
Perjalanan dari kampung ke kota di rasa sangat lama. Berusaha untuk tetap tenang. Sampai kini ia telah menapak an kaki di area parkir Bus terminal di kota.
"Kak kita sudah sampai."
"Iya Put" jawabnya ketika mendengar perkataan sang adik.
"Kita langsung ke rumah kakak atau gimana"
"Tunggu dulu, kakak akan telpon mas Devan dulu. dia sedang berada di mana saat ini".
Tut...tut...tut... beberapa kali terdengar suara telpon tersambung namun tak pernah di jawab oleh sang empunya.
"Gimana kak, apa masih belum ada jawaban ?" tanya Putra. hanya gelengan kepala menandakan belum adanya respon.
" ya udah kak kita cari makan dulu, kakak juga belum makan. kasihan atu dede nya belum makan dari tadi."
" Iya udah, kamu juga pasti capek. kita cari makan sambil istirahat bentar baru lanjut pulang".
mereka berdua mencari tempat makan dan juga istirahat. cukup lama mereka menghabiskan waktu untuk makan serta duduk mengistirahatkan badan mereka. sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah Devan.
sampai rumah Devan, rumah terlihat sepi seperti tak berpenghuni.
Tok..tok..tok...
"Sebentar." sahut orang dari dalam rumah.
" Neng Sera. silahkan masuk neng."
"Maaf bi, mas Devan nya ada" tanya Sera
"Mas Devan bukannya pulang ke kampung non Sera."
" Mas Devan udah balik ke kota kemarin bi. "
" mas Devan belum ada pulang ke rumah neng. mungkin pulang ke rumah ibu."
"Ya udah bi, bibi tolong siapin kamar buat adik saya. saya mau istirahat dulu di kamar saya capek. nanti kalau mas Devan ada pulang bibi bangunin saya ya"
"Baik neng."
Bibi segera bergegas menyiapkan kamar untuk putra.
terang berganti gelap, siang berganti malam. namun tak ada tanda tanda Devan pulang ke rumah. Sera yang merasa sudah tidak terlalu lelah memutuskan untuk keluar kamar.
"Neng sudah bangun, saya sudah siapkan makan malam."
"Iya bi, tolong panggil Putra ya bi" suruh Sera
"baik neng"
__ADS_1
"mas Devan belum pulang bi" tanya sera sebelum sang bibi melangkahkan kaki nya
"Belum neng, apa perlu saya telpon Mas Devan nya" tanya bibi.
"tidak usah bi, nanti saya telpon sendiri saja"
" Baiklah neng "
Jam sudah menunjukan, pukul 9 malam. menambah kegusaran hati seorang Seraphina. akhirnya ia memutuskan untuk kembali menelpon sang suami.
Tut...tut... tut....
"Hallo, Assalamualaikum" jawab orang di balik telpon.
"Akhirnya mas angkat telpon.ku juga" Sera
"Jawab salam nya dulu sayang" Devan
"eh iya maaf, wa'alaikum salam mas." Sera
"Ada apa sayang, maaf mas sangat sibuk sampek belum menghubungi kamu dari kemarin"
" mas gak apa apa kan " tanya Sera.
" kenapa sayang"
" aku sangat khawatir mas, dari kemarin prasaanku gak enak mas. apalagi mas gak ada kabar sama sekali"
" mas kenapa, mas ada apa, aku bener bener gak tenang dari kemarin. sekarang mas dimana."
" aku di rumah sakit sekarang." jawab Devan. Devan memang kembali lagi ke rumah sakit setelah pemakaman sang Putra tadi.
" Mas sakit, sekarang aku ke sana ya, mas di rumah sakit mana."
" mas gak sakit, bukan mas yang sakit, jadi kamu gak usah ke rumah sakit, lagian jarak rumah sakit sama rumah terlalu jauh buat kamu dan dedek. nanti kalian capek." ucap Devan.
" trus siapa yang sakit mas. kamu di rumah sakit mana mas. bilang biar aku ke sana."
"mas di rumah sakit XXX, tapi kamu gak usah sayang, kasian dede nya nanti capek."
" gak akan capek mas, lagian rumah sakit itu deket dari rumah kamu. jadi aku gak akan capek."
" iya emang deket dari rumah kita, tapi itu jauh sayang dari rumah orang tua kamu."
" gak akan capek mas. kan sekarang Sera di rumah mas Devan."
" tunggu, maksut kamu, kamu di rumah kita sayang. kamu di kota sekarang." tanya Devan.
" iya, Sera di rumah mas Devan dari siang."
__ADS_1
" kamu di rumah aja, biar mas yang pulang."
Devan segera berlari ke parkiran dan bergegas pulang ke rumah.
karena jarang yg tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu 15 menit untuk Devan sampai di rumahnya.
" Assalamualaikum " setalah mengucap salam dan memasuki rumah Devan segera berlari menuju kamarnya mencari keberadaan sang istri.
" Sayang, " ucap Devan setelah melihat sang istri yang tengah berdiri di depan jendela kamarnya.
" Mas." Sera membalikan badannya dan langsung berlari menghampiri Devan masuk kedalam pelukan sang suami.
" pelan pelan kenapa mesti lari segala sih, ingat ada dedek di sini " ucap Devan mengurai pelukannya dan mengusap perut buncit Sera.
" Maaf" cicitnya pelan. Devan hanya mengangguk kemudian mengajak sang istri duduk di pinggiran kasur mereka.
" kenapa nyusul kesini." tanya Devan.
" aku kepikiran kamu terus, perasaanku tak tenang, aku takut kamu kenapa napa." jawab Sera.
"mas gak apa apa, mas baik baik saja."
" Trus siapa yang sakit, kenapa mas di rumah sakit."
tanya Sera.
" Airin yang sakit, dia sedang tidak baik baik saja."
" mbak Airin sakit, sakit apa mas."
"semalam dia mengalami pendarahan, dan aku membawanya ke rumah sakit."
" lalu bagaimana keadaannya sekarang mas, bagaimana kandungannya" seketika wajah Devan berubah sendu mengingat beberapa jam yang lalu dia harus mengantarkan sang putra ke peristirahatan terakhirnya.
" mas " suara Sera menyadarkan Devan dari lamunan nya.
" kenapa mas menangis."
" maafkan aku Sera, karena aku kurang memperdulikan nya, dia memilih pergi meninggalkan ku tanpa mau melihat dan memanggil ku "
" maksud kamu apa mas, Sera gak ngerti."
" Anak ku Sera, dia memilih pergi tanpa mau melihatku" Deg seketika air mata nya mengalir membasahi pipi, detik itu juga Sera mengerti dengan keadaan sang suami. dan langsung memeluknya.
cukup lama Sera memeluk Devan memberikan energi positif nya. di rasa sang empu lebih tenang ia mengurai pelukannya.
" mas yang sabar ya, ikhlaskan kepergiannya, Allah lebih sayang anak mas Devan. mas jangan sedih terus nanti anak mas sedih liat ayah nya menjadi lemah seperti ini. yakin lah dia akan bahagia bersama Allah, karena Allah yang menjaganya langsung. dia udah tenang di surga. dia udah jadi malaikat kecil di sana. lebih baik mas berdoa, doakan dia agar tenang dan bahagia di surga ." Devan hanya mengangguk menanggapi ucapan Sera.
" Jangan tinggalkan aku Sera, cukup sekali aku merasa kehilangan seperti ini, aku tak akan kuat jika merasakan ini lagi."
__ADS_1
" aku akan selalu bersama mu dan bersama dede juga" seraya tersenyum dan meletakkan tangan Devan di perut nya. " mas jangan Sedih lagi