
udara malam ini sangat bersahabat. langit yang bertaburan bintang bintang seraya mengerti suasana hati seorang Airin. nampak kebahagiaan di wajah gadis itu. dengan semangat ia langkahkan kaki nya masuk ke sebuah kafe bernuansa klasik itu. dipilihnya sebuah meja yang berhadapan langsung ke arah jalanan kota yang ramai akan kendaraan.
Dipanggilnya seorang waiters guna memesan makanan atau sekedar minuman untuk menemaninya malam ini menunggu sang pujaan hati.
"Mbak, Saya pesan cupcake Chocolat strawberry nya 1, sama jus alpukat nya 1." pesan Airin.
"Eh tunggu mbak, sama pesan spesial espresso 1 sama chesscake nya 1 ya mbak." ucao Airin lagi.
"Biak kak, ditunggu sebentar ya."ucap sang waiters.
Dalam waktu 10 menit semua pesanan nya sudah siap di depannya. tapi orang yang membuat nya datang ke kafe belum juga datang.
Airin nampak sedikit gusar, berbagai pertanyaan bermunculan di benaknya. Apa Devan lupa, Apa Devan sakit , apa Devan sengaja mengerjainya, apa Devan sudah tak perduli padanya lagi. semua pertanyaan itu bermunculan pada otaknya.
Seketika Airin tersadar dari pikiran pikiran nya sendiri , karena sebuah suara memecahkan lamunannya.
"Maaf, aku membuatmu menunggu lama." ucap Devan menyandar kan Airin.
"Ah... tidak, tidak masalah. walaupun harus menunggu bertahun tahun untukmu aku akan siap." ucap Airin.
"Kau sudah memesan." Tanya Devan.
"Oh ya, maaf tadi aku sudah pesan, dan sekalian memesankan mu. tapi maaf aku tidak memesan untuk Rendi. karena aku tak tahu kalau dia juga akan datang.'' jawab Airin.
"Ah. tidak masalah. Dia bisa memesan sendiri makanan nya." ucap Devan.
"Devan. ada yang ingin aku jelaskan disini. tapi bisakah kita bicara berdua saja." ucap Airin seraya melirik pada Rendi.
"Memang kenapa kalau ada Rendi di sini, dia sahabatku. jadi tak masalah jika ia mendengar semuanya."
" Tapi..." ucap Airin.
__ADS_1
"Sudah lah tidak apa apa. kalian bisa bicara berdua, aku akan ke meja lain, dan memesan makanan, aku lapar sekali." ucap Rendi.
"Maaf Ren, aku tak bermaksud mengusir mu." Kata Airin.
"Tak masalah, it's oke." ucap Rendi
"Bos jangan lupa bayarin makanan gue oke." ucap Rendi pada Devan dan berjalan ke meja yang kosong, dan tidak jauh jadi Rendi masih bisa mendengar pembicaraan Devan dan Airin.
Setelah Rendi pindah meja, nampak suasana menjadi hening. hampir 10 menit mereka sama sama terdiam.
"Aku Ingin bicara." ucap Devan dan Airin bersamaan.
"Kamu ngomong aja dulu." ucap Airin.
"Tidak, kamu aja duluan." kata Devan.
" hmmm baiklah."
"Aku turut berduka atas meninggalnya ayah mu." ucap Devan.
"hmmm.... Aku ingin sekali menghubungi mu. tapi aku tak bisa melakukannya. Karena sebuah insiden membuatku kehilangan kontak mu. aku ingin pergi ke rumah mu. tapi keadaan ibuku yang masih terpukul membuatku harus mengurungkan niatku dan harus menemani ibuku." ucap Airin
"Ketika ibu ku mulai membaik, aku mulai mencari pekerjaan dan ini lah pekerjaan yang aku dapat. Aku begitu senang ketika mengetahui bahwa kau adalah klien perusahaan tempat aku bekerja. aku sangat senang ketika melihat mu. Rasanya aku ingin memeluk mu meluapkan kerinduanku. karena tuntutan profesinal kerja aku menahannya." lanjut Airin.
Mendengar semua penjelasan Airin, seketika hati Devan merasa iba dengan keadaan Airin. dia merasa bersalah karena tidak ada pada saat kekasihnya eh maksudnya mantan kekasihnya itu dalam kesulitan. hatinya mulai bimbang. apa yang harus iya lakukan sekarang apa iya sanggup melukai hati orang yang pernah ia cintai. perasaan apa ini. kenapa dia begitu sedih mendengar semua cerita ini. apa ini rasa kasihan atau rasa cinta itu memang masih ada. Devan benar benar bingung.
"Dev, sekarang giliran kamu buat bicara. bicara lah. aku akan mendengarkan mu." ucap Airin.
Mendengar itu Devan terdiam sebentar, memikirkan apa ia harus mengatakan segalanya pada Airin. Seketika bayangan Sera muncul di ingatan nya. akhirnya ia memutuskan berkata jujur pada Airin walaupun ini akan menyakitkan di awal.
"Dev." panggil Airin
__ADS_1
"Iya."
*ayo, katanya mau bicara. " kata Airin.
"Eh iya.. Ja.. jadi ada sesuatu yang harus kamu tahu.'' kata Devan dengan nada yang Ragu.
"Ayolah Dev, cerita. aku akan siap mendengar semua yang kamu bicarakan." Devan mengangguk dan mulai bercerita.
"Sebenarnya, aku sudah menikah."
Deng... bagai kan di sambar Petir. Airin Begitu terkejut mendengar perkataan Devan.
"Kamu bercanda kan Dev. gak mungkin kamu nikah dan lupain gue semudah itu. kamu boong kan sama aku." ucap Airin yang masih kaget dan tak percaya pada Devan.
"itu semua benar, Aku sudah menikah." ucap Devan sekali lagi. dan mengalir lah semua cerita pada Airin. kecuali tentang alasan yang membuat Devan menikah dengan Sera.
"Jadi semua ini bener Dev." Devan hanya mengangguk.
"Aku sayang sama kamu, Aku cinta sama kamu. perasaan ku ini tak pernah berubah sedikitpun dari dulu.sampai sekarang." ucap Airin.
"Maaf, "kata itu lah yang lolos dari bibir Devan.
" hmmm... Aku kecewa sama kamu Dev. tapi aku harus menerima semua kenyataan ini. Aku akan berusaha mengikhlaskan kamu untuk dia, aku harap kamu bisa bahagia. hiks...hiks..." ucap Airin diiringi isak tangis nya.
"Aku yakin kamu bisa Ay, aku akan selalu mendukung setiap keputusan mu, aku akan selalu jadi teman yang baik untukmu. Jangan pernah menangis lagi. aku tak suka melihat mu meneteskan air mata." ucap Devan menenangkan Airin.
Airin mengangguk dan berkata," Jadi aku masih bisa kan berteman dengan kamu."
"Iya, aku akan menjadi teman sekaligus kakak yang baik untuk kamu. asalkan kamu tidak bersedih lagi." ucap Devan diiringi senyuman nya.
" Sekarang hapus air matanya, lalu senyum," ucap Devan sembari mengusap air mata Airin . Airin tersenyum tapi hati nya masih sakit.
__ADS_1
"Baiklah Devan, mungkin sekarang kita akan berteman, tapi aku akan berusaha mendapatkan hati kamu lagi. karena aku yakin di hati kamu masih ada cinta untuk ku. tunggu waktu nya aku akan menjadi milikmu dan kamu akan jadi milikku. Selamanya" ucap Airin dalam Hati nya.