Seraphina

Seraphina
Epson 18


__ADS_3

"Hmmm... Aku mencintaimu sayang." ucap Devan mengecup bibir Sera.


"Aku juga mencintaimu Tuan Devan." Ucap Sera.


"Karena kau istri ku, bisakah aku meminta sesuatu padamu sayang." Diangguki oleh Sera


" Mulai sekarang jangan panggil aku Tuan, karena aku suami mu bukan majikan mu." kata Devan sambil tersenyum pada Sera.


"baiklah, tapi aku harus memanggilmu apa." tanya Devan.


"Terserah kau, kau bisa memanggilku Suamiku, sayang, Devan atau apapun tapi jangan panggil aku Tuan." Sera mulai memikirkan panggilan yang cocok untuk Devan.


" Baiklah Mas Devan ku tersayang." Devan nampak senang mendengar ucapan Sera.


" Itu terdengar sangat indah. aku menyukainya." ucap Devan.


*****


Pagi pun tiba, Sera telah menyiapkan segala keperluan Devan dari Air untuk mandi, pakaian untuk kerja dan makanan untuk mereka sarapan


Devan sudah siap dan duduk di meja makan bersama Sera.


"Mas, Aku hari ini akan telat ke kantor. aku harus pergi ke tempat ketering karena di sana membutuhkan tenagaku. mereka akan mengisi ketering di sebuah acara di hotel nanti malam." kata Sera meminta ijin pada suaminya.


"Kenapa musti kamu. mereka kan juga ada pegawai di sana." protes Devan.


"Ya karena aku masih pegawai mereka hanya saja aku ditempatkan di kantor kamu. dan sekarang mereka sedang kuwalahan jadi aku disuruh membantu mereka." jelas Sera.


Devan nampak tidak Senang, karena dia tidak bisa melihat istrinya nanti di kantor


"Ayo lah sayang, kan cuma satu hari ini aja." Sera coba meyakinkan sang Suami.


"hmmm... baiklah kau boleh pergi."


"Terima kasih suami ku tersayang." Seraya Sera mencium pipi Devan.


Blush.... wajah Devan nampak memerah karena ulah istrinya.


"Mulai berani ya sekarang." ucap Devan. Sera hanya terkekeh sendiri.


*****


Sera sudah sampai di tempat katering bu broto.


"Pagi semua, apa kabar." Ucap Sera pada semua teman teman nya di tempat ketering.


"Sera."Ucap Dewi antusias. " kau jahat sekali, kau melupakan ku disini. kau tak pernah mengunjungi atau pun bertukar kabar denganku." Gerutu Dewi pada sahabatnya itu

__ADS_1


"Maaf." ucap Sera, " Kau tak mau memaafkan teman mu ini." Dewi masih dalam mode kesal pada Sera.


"Beneran nih, gak mau maafin gue. ya udah deh. aku pergi aja lagian temanku disini kelihatan nya tak suka dengan kehadiran ku." mendengar ucapan Sera itu, Dewi langsung berbalik menghadap Sera dan memeluk nya dengan erat.


"Jangan pergi, aku merindukan mu." ucap Dewi.


"Aku juga sangat merindukan teman ku ini." ucap Sera.


"Sudah kangen kangen nan nya." Suara itu menginterupsi mereka membuat mereka melepaskan pelukannya.


"ihhh.... ganggu aja deh loe itu. dasar curut."


" Emang loe aja yang kangen ama Sera gue juga kangen tau." ucap Reno sambil maju ke arah Sera.


"Eits, gak ada peluk peluk an, loe lupa Sera itu udah nikah jadi loe gak bisa peluk peluk dia lagi." Dewi menghentikan langkah Reno.


"Dasar loe tu kurcaci, emang dasar loe gak pernah suka liat gue seneng." ucap Reno pad Dewi.


" Emang, wle." ejek Dewi pada Reno.


"loe..." ucap Reno belum selesai.


"Apa loe, mau apa loe." sarkas Dewi memotong ucapan Reno.


" Sudah sudah, gak bosen apa kalian ribut mulu, capek gue dengerin kalian ribut mulu. mending kerja dech biar ceoet beres semua." sarkas Sera menghentikan pertengkaran mereka.


Akhirnya semua fokus kembali pada pekerjaan masing masing . Di sela sela aktivitas mereka Sera dikejutkan oleh pertanyaan dari sahabatnya. yang tingkat ke kepo an nya level dewa.


"Hmm..".


"Sera." panggil Dewi lagi.


"Hmmm... ada apa." jawab Sera.


"Gimana hubungan loe masa suami loe, udah ada kemajuan belom. " tanya Dewi.


"Ya gitu." jawab Sera


"Gitu gimana ".tanya Dewi


"ya kayak gitu, biasa aja."


"Biasa gimana, masak loe belum ada rasa sama dia." tanya Dewi.


"Apaan si Dew. Kepo banget jadi orang."


"Ya elah jujur aja napa, cerita ma gue. Gue kan teman loe." ucao Dewi.

__ADS_1


" udah lah, gak ada yang perlu gue ceritain, mending lanjut dech, kerjaan tu masih numpuk." ucap Sera yang muali jengah dengan pertanyaan sahabatnya itu.


Merasa tak ada jawaban yang sesuai dengan ekspektasi nya, Dewi melanjutkan pekerjaannya dengan sedikit hati dongkol pada sahabatnya itu.


*****


Di kantor Nugi Company. Devan di sibukkan dengan beberapa file yang ada dihadapan nya. Tapi Fokus nya mulai terpecah ketika mengingat pertemuan nya dengan Airin masa lalu nya, dan sikapnya pada Sera semalam.


Di tengah lamunannya Rendi masuk ke ruangan Devan tanoa mengetuk pintu. Dilihatnya sang empunya Kantor sedang tersenyum. Mulailah aksi jahil nya.


"Bruakkk.." Suara beberapa map di lemparkan Rendi di meja Devan.


"G*l* loe, k*mpr*et, Asisten gak ada akhlak. masuk ruangan gak permisi datang datang bikin ricuh." umpat Devan. Rendi hanya terkekeh mendengar umpatan Devan.


"Mau loe apa, mau bikin gue jantungan." tanya Devan dalam mode yang kesal atas kelakuan sahabatnya itu.


"wkwkwkkwkkkkkkk...." Tawa Rendi pecah melihat ekspresi sahabatnya itu. seketika mendapat pelototan dari Devan.


"Lucu banget tu muka, kusut kaya pakaikan belom di setrika." ejek Rendi.


" sekali lagi loe ejek atau ketawain gue, bonus loe gue ilangin." ancam Devan.


"Sans brow, kayak cewek aja loe dikit dikit ngambek. dikit dikit ngancem."seketika Sebuah bulpen melayang mengarah ke Rendi, dengan sigap Rendi menghindar.


"Gue pusing, liat muka loe tambah pusing gue." sarkas Devan.


" Mending loe ikutin saran gue kemarin, loe harus tegas dengan perasaan loe, loe harus bisa tentuin sikap loe. jangan kayak gini. ini sama aja loe nyiksa diri loe sendiri." saran Rendi.


"Loe bener, mending gue selesaikan dulu masalah masa lalu gue sama Airin, dengan begitu gue bisa awali hidup gue yang baru dengan lebih tenang." ucap Devan.


Kemudian Devan membuka laci meja kerjanya, mengambil sebuah kertas yang bertuliskan Nomer telpon Airin. Diputuskan nya untuk menghubungi Airin.


Tut....tut ...tut....


"Halo." ucap Airin diseberang sana.


"Halo, gue Devan. bisa kita bertemu."


"iya, kapan dan dimana."


"Nanti pukul 07.00 di kafe X dekat kantor ku." kata Devan.


"Tentu saja, aku akan datang Devan." Jawab Airin.


Setelah mendapat jawaban dari Airin Devan segera mematikan sambungan telpon nya.


Disisi seorang gadis sedang memandangi telpon genggamnya seraya tersenyum senang,

__ADS_1


"apa aku sedang bermimpi, Devan menghubungi ku. benarkah ini." merasa tak yakin ia mencubit keras pipi nya.


"Aww... sakit." gumamnya. " Ternyata ini nyata aku tak bermimpi. Aku yakin dia masih mencintaiku seperti dulu. aku pastikan akan membawa dia kembali kepadaku." ucap Airin masih dalam mode tersenyum senang.


__ADS_2