
"Kak, apa kakak sudah mencari solusi dari masalah ini?" tanya Airin dengan suara lembut.
" maaf, aku belum mendapatkan cara untuk menyelesaikan masalah ini." ucap lirih Devan.
"Kak, kakak harus secepatnya mencari solusi semua ini. sebelum semua orang tahu dan perutku semakin membesar."
"Semua sudah tahu Ai."
" Maksud kakak"
"Keluargaku semua sudah tahu, kecuali istri dan keluarga istriku. kemarin waktu kita bicara di kafe tanpa sepengetahuan kita paklek dan bulek ku mendengar obrolan kita." cerita Devan pada Airin.
" baguslah, dengan begitu aku lebih mudah mendapatkan mu sayang. " batin Airin.
"apa, mereka sudah tahu" ucap sera menunjukkan rasa kagetnya. namun hatinya tersenyum senang.
"Iya,"
" Lalu apa tanggapan mereka kak?" tanya airin.
"Bodoh kau Airin kenapa kau menanyakan pertanyaan bodoh itu. seharusnya kau memanfaatkan situasi ini." rutuk Airin dalam hatinya.
"Mereka marah padaku, dan memintaku bertanggung jawab" seulas senyum nampak pada wajah Airin.
"Tapi, kau tahu kan aku sudah punya istri jadi aku gak mungkin bisa menikahimu." Lanjut Devan.
Airin nampak kecewa, dengan pernyataan Devan. Airin memilih diam dan memasang wajah memelas nya, agar Devan bisa bersimpati kepadanya.
"Ai, maaf aku tak bisa lama, aku harus kembali ke kantor" Airin hanya mengangguk saat mendengar perkataan Devan.
"Ahkkk" Teriak Airin frustasi saat melihat Devan berlalu keluar dari kafe.
"Kamu lihat Dev, aku akan memiliki mu seutuhnya, bagaimana pun caranya."
"Drrtt... drrrtttt...drrrtt" Dering ponsel membuat Airin meraih ponsel yang ada di dalam tasnya .
"Halo" ucap Airin setelah menggeser gambar telpon berwana hijau.
"......"
"Bagus, jika semua sudah siap lakukan sekarang" ucap Airin.
"...."
"Aku tunggu hasilnya."
setelah mengatakannya Airin segera mematikan sambungan telponnya dan pergi dari kafe itu.
*****
Sera POV
Aku keluar dari ruang pemeriksaan dengan rasa bahagia. aku tak sabar untuk memberitahukan kabar ini pada suamiku Devan.
Tak mau menunggu lama aku memutuskan menuju ke kantor Devan setelah dari rumah sakit.
Sampai di kantor Devan, ku langkahkan kaki ku menuju ruangan Devan. sebelum aku masuk ruangan Devan aku bertemu Rendi di depan ruangan Devan.
Rendi menyapaku " Hai, nona Sera" Aku tersenyum dan membalas sapaannya "Hai."
__ADS_1
"Apa kau ingin bertemu tuan Devan?" tanyanya kepada ku.
"Iya, apa Devan ada"
"maaf nona, tuan sedang ada perlu keluar sebentar. mungkin sebentar lagi dia akan datang" aku mengangguk.
"Apa nona akan menunggu, jika iya, nona bisa menunggu di dalam." ucapnya.
"Baiklah, aku akan menunggu di dalam."
"Mari saya antar" ucapnya seraya membukakan pintu ruangan Devan untukku.
"Silahkan duduk nona, apa anda ingin minum atau makan sesuatu."
"Tidak perlu." ucapku.
"Baiklah saya permisi."
Sebelum langkah kaki Rendi keluar ruangan terbesit sebuah keinginanku untuk memakan sesuatu.
"Tuan Rendi" akhirnya suaraku menghentikan langkah Rendi.
"Iya nona."
"Apa saya bisa minta tolong" Rendi mengulas Senyum menandakan dia mengiyakan permintaanku.
"Apa kau bisa membelikan ku ku redvelvet dan chesscake, aku sedang ingin memakannya. dan kebetulan aku belum makan siang. dan satu lagi aku mau es krim jumbo rasa vanila dan coklat" Rendi nampak terkejut mendengar permintaanku. karena Rendi tahu aku yang tak begitu suka dengan makanan tadi.
"Baiklah, apa ada lagi."
"Sudah itu saja."
"Terimakasih" ucapku, Rendi hanya mengangguk dan keluar ruangan.
hampir 20 menit aku menunggu di ruangan Devan. namun Devan tak juga datang. aku sudah merasa bosan. Rendi pun tak juga datang membawa pesanan ku.
"Lama sekali" gerutu ku dalam hati.
cklek...
akhirnya suara pintu terbuka juga. aku menoleh ke arah pintu. aku tersenyum begitu senang saat melihat Devan yang masuk.
Devan sedikit kaget melihatku yang tak biasanya berada di kantor.
"sayang, apa yang kamu lakukan di sini.'' tanya nya .
"apa aku tak boleh datang kesini" sungutku pada Devan
"Bukan begitu, kamu kan lagi kurang sehat, dan tak biasanya juga kamu ke kantor." ucapnya.
"Aku ingin menemui mu, dan ada yang ingin aku tunjukkan padamu." ucapku.
"apa yang ingin Kamu tunjukan padaku sayang" tanyanya.
"A...aku" ucapan ku terhenti saat terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk" ucap Devan mengizinkan orang dibalik pintu untuk masuk.
"Ada apa" tanya Devan saat melihat Rendi yang telah masuk kedalam ruangan.
__ADS_1
"Saya hanya ingin memberikan pesanan nona Sera" ucap Rendi.
Aku yang mendengar ucapan Rendi merasa sangat senang, dan langsung menghampiri Rendi serta mengambil paper bag yang dibawa oleh Rendi.
"Terima kasih" ucapku,
"Sama sama nona, kalau begitu saya permisi" dan aku menganggukkan kepala.
Setelah Rendi keluar, aku langsung duduk di sofa dan mulai membuka pesanan ku dan memakannya dengan lahap.
Aku yang terlalu bersemangat mendapatkan apa yang aku inginkan. melupakan Devan yang masih menatapku heran.
"Sayang, apa yang dibawa Rendi sampai sampai kau melupankan ku yang ada disini."
"Maaf, aku terlalu bersemangat." ucapku.
"Lalu apa itu" Tanyanya.
"oh, ini chesscake dan redvelvet serta es krim" ucapku masih dengan melanjutkan makan ku.
" Apa kau mau" tanya ku pada Devan " Tapi, jangan deh, nanti kalau kamu ikut makan aku tidak akan puas memakannya." Devan menautkan alisnya keheranan mendengar ucapan ku.
"Tidak usah, aku tadi sudah makan." ucapnya.
"Tapi bukannya kau tak begitu suka makanan manis, lalu kenapa kau makan semua makanan ini ?" tanya nya .
"Hmmm... aku hanya ingin saja."ucapku.
"Sudahlah mas, jangan bertanya Terus, biarkan aku menikmati makananku." ucapku lagi.
"ada apa dengannya, tak biasa biasanya dia bersikap seperti itu. dia selalu membagi makanan denganku bahkan bukan hanya membagi dia akan lebih mendahulukan ku. kenapa kali ini dia tidak ingin membagi dengan ku." batin Devan
"huk...huk...huk..." aku tersedak makananku membuat Devan kaget dari lamunannya.
"Pelan pelan, aku tidak akan memintanya." ucap Devan seraya mengulurkan tangannya memberikan ku segelas air putih.
"maaf" ucapku.
"sudah lanjutkan makan mu dulu, tapi pelan pelan. lagian aku tak akan memintanya." aku pun mengangguk dan melanjutkan makan ku.
Aku begitu merasa sangat kenyang setelah semua makanan yang aku inginkan telah ku makan habis tanpa tersisa.
"Ah, kenyang rasanya." ucapku sambil menyenderkan punggung pada sofa.
"Bagaimana tidak kenyng, kamu makan begitu lahap menghabiskan semuanya tanpa sisa."
"hehehehe" aku terkekeh mendengar ucapan Devan dari kursi kerjanya.
"karena aku sudah selesai makan, aku mau pulang aja, aku ngantuk dan lelah sekali." ucapku.
" tunggu, apa kau sudah baikan."
"Aku, sudah baik baik saja."ucap ku.
"Ya sudah, biar supir kantor yang mengantarmu" ucap Devan.
"ya sudah aku mau pulang." ucapku
"Sayang, kau lupa tujuanmu datang kemari" tanya nya.
__ADS_1