
"Sayang kau bangun" ucap Devan namun Sera tak menanggapi nya sama sekali.
"Apa kau butuh sesuatu, kenapa kau hanya memandangi ku seperti itu. katakan kau butuh apa" ucap Devan kembali dan dengan suara berat Sera mulai membuka mulutnya.
"Jelaskan semuanya kepadaku" lirih Sera dengan suara yang serak mencoba membendung air matanya.
"Ap...Apa yang harus aku jelaskan." tanya Devan sedikit gugup.
" apa Sera mendengar semua perkataan ku tadi, bagaimana pun dia harus tau. aku tak bisa menutupi semuanya lagi.'' Batin Devan.
"Katakan, jika semua yang kamu bicarakan dengan keluarga mu tadi adalah kebohongan."
Deg
"Jadi Sera, benar benar telah mendengar ucapan ku tadi" Batin Devan.
"Sayang, maaf, aku..." ucapan Devan terpotong.
"Cukup mas, kata maaf mu sudah menjelaskan semuanya, sekarang pergilah aku mau sendiri.' ucap Sera penuh kekecewaan.
"Sayang, aku akan jelaskan semuanya. kamu harus mendengar penjelasan ku dulu."
"Pergi mas, aku mohon pergi dari sini." ucap Sera penuh penekanan.
"Aku akan tetap di sini, sebelum kamu mau mendengarkan penjelasan ku."
"Cukup, hiks hiks... aku bilang Pergi" teriak Sera di tengah tangis pilu yang tak bisa ia bendung lagi.
" Gak, aku gak akan pergi. aku akan tetap disini sampai kamu mau mendengar penjelasan ku." teriak Devan.
Dokter yang akan memeriksa Sera tak sengaja melihat perdebatan diantara kedua nya. kemudian menghapiri mereka.
"Maaf, pak. Tolong jangan terlalu menekan pasien. ini akan sangat berbahaya untuk kesehatan pasien dan janinnya. jari saya harap demi ketenangan pasien anda bisa keluar dulu."
pinta sang dokter.
"Tapi dok, saya suaminya. saya harus menjelaskan semuanya kepada istri saya agar tidak ada kesalahpahaman lagi diantara kami."ucap Devan pada dokter.
"Pergi, aku gak mau lihat kamu lagi mas. aku mohon pergi lah" Teriak Sera histeris di tengah tangisnya yang semakin pecah.
" Saya mohon keluarlah pak, jika tidak ingin sesuatu terjadi pada istri anda. karena saat ini istri anda butuh ketenangan." ucap dokter itu lagi.
__ADS_1
"Baiklah" Devan akhir mengalah dan memilih keluar dari ruang rawat Sera.
setelah Devan keluar, dokter memberi suntikan kepada Sera agar Sera bisa beristirahat. setelah menyuntikan obat pada Sera dokter keuar menemui Devan yang masih menunggu di depan pintu ruang rawat Sera.
"Maaf, bisa bicara sebentar" Devan mengangguk mendengar ucapan sang dokter.
"Begini pak, saya harap anda bisa menjaga kondisi mental nona Sera. saat ini ia sedang sangat syok dan stres. ini akan menghambat pemulihan kesehatan nya. dan ini juga tidak baik bagi janinnya yang masih sangat rentan di usia kehamilan yang masih terbilang muda." ucap sang dokter panjang lebar menjelaskan kondisi yang dialami Sera.
"Lalu saya harus apa dok" tanya Devan.
"Beri nona Sera waktu untuk menenangkan dirinya,tapi jangan tinggalkan dia seorang diri. ijinkan salah satu keluarga atau teman nya untuk menjaganya. untuk anda jangan menemuinya terlebih dulu. saya takut dia akan histeris kembali." ucap dokter.
"Baik dok." Dokter pun meninggalkan Devan sendirian.
"Gue akan bikin perhitungan sama loe Airin, karena ulah loe. istri gue jadi kayak gini. Gue hampir kehilangan anak dan istri gue. Tunggu apa yang bisa gue lakuin sama loe" Geram Devan dalam hatinya.
*****
Di tempat lain, di sebuah kamar berukuran 2 × 3 meter, terlihat seorang wanita yang terikat dengan tali di sebuah kursi dengan mulut yang di lak ban.
Tak lama, suara pintu terbuka,
Ceklek
"ahhh" teriak wanita itu ketika Rendi membuka paksa lakban yang menutup mulutnya.
"Kau gila Ren, mau apa kau. kenapa kau membawaku kemari?" Teriak Airin. Ya, wanita itu Airin. yang berhasil dibawa oleh anak buah Rendi.
flashback on.
Airin baru saja keluar dari sebuah kafe untuk makan malam. dia hendak mencari taksi untuk'- pulang ke rumahnya.
Karena tak kunjung ada taksi yang lewat Airin memutuskan untuk memesan taksi online. tanpa menaruh curiga atau apa, ada sebuah mobil yang menghapiri Airin.
"Anda nona Airin." ucap sopir mobil itu
"Iya"
"Silahkan masuk nona,"
"Maaf, tapi nomer plat dan jenis mobilnya beda dengan yang ada di aplikasi saya." ucap Airin.
__ADS_1
"Oh, maaf nona. saya memakai mobil teman daya. karena mobil saya sedang di bengkel. apa nona keberatan.''
"Oh, tentu saja tidak." Tanpa menaruh curiga Airin segera masuk kedalam mobil.
"hmmm... dasar bodoh. mudah sekali membohongi mu nona. dengan sifat mu yang seperti ini, berani beraninya kau mengganggu ketenangan kakak kami." seringai sopir itu yang tak lain adalah Adit salah satu anak buah Rendi.
Dengan menempuh perjalanan hampir satu setengah jam mereka sampai di sebuah rumah. Airin tak menyadari jika ia di bawa ke tempat lain.
"Nona, kita sudah sampai" ucap Adit.
"Lho ini kan bukan alamat rumah saya. kau ini bagaimana sih, gak becus sekali jadi supir" Bentak Airin pada Adit. Adit tak menanggapi itu semua.
Adit malah mengeluarkan sapu tangan yang sudah ia beri obat bius lalu membekap mulut dan hidung Airin. dalam hitungan Detik Airin pun kehilangan kesadarannya. dan ia baru membuka mata setelah beberapa jam.
Flashback Of.
"Lepaskan aku Ren, Kau akan menyesal jika Devan mengetahui apa yang kau perbuat pada calon ibu dari anak anak nya." Seringai Airin.
"Diam Kau" Bentak Rendi.
"Gue gak habis pikir, wanita kayak loe bisa berbuat begitu kejam."
"Apa maksud loe" tanya Airin dengan emosi.
"Gak usah banyak omong, Gue udah tahu siapa loe." seringai Rendi.
"Loe bener gila Ren, Devan gak akan tinggal diam jika loe sakitin calon anaknya"Rendi hanya tersenyum lalu meninggalkan Airin sendiri.
"Lepasin Gue Ren, gue akan balas setiap perlakuan loe sama gue." Teriak Airin dengan penuh emosi menatap kepergian Rendi.
Rendi sedang duduk di depan ruang penyekapan Airin bersama beberapa anak buahnya. Tak lama menunggu Devan datang bersama keluarganya.
"Dimana wanita itu" tanya Devan dengan dingin.
"Di dalam, mari kita masuk" ucap Rendi seraya mengajak Devan dan keluarga nya masuk kedalam.
"Ceklek" suara pintu terbuka.
Terlihat Airin tengah duduk di kursi dengan tangan dan kaki yang terikat.
Devan sudah nampak emosi dan berjalan menghampiri Airin. sebelum ia sampai pada kurai Airin, langkah kakinya terhenti ketika mendapat sebuah tepukan di pundak oleh Rendi.
__ADS_1
"Tahan emosi lho Dev, ingat bagaimanapun sekarang dia tengah hamil anak lho juga.Gue gak mau loe jadi seorang ayah yang kejam pada anaknya" Devan mengangguk paham dan melanjutkan langkah kaki nya.
"Dev, kamu datang."