Seraphina

Seraphina
Epson 37


__ADS_3

"Udah mas, aku kenyang."


"ya udah, nih minum vitaminnya dulu." sera mengangguk kemudian meraih vitamin dan segelas air yang diberikan Devan.


"Kamu, butuh sesuatu lagi" Sera hanya menggelengkan kepalanya.


"Kamu gak ke kantor mas? "tanya Sera.


"Kayaknya nggak Deh, liat kamu kayak gini aku gak tega ninggalin kamu di rumah sendirian." jawan Devan.


"Aku gak pa pa mas, kamu ke kantor aja. lagian aku kan sudah minum vitamin. setelah kamu ke kantor aku akan istirahat. dan nanti waktu kamu pulang ke rumah aku sudah sehat." ucap Sera meyakinkan Devan bahwa dirinya akan baik baik saja.


Sebelum Devan menjawab, Terdengar suara handphone Devan yang berbunyi. Devan segera mengangkat telpon tersebut.


"Ya Hallo." Jawab Devan.


"Bisa kita ketemu, ada yang ingin aku bicarakan" suara orang di seberang telepon


"Baiklah" Jawab Devan kemudian menutup sambungan telpon nya.


Devan Menatap Ke arah Sera, rasanya ia tak tega meninggalkan istrinya di rumah sendirian.


"Ada apa Mas, " tanya Sera.


"mmmm, itu tadi ada telpon dari kantor, hari ini ada rapat penting. dan aku harus segera sampai disana."


"Ya sudah, kamu siap siap lalu berangkat ke kantor." pinta Sera


"Trus kalau aku ke kantor kamu gimana?" tnya Devan.


"Udah di bilang aku gak pa pa sayang."


"Ya udah, aku siap siap trus berangkat ke kantor. kamu istirahat ya!" ucap Devan


Devan segera bersiap dan pergi ke kantor.


*****


Ditempat lain, Seorang wanita sedang terdiam memikirkan bagaimana Ia menyampaikan permasalahan nya kepada seseorang.


Dia merasa takut jika orang tersebut tak bisa menerima apa yang akan ia sampaikan.


Setelah berpikir keras dan menelpon orang tersebut, wanita itu bersiap dan pergi menemui orang yang baru saja ia telpon.


Tak butuh waktu lama untuknya sampai di tempat ia janjian bertemu. Wanita itu memilih duduk di meja sudut yang jarang dilewati pengunjung kafe.


setelah menunggu sekitar 15 menit. Orang yang Ia tunggu akhirnya menghampiri nya ke meja. dan duduk dihadapannya.


"Maaf, aku baru sampai." ucap Devan.


"hmmm" jawab Airin.Ya yang tadi menelpon itu adalah Airin dan yang dia telpon tentunya adalah Devan.

__ADS_1


"apa yang ingin kamu bicarakan Ai?" Tanya Devan.


"Aku...." ucap Airin menggantung.


"Kamu kenapa?"


"...." tak ada jawaban dari Airin. ia hanya menunduk dan menangis.


"Kok malah nangis sih Ai. sebenarnya kamu kenapa? cerita sama aku."


"...." masih tak ada jawaban dari Airin. ia hanya menangis.


"Ai, kamu kenapa sebenarnya." ucap Devan dengan sedikit meninggikan suaranya, karena merasa jengah dengan sikap Airin yang tidak mau menjawab pertanyaannya dan malah menangis.


mendengar teriakan Devan, tangis Airin semakin menjadi. melihat Airin yang semakin tak terkontrol Devan menghampiri Airin lalu memeluknya, dan mengusap punggung Airin memberi ketenangan pada Airin.


Setelah dirasa Airin lebih tenang, Devan mulai melepaskan pelukannya dari Airin dan duduk kembali di dekat Airin.


"Udah, sekarang kamu cerita sama aku. ada masalah apa, sampai kamu minta bertemu denganku pagi pagi sekali." ucap Devan dengan nada lembut.


"Aku akan bicara, tapi kamu janji gak akan marah sama aku." Devan mengangguk an kepalanya kemudian menatap ke arah mata Airin.


"Aku...Aku hamil Dev." ucap Airin lirih, seketika membuat Devan membelalakkan matanya seakan tak percaya dengan apa yang ia dengan barusan.


Devan masih mematung setelah mendengar ucapan Airin. Airin yang melihat Devan mematung seketika memegang tangan Devan untuk menyadarkannya.


"Dev" sambil memegang tangan Devan.


"Kamu dengar kan apa yang aku bilang tadi."


"Maaf Ai, aku sedikit terkejut tadi, dengan apa yang kamu katakan." ucap Devan.


"Kamu serius Ai dengan yang kamu bilang tadi." lanjut Devan.


"Kamu pikir aku bohong dengan kata kata ku tadi." ucap Airin sedikit meninggikan suara nya


"Kalau kamu pikir aku bohong, kamu lihat hasil pemeriksaan itu." lanjut Airin sambil menyodorkan amplop putih berisi hasil pemeriksaan Airin.


Devan meraih amplop dari tangan Airin. lalu membukanya. ia perlahan mengeluarkan kertas putih dari dalam amplop dan mulai membacanya dengan teliti.


Devan nampak Lesu setelah membaca kertas itu yang menyatakan Airin Positif hamil dan usia kandungannya sudah memasuki minggu ke empat.


"Ahhh,,,," Teriak Devan frustasi.


"Sekarang kita harus gimana Ai." ucap Devan dengan nada bingung dan frustasi.


"Dev, aku mau kamu tanggung jawab."


"Oke, gue tanggung jawab, gue akan biayai semua kebutuhan kamu dan anak itu sampai ia lahir." ucap Devan.


"Dev, gue aku gak butuh uang kamu. aku mau kamu nikahin aku. aku gak mau hamil tanpa suami dan aku gak mau anak ku lahir tanpa ayah." Ucap Airin.

__ADS_1


"Aku gak bisa Ai, kamu tahu aku sudah menikah.".


"Aku gk mau tahu Dev. intinya kamu harus nikahin Aku." ucap Airin lalu beranjak pergi meninggalkan Devan.


Devan masih terdiam di tempat ia duduk. lalu suara telpon mengejutkan nya..


"Ya hallo." ucap Devan.


"....."


"Iya bu, Devan pulang ke rumah sekarang." ucap Devan lalu meninggalkan Kafe tersebut.


Dan tanpa Devan sadari, sebenarnya dari tadi ada seseorang yang melihat dan mendengar perdebatan Airin.


Setelah melihat Devan berlalu, Ia juga melangkahkan kakinya keluar kafe.


*****


///Rumah keluarga Nugroho///


Devan sudah menghentikan mobilnya di halaman rumah orangtuanya. Devan keluar dan berjalan masuk kerumah orangtuanya.


"Assalamualaikum" salam Devan ketika memasuki Rumah.


"Waalaikumsalam" Jawab beberapa orang yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


" Devan duduk " perintah bapak Devan. Devan segera duduk dihadapan orang tua, adik dan sepasang suami istri yang berumur sekitar 40 tahunan.


" Ada yang ingin kamu katakan pada kami." mendengar ucapan sang ibu membuat Devan terkejut. dan menggeleng kan keplanya.


"Kamu mau katakan sendiri atau bulek dan paklek yang bicara." tambah Bapak Devan. Devan masih nampak bingung.


Flashback On


Disebuah kafe tempat Devan bertemu Airin.


"Pak, aku ke toilet dulu ya." ucap wanita paruh baya pada suaminya.


"Iya buk, " jawab sang suami.


Ketika laki laki paruh baya itu sedang menunggu pesanannya ia melihat seorang pria masuk ke kafe. Di lihat nya begitu tak asing bagi dirinya. ia merasa sangat mengenal pria itu.


Setelah ia melihat dengan seksama ia baru menyadari bahwa yang dilihat adalah sang keponakan. Dan memutuskan untuk menyapanya. karena dia sudah lama tak bertemu dan sangat merindukan keponakannya.


Ketika ia akan memanggil, ia terkejut melihat wanita yang ada dihadapan Devan sedang menangis, akhirnya dia mengurungkan niatnya.


Dia terus mengamati dan mendengar perdebatan dari keduanya. Ia sangat terkejut mendengar perdebatan antara keduanya.


setelah melihat wanita yang ada dihadapan Devan pergi, ia menghubungi seseorang dan menceritakan apa yang ia lihat.


"Flashback Of"

__ADS_1


__ADS_2