
"Baiklah Devan, mungkin sekarang kita akan berteman, tapi aku akan berusaha mendapatkan hati kamu lagi. karena aku yakin di hati kamu masih ada cinta untuk ku. tunggu waktu nya aku akan menjadi milikmu dan kamu akan jadi milikku. Selamanya" ucap Airin dalam Hati nya.
Mereka melanjutkan makan nya, mereka bercengkrama tertawa bersama, melepas kerinduan dengan sesekali mengingat masa lalu mereka. Keasyikan mereka berakhir ketika telpon Devan bergetar.
Drrtt...Drttt...
"Maaf, Airin. aku angkat telpon dulu ya." Sambil mengambil handphone nya.
"hmmm...iya silahkan."
Ibu Devan : Devan, kamu kok belum sampai rumah si nak. ibu itu kangen sama kamu
Devan : Maaf bu, Devan masih ada kerjaan, 30 menit lagi Devan sampai rumah.
Ibu Devan : ya sudah, ibu tunggu kamu di rumah, kamu hayi hati di jalan.
Telepon pun berakhir.
"Maaf ya, aku harus pulang ibu menungguku di rumah." pamit Devan pada Airin.
"hmmm... iya tak masalah kok." ucap Airin.
"Tunggu Dev,"Suara Airin menghentikan langkah Devan.
"Apa aku bisa ikut sama kamu, aku rindu sama ibu. sudah lama aku tak bertemu dengan ibu." pinta Airin.
"....." Devan nampak diam berpikir sesaat.
"Ya udah kalau gak boleh juga gak pa pa kok. padahal aku sangat merindukan ibu dan ingin bertemu dengan ibu.'' ucap Airin memelas.
"ya udah boleh. ayo jalan. nanti kemaleman lagi." ucap Devan dibalas senyuman oleh Airin.
Mereka pun berjalan keluar Kafe. Rendi yang masih setia menunggu Devan melihat kepergian Devan dan Airin. langsung beranjak mengikuti Bos nya.
"Woy.... bos. kok gue ditinggal sih." teriak Rendi pada Devan.
"Apaan sih teriak teriak kayak Tarzan aja loe. Noh liat kita jadi pusat perhatian gara gara suara cempreng loe." Tunjuk Devan pada orang orang sekeliling mereka.
"Eh iya, hehehehe." ucap Rendi dengan rasa malu nya.
"Gue mau pulang ke rumah ibu, loe mau ikut apa langsung pulang." tanya Devan pada Rendi.
"Gue pulang aja, gue mau selesaiin berkas buat meeting besok pagi AL GROUP." gue duluan ya.
Rendi memilih pulang naik taksi, sedangkan Devan pergi ke rumah ibu nya dengan Airin.
*****
Seaampainya di kediaman Nugroho, Devan dan Airin disambut oleh ibunda Devan.
"Devan, ibu sangat merindukan mu sayang." ibu Devan menghampiri putranya dan memeluk sang putra.
__ADS_1
"Devan juga rindu sama ibu." ucap Devan.
"Kau sudah melupakan ibu mu ini sekarang."
"Mana mungkin Devan lupa sama ibu yang sangat Devan sayangi ini." ucap Devan pada sang ibu.
"Eits.... buktinya kamu sudah jarang main kesini. sekalinya main pasti nunggu ibu suruh datang baru kamu datang."
"Iya, iya, maafin Devan ya bu, Devan benar benar sibuk akhir akhir ini. kerjaan Devan numpuk." ucap Devan.
"Hmmm... hmmm.." suara deheman Airin membuyarkan momen kangen kangenan antara ibu dan anak.
"Eh, sampai gak liat anak orang lain disini sangking asyiknya ngobrol sama kesayangan ibu." ucap ibu Devan.
"Tidak masalah kok bu. Ibu apa kabar." ucap Airin.
"Lho kamu Airin kan? " tanya ibu Devan dengan nada terkejut.
"Iya dia Airin bu" jawab Devan.
"Kamu apa kabar sayang, kabar Tante baik." ucap mama Devan sambil memeluk Airin.
"baik tante." Jawab Airin.
"Ayo duduk nak, tante kangen sama kamu. udah lama kamu gak main kesini. tante pengen ngobrol sama kamu.'' ajak Ibu Devan.
"Airin juga kangen sama tante." jawab Airin.
"Iya, jangan lama lama. kasihan Airin kalau kamu tinggal lama." ucap ibu Devan dan hanya diangguki oleh Devan.
Sepeninggal Devan, di ruang tamu tinggal lah Airin dan ibu Devan. Mereka asyik bercerita tentang kehidupan masing- masing. Terlihat kemurungan diwajah ibu Devan ketika Airin membahas tentang pernikahan Devan.
"Maaf tante, Airin mau tanya?" tanya Airin.
"Iya, tanya aja sayang. jangan sungkan gitu."
"Tante, apa benar. kalau Devan sudah menikah."tanya Airin.
"....." tak ada jawaban dari ibu Devan.
"Tan, Tante." panggil Airin karena merasa tak ada tanggapan dari ibu Devan.
"Eh,, iya sayang."
"Tante, ada masalah. kalau ada masalah tante cerita aja sama Airin. siapa tahu Airin bisa bantu tante." ucap Airin.
"Sebenarnya, Devan memang sudah menikah. tapi..." ucap ibu Devan Menggantung.
"Tapi apa, Tan'' tanya Airin.
"Tante tidak merestui hubungan mereka. Tante tidak menyukai wanita itu."
__ADS_1
"Lalu kenapa mereka bisa menikah kalau tidak ada restu dari tante." tanya Airin.
"Semua itu karena tante ingin melihat Devan menikah. dan tante tidak mau melihat putra tante sedih. karena tante menolak wanita pilihan dia." kata ibu Devan.
" Dan Sampai sekarang Tante masih berharap kamu yang menjadi menantu tante. " ucap ibu Devan Lirih.
"Maksud tante, Tante merestui hubungan saya dan Devan."
"Iya, tante sangat merestui hubungan kalian dari dulu. tapi ketika Devan memutuskan menikah dengan wanita itu, tante tidak bisa berbuat apa-apa."
"Trus rencana tante sekarang apa?" Tanya Airin.
"Memangnya, kamu masih mau menjadi menantu tante. kan kamu tahu sendiri Devan sudah menikah."
"Saya masih sangat mengintai Devan tante. saya akan berusaha mendapatkan dia kembali. asal kan Tante merestui saya menikah dengan Devan." ucap Airin mantap.
"Kamu serius." Airin mengangguk.
"Kalau begitu, saya akan dukung dan merestuii kamu, asal kamu dapat memisahkan mereka berdua."ucap ibu Devan.
"Saya pastikan mereka akan berpisah tante. Dan Devan akan menjadi milik saya sepenuhnya." ucap Airin meyakinkan ibu Devan.
Mereka menyusut beberapa rencana untuk memisahkan Devan dengan Sera. Obrolan mereka terhenti ketika menyadari Devan telah berjalan menuju ruang tamu.
"Maaf, membuat kalian menunggu lama." ucap Devan pada ibunya dan Airin.
"Tidak masalah nak. Ayo duduk temani Airin ngobrol." perintah ibu Devan.
"Ibu mau masuk dulu, ibu mau istirahat." kata ibu Devan.
"ibu istirahat saja. saya juga akan pulang. karena ini sudah cukup larut. kasihan Sera, dia sendirian di rumah." ucap Devan pada ibu nya.
"Oh.. baiklah, kamu hati hati di jalan ya. jangan lupa antar Airin pulang dulu. kasihan dia kan perempuan masa pulang sendiri ini sudah malam lho." ucap ibu Devan.
"Iya, ibu tenang saja, Devan akan antar Airin pulang."
"Devan pamit ya bu" ucap Devan sambil mencium punggung tangan ibu nya.
"Airin juga pamit dulu ya bu. ibu jaga kesehatan." pamit Airin sambil mencium punggung tangan ibu Devan.
" Iya sayang, kalian berdua hati hati ya."
"Assalamualaikum" ucap Airin dan Devan bersamaan.
"Waalaikumsalam."
Mereka pun pulang, Devan mengantarkan Airin ke tempat tinggalnya. Tak butuh waktu lama. mereka sampai di tempat tinggal Airin. saat hendak Turun dari mobil Airin merasa sedikit pusing dan mulai memegangi kepalanya.
"Ai, kamu kenapa" tanya Devan yang menyadari ada yang tidak beres pada Airin.
"gak tau nih kepalaku rasanya sangat ber..." belum sempat menyelesaikan ucapannya mata Airin sudah tertutup. Airin pingsan dengan posisi yang masih duduk di jok mobil Devan.
__ADS_1
Devan panik, dan memilih mengendong Airin masuk ke dalam rumahnya.