
"PRANKKK"
Suara nampan jatuh mengejukan semua orang yang ada di dalam ruangan Devan. Semua pandangan ditujukan pada Sera. Alex menghampiri Sera.
"Kau tidak apa apa nona."
"Maaf." lirih Sera yang menahan rasa sesak di dada.
"Ada apa dengan hatiku, sakit, sakit sekali ini."ucap Sera dalam hati.
"Biar saya bantu nona." tutur Alex.
"Tidak Tuan, saya bisa melakukannya sendiri." Jawab Sera dan segera membersihkan makanan yang berserakan di lantai.
Setelah selesai dengan sigap Sera berdiri hendak kembali ke kantin.
"Maaf Tuan, karena saya ceroboh, anda jadi terlambat makan siang, saya akan bawakan yang baru segera." ucap Sera.
Devan yang sudah panas melihat perhatian yang diberikan Alex pada Sera menjadi kesal sendiri dan berkata dengan kasar pada Sera.
"Tidak perlu, kau bisa kembali bekerja." Devan dengan nada sedikit tinggi. Sera yang semakin sakit hati memilih meninggalkan ruangan itu segera.
Air mata yang semula ingin ia bendung sekarang tak bisa ia tahan lagi.
Toilet, yang di sinilah sekarang Sera berada, di dalam sebuah toilet berdiri menghadap ke cermin. Air mata itu terus keluar menumpahkan segala sesak di hatinya.
"Kenapa kau kasar pada ku, selama ini kau tak pernah kasar padaku, sakit rasanya, sakit sekali. apa salahku. bukankah aku yang seharusnya marah melihat mu dengan wanita lain."
"Hiks...hiks...hiks.."Tangis kepedihan Sera.
"Kau harus sadar Sera, kau bukan siapa siapa, kau tak pantas berharap lebih padanya." Gumam Sera dalam hati.
setelah merasa lebih tenang Sera kembali ketempat kerjanya. mencoba tersenyum dan menganggap semua baik baik saja.
*****
Diruang kerja Devan semua orang terdiam. tanpa satu kata pun yang terucap. sampai sebuah pertanyaan memecahkan keheningan.
"Hemmm... Airin bagaimana keadaan mu sekarang." Tanya Alex pada Airin.
"Sudah lebih baik Tuan." melihat kearah Alex, " Maaf saya merepotkan kalian semua." lanjutnya.
"Tidak, lebih baik sekarang kamu pulang istirahat biar Rendi mengantarmu." Kini Devan lah yang berbicara.
" Hah... apa coba maksudnya. gue harus nganterin mak lampir ini pulang Ogah banget." cebik Rendi dalam hati nya.
__ADS_1
*Tuan, saya banyak kerjaan. tidak mungkin kan saya tinggal.'' tolak Rendi halus.
"Tidak masalah Tuan, lagian nona Airin adalah sekertaris saya, saya yang akan mengantarkan dia ke rumahnya. ini sudah tanggungjawab saya sebagai atasan nona Airin." ucap Alex.
"Maaf telah merepotkan anda. dan terima kasih telah membantu sekertaris saya" lanjut Alex.
"Tidak perlu seperti itu Tuan. kita kan kolega sudah sepatutnya saling membantu." ucap Devan.
"Kami permisi Tuan " pamit Alex, Devan dan Rendi hanya tersenyum dan menganggukkan kepala mereka.
Sepeninggal Airin dan Alex, Devan kembali duduk di kursi kebesarannya dan melanjutkan pekerjaan nya.
Rendi masih mematung dan melihat ke arah Devan dengan wajah yang penuh tanda tanya dan seakan meminta penjelasan pada sahabat sekaligus bos nya.
*hmmm...hnmmm." Deheman dari Devan membuat Rendi kaget, lalu menghampiri Devan dan duduk di kursi tepat dihadapan Devan.
"Apa loe liat gue kayak gitu, kayak gak pernah liat orang ganteng aja. gue emang udah tampan dari Sono nya, jadi gak usah tatap gue kayak gitu" Sentak Devan.
"shittt.... Pe De banget loe jadi orang."
"Ya harus lah." sarkas Devan.
"Loe ada hubungan lagi sama Airin." Pertanyaan Rendi membuat Devan langsung mendongak dan menatap tajam pada Rendi.
"gak usah bohong loe sama gue." Devan hanya menggelengkan kepalanya.
"oke gue jujur. gue mungkin emang masih sayang sama Airin. tapi sayang gue hanya rasa sayang seorang kakak ke adiknya doang GAK LEBIH." Devan sedikit menekan katak Gak lebih.
"Oke, gue percaya." Rendi berkata dan segera banhkit dari duduknya
"Gue saranin, jangan pernah loe bermain api, kalau pada akhirnya akan membakar diri loe sendiri." ucap Eendi dan segera menutup pintu Ruang Devan.
Kata kata Rendi terakhir membuat Devan tidak fokus pada pekerjaan nya. Devan memikirkan Setiap kata yang diucapkan oleh Rendi. Seketika lamunannya buyar mengingat Sera yang melihatnya berpelukan dengan Airin.
"Sera," Ucao Devan lirih.
Devan memilih bergegas menemui Sera, guna menjelaskan semuanya, agar tak terjadi kesalahpahaman diantara mereka.
Devan berjalan menuju lift ditekannya tombol turun menuju lantai tempat Sera bekerja.
"Ting" suara pintu lift terbuka. Devan langsung berlari menuju kantin. Semua karyawan memandang pada Devan yang berlari tanpa menghiraukan orang orang sekitarnya.
Sampai di kantin, Devan berlalu menuju dapur kantin. Devan mencari keberadaan Sera, namun tak juga ia temukan sang istri.
"*Ahhhh..."Teriak Devan frustasi dalam hatinya, sambil menarik kasar rambutnya dengan tangan.
__ADS_1
"Sera, kau di mana," gumam Devan dalam hati*.
Devan begitu kacau, dia memutuskan berbalik badan dan akan pulang ke rumah, dia berfikir mungkin Sera sudah pulang.
Saat Devan berbalik, dia terkejut melihat Sera berdiri tepat dihadapannya, tanpa ba bi bu ba, Devan memeluk Erat tubuh Sera, seakan tak ingin kembali kehilangan orang hang ia sayangi.
Perlakuan Devan tak liput dari pandangan para karyawan dan menimbulkan berbagai pertanyaan dan ekspresi dikalangan para karyawa.
"Ada hubungan apa Big Bos sama karyawan rendahan itu."
"Wait...wait, Tuan Devan meluk seorang juru masak"
"no....no....no... Big NO, Tuan Devan hanya milikku"
" Aku mimpi kah,"
Ya, begitulah sedikit ungkapan para karyawan yang melihat adegan itu. Dan masih banyak lagi.
"Mas." ucapan Sera menyadarkan Devan, Sekarang Devan bayu menyadari telah menjadi pusat perhatian, apalagi tak ada satu pun karyawan yang mengetahui pernikahan nya Dengan Sera.
Devan segera melepaskan pelukan nya sari tubuh Sera, dan dengan cepat menyambar tangan Sera, Ditariknya kasar tangan Sera, untuk pergi dari tempat itu.
"Aw.." Sera meringis merasakan cengkraman tangan Devan yang begitu kuat.
"Tuan, tolong lepaskan, tangan saya sakit" Rancau an Sera tak di dengar Devan. Devan terus saja menarik tangan Sera Samapi ke parkiran mobil
.
Sesampainya diparkiran mobil Devan menyuruh Sera masuk ke mobil nya.
"Masuk,"Sera hanya bisa tertunduk dan masuk kedalam mobil. Tanpa ia sadari air mata Sera membasahi pipi nya.
Devan duduk dibalik kemudi, segera ia Melajukan mobilnya.
Hening, suasana di dalam mobil itu hening tanpa satu kata terucap dari kedua manusia itu.
Devan hanya fokus kejalan mengemudikan mobilnya, sedangkan Sera menatap ke arah luar jendela.
"*Kenapa dia kasar sekali, seharusnya aku yang marah padanya karena dia berpelukan dengan wanita lain. tapi ini." batin Sera.
~//// Aye Aye, belum greget ya ceritanya ////~
YA MAAF🙏🙏🙏
mungkin efek baru pertama kali nulis, Jadi mohon dukungan sekaligus kritik dan saran yang baik untuk Author.
__ADS_1
Terima kasih para Readers Readers ter❤️*