kabar Ai? " ucap Rendi
"Baik Ren, lalu bagaimana kabarmu"
"Aku juga Baik, Kau sudah siap. jika sudah mari kita berangkat." perkataan Rendi diangguki oleh Airin.
mereka pun menuju ke rumah orang tua Rendi. dalam perjalanan terasa hening karena tak ada obrolan apapun diantara kedua.
Sera mencoba memecahkan keheningan diantara mereka.
"Ren, maafkan aku. atas semua kesalahanku. aku tahu kamu merasa kecewa dengan apa yang aku perbuat."
"Sudahlah, Ai. tak perlu kau bahas lagi masalah ini. aku sudah memaafkan mu. dan aku berharap kau tak akan melakukan kesalahan yang sama lagi."
"Aku berjanji tak akan melakukan hal bodoh ini lagi. "
"Apa kita masih bisa menjadi teman seperti dulu." sambil memandang kearah Rendi.
__ADS_1