
"Ai kamu kenapa nak" Tanya ibu Devan yang melihat Airin tengah berbaring di atas ranjang. nampak wajahnya sedikit pucat.
"Dari tadi badan Airin gak nyaman bu, perut Ai juga krasa sedikit kram bu. biasanya kalau gini buat tiduran langsung enak an, tapi ini masih gak nyaman ". jelas Airin.
"Di bawah Ada Devan. katanya kamu mau ketemu. "
"Devan udah datang bu, Airin mau ke bawah ketemu Devan."
" Gak usah kamu diam disini aja. biar ibu suruh devan yang naik. kamu istirahat aja."
Setelah mengatakan itu, ibu Devan segera ke ruang tamu meminta Devan untuk menemui Airin di kamar.
tak lama Devan pun masuk ke dalam kamar Airin, dengan membiarkan pintu kamar tetap terbuka.
Devan mengambil kursi dan meletakan nya di samping ranjang Airin. kemudian ia duduki.
"Ai" panggil Devan
"Dev, kamu udah datang."
"Hmmm"
"Maaf Aku merepotkanmu." kata Airin sambil berusaha untuk mendudukan tubuhnya.
"Aw." pekik Airin.
"Ai, kau kenapa?" tanya Devan sambil membantu Airin.
"Perutku terasa Kram Dev. bisakah kau mengusapnya sebentar. mungkin akan sedikit mendingan. aku rasa dia kangen dengan kamu" pinta Airin sambil mengelus lembut perutnya.
"Baiklah" Devan berusaha mengusap perut Airin perlahan. Devan merasakan perasaan senang sama seperti saat ia mengusap perut Sera.
"Terimakasih, ini terasa nyaman."
"Hmmm"
"Ini sudah larut. istirahat lah, aku juga harus pulang" ucap Devan.
"ya, Terimakasih Dev."
"Aku pulang dulu. besok aku akan kesini melihat mu lagi." Airin pun mengangguk dan mulai memejamkan matanya.
Devan berjalan keluar kamar Airin. di depan kamar ia bertemu dengan ibu nya.
"Kau sudah mau pulang nak?"
"Iya bu, besok aku ada rapat pagi. jadi aku harus segera pulang agar tak kesiangan."
"istirahatlah di sini, ini sudah sangat larut. esok pagi ibu akan bangunkan kamu, biar tak kesiangan."
pinta Ibu Devan.
__ADS_1
"Baiklah bu, Devan tidur sini. " Akhirnya Devan menyetujui permintaan ibu nya.
*****
Jam telah menunjukkan pukul 3 dini hari. Airin merasa tenggorokan nya kering. Ia membuka mata dan meraih gelas yang berada di nakas. namun air dalam gelas itu telah habis. terpaksa Airin harus mengambilnya ke dapur.
Airin berjalan perlahan menuju dapur, ia berpegangan pada diding karena dia merasa sedikit pusing dan masih tak enak badan.
sesampai nya di dapur Airin mengambil air dari dalam kulkas, belum sempat ia meminumnya, tiba tiba terasa nyeri yang amat pada area perutnya. seketika itu dia terjatuh dan berteriak cukup keras.
teriakan keras Airin mampu membangunkan penghuni rumah itu.
Devan yang terlelap di dalam kamarnya. Seketika membuka mata ketika mendengar teriakan Airin. ia segera bangun dan berlari menuju suara Airin yang berada di dapur.
Sesampai nya di dapur, Devan sudah melihat Airin yang tergeletak tak sadarkan diri dengan banyak nya darah di bagian kakinya.
Devan segera menghampiri dan mengangkat Airin untuk dibawa ke rumah sakit.
"Dev, apa yang terjadi nak" tanya ibu Devan saat melihat Devan yang tengah mengangkat Airin.
"Dev, gak tau buk"
"Ya udah cepat bawa ke rumah sakit." mereka berlari ke luar rumah, menaiki mobil menuju rumah sakit.
*Di rumah sakit *
"Dok...Dokter...." Teriak Devan sambil berlari dengan Airin yang berada di gendongannya.
"Mari pak, bawa ke UGD."
Sesampainya di UGD, Devan dan ibu nya hanya bisa menunggu Airin yang sedang di periksa, di depan ruangan.
Lama, cukup lama dokter melakukan tindakan kepada Airin. hampir 30 menit Dokter didalam. dan kini dokter tengah berada di hadapan Devan. menjelaskan keadaan Airin.
"Bagaimana dok keadaannya." tanya Devan
"Maaf, disini siapa suami nona Airin." tanya dokter, dan Devan dan ibunya hanya saling pandang. dan ibu Devan mengangguk kan kepala. sebagai sebuah isyarat.
"Saya dok." dengan berat hati Devan mengatakan itu.
"Maaf sebelumnya. kami sudah berusaha dengan sebaik mungkin. namun Tuhan berkehendak lain. Nona Airin mengalami pendarahan hebat. membuat bayi nya tidak dapat diselamatkan. bayi nya meninggal dalam kandungan. yang bisa lakukan sekarang mengambil tindakan operasi untuk mengeluarkan janinnya." ucap sang dokter.
" Lalu bagaimana kondisi Airin dok?"
" Kondisinya saat ini stabil, tapi kita harus segera melakukan Operasi. kalau tidak akan membahayakan nyawa nona Airin." jelas sang dokter.
" Lakukan dok, lakukan yang terbaik untuk Airin." ucap Devan.
"Mari pak silakan mengikuti suster untuk mengurus administrasi dan persetujuan operasi nya."
setelah mengurus segala administrasi, disinilah mereka berada. di depan ruang operasi menunggu proses Operasi Airin.
__ADS_1
hampir 2 jam Airin berada di ruang operasi. akhirnya dokter keluar dan menghampiri Devan dan ibu nya.
"Alhamdulillah, operasi berjalan dengan lancar. nona Airin dalam keadaan stabil. dan akan kami pindahkan ke ruang rawat."
"Terima kasih dok."
tak lama, nampak seorang suster keluar membawa seorang bayi yang telah dibungkus dan ditutup dengan kain.
suster menghampiri Devan
"Maaf pak, ini jenazah putra nyonya Airin."
Devan memandang bayi yang ada di gendongan suster. dia membuka penutup kain dan nampaklah, wajah tampan seorang bayi yang nampak pucat. tak terasa air mata Devan mengalir membasahi pipinya.
Devan segera mengambil alih tubuh bayi dan mendekapnya.
"Maaf"
"Maaf"
"Maaf"
Hanya kata kata itu yang keluar dari mulut Devan.
"Sabar nak, ini sudah takdir dan jalan anakmu." ucap ibu Devan membelai rambut sang putra.
"Devan salah buk, Dia marah sama Devan. dia tak mau bertemu Devan karena Devan sempat tak menginginkan nya." Devan tersedu dan mencium pipi sang putra.
"ikhlaskan nak."
"Maafkan ayah nak, ayah begitu bodoh. ayah begitu egois. pernah tak menginginkan mu. maafkan ayah. sekarang ayah menerima hukuman dari kamu. kamu tak mau melihat wajah ayah dan ayah tak akan mendengar suara mu menangis, merengek dan memanggil ayah nak. ayah ingin melihat senyuman mu nak." ucap Devan.
"Sekarang kita bawa pulang, kita makamkan putramu dengan layak. Airin juga belum sadarkan diri. biarkan dia istirahat. di sini ada suster yang menjaganya " Devan mengangguk.
* ditempat lain *
Sera nampak gusar dan tak bisa memejamkan mata nya dari semalam. dia merasa ada sesuatu yang terjadi namun ia tak tahu apa itu.
Sera melihat jam sudah menunjuk an pukul 5 dini hari. ia melihat handphone nya. tak ada satu pun nomer Devan menghubungi nya untuk memberi kabar membuat ia semakin khawatir.
Sera segera menghubungi suaminya. namun sampai panggilan ke tiga. tak ada satupun jawaban dari Devan.
karena perasaan yang semakin tak karuan ia memutuskan untuk pergi ke rumah Devan.
"Ayah, ibu, Sera bisa minta ijin."
"Kamu mau kemana nak?" tanya ibu Sera.
"Sera ingin pulang ke rumah Devan, bolehkah?"
" boleh sayang, dia kam suami kamu. tapi diantar sama putra ya!"
__ADS_1
" Baiklah bu "