Seraphina

Seraphina
Epson 39


__ADS_3

"Iya...iya, aku mandi sekarang." ucap Devan lalu beranjak turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Sebelum Devan menutup pintu kamar mandi dia memanggil Sera.


"Sera." Seketika Sera menatap ke arah Devan.


"Kamu, jangan tidur dulu. ada yang mau aku bicarakan sama kamu." Sera pun mengangguk mengerti.


Setelah mendapat jawaban dari Sera Devan bergegas membersihkan dirinya.


Tak membutuhkan waktu lama, Devan telah selesai dengan ritual mandi nya. ia berjalan keluar kamar mandi menghampiri Sera yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil menyenderkan kepalanya di kepala ranjang.


Devan duduk dihadapan Sera, ia memandang lekat wajah Sera.


"Sayang, ada ingin aku bicarakan." ucap Devan Sambil menggenggam kedua tangan Sera.


"Bicaralah Mas."


" Tapi kau harus berjanji sesuatu padaku." kta Devan.


" Tumben kamu bicara seperti ini mas, apa ada masalah" tanya Sera.


"Tidak, aku hanya ingin meminta satu hal kepadamu." ucap Devan. "Aku ingin kau berjanji satu hal kepada ku."


"Baiklah katakan janji apa yang ingin kau minta dari ku." ucap Sera.


"Aku ingin kau berjanji satu hal padaku, apapun yang terjadi dalam hidup ku dan dan hidupmu tetaplah berada di sampingku. jangan pernah kau pergi dari ku." pinta Devan.


" Mas, kau tak perlu meminta itu dariku, Kau adalah suami ku. jadi sebagai istri sudah sepatutnya aku selalu berada di sampingmu disaat kau bahagia ataupun terpuruk sekalipun."


"Terima kasih." ucap Devan kemudian memeluk sang istri. Sera membalas pelukan sang suami tanpa ada rasa curiga ataupun ragu sedikitpun.


*****


Di kediaman Nugraha, kini tengah duduk 4 orang paruh baya di sebuah ruangan. Lebih tepat seperti ruang santai keluarga.


Mereka hanya diam tanpa ada yang ingin memulai pembicaraan diantara mereka. Mereka terfokus dengan pemikiran masing masing.


Dan sebuah perkataan membuat mereka tersadar dari pemikiran mereka.


"Apa kita akan diam seperti ini terus" Kata Bulek Devan. Semua mata memandang kearahnya.

__ADS_1


" Kita bisa membantu Devan untuk bertanggung jawab tanpa menikahi wanita itu" ucapnya Lagi.


"Apa maksudmu" pertanyaan itu keluar dari bibir sang Ibu.


" iya, Devan tak perlu menikahi wanita itu. Devan hanya perlu membiayai semua kebutuhannya ketika masa kehamilan, dan setelah anak itu lahir kita akan mengambilnya dan merawatnya, anak itu akan aku ambil dan aku rawat seperti anakku." ucap bulek Devan.


"Maksudmu kita akan mengadopsi dan membesarkan anak Devan dengan wanita itu " tanya Paklek Devan yang terkejut mendengar penuturan Sang istri yang tak lain adalah bulek Devan.


"Iya, itu maksud ku."


"Kau benar benar sudah gila, bagaimana mungkin kita melakukan itu. apa wanita itu akan setuju." ucapnya lagi.


"Kita harus membuatnya menyetujui nya."


"Kalau kalian serius dengan ucapan kalian, kenapa tak kita coba membicarakan ini pada Devan dan wanita itu. jika mereka setuju kita bisa membawa wanita itu tinggal disini, dengan begitu aib keluarga kita tak akan sampai ke telinga orang luar." ucap Bapak Devan.


*****


Pagi ini cuaca begitu cerah. Devan terbangun dari tidurnya. di lihatnya kesamping ternya Sera belum terbangun.


Devan sedikit merasa aneh, tak biasa biasanya sang istri belum bangun padahal jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


Devan memandang lekat wajah istrinya. "Maafkan aku sayang, aku janji akan menyelesaikan masalah ini tanpa menyakitimu sedikit pun." ucap Devan membelai rambut Sera.


"Maaf aku menganggu tidurmu " Sera menggeleng lalu tersenyum.


"Tidak mas. Kau sudah bangun mas." tanya Sera.


"Tentu sudah sayang, kan ini sudah siang, dan aku harus bersiap ke kantor karena ada meeting nanti jam 10." jawab Devan.


"Memangnya sekarang ini jam berapa" tanya Sera penasaran.


"Sekarang sudah jam 8 pagi." Sera terperanjak dari tidurnya, ia langsung bangun dari posisi tidurnya ia hendak bangkit namun tangannya dipegang oleh Devan.


"Mau kemana kamu?" Tanya Devan seketika Sera menatap ke arah Devan.


"Aku kesiangan mas, Aku mau masak untuk kamu" jawab Sera


"Sudah, kamu istirahat saja. kau terlihat sangat lelah. "


"Tapi kalau aku tak masak nanti mas sarapan pakai apa? " tanya Sera.

__ADS_1


"Tenanglah, aku akan menghubungi Rendi untuk membawakan kita sarapan. sekalian nanti dia mau jemput aku disini." Jawab Rendi santai.


"Duduklah," perintah Devan dan akhirnya Sera mau menurut kemudian duduk kembali di tempat tidur.


"Kamu kenapa. apa masih ada yang sakit, sehingga membuatmu bangun sesiang ini? tak biasanya kamu bangun siang seperti ini?" Tanya Devan.


"Aku gak apa apa mas, mungkin karena semalam aku tidur terlalu larut saja." jawab Sera.


"Ya sudah, kalau ada apa apa bilang sama mas ya! sekarang mas mau mandi dan siap siap buat ke kantor. " ucap Devan dan bangkit menuju kamar mandi, sebelum ia berdiri tak lupa dikecupnya kening sang istri.


Rendi telah datang di apartemen Devan. Rendi menunggu Devan diruang tamu. Setelah selesai bersiap dan makan sarapan yang dibawah Rendi. Devan segera mengajak Rendi untuk berangkat ke kantor.


"Sayang aku berangkat ya? kamu hati hati di rumah. kalau ada apa apa atau butuh sesuatu segera hubungi aku." Sera mengangguk kemudian mencium punggung tangan Devan dan dibalas kecupan di kening Sera.


Devan dan Rendi berangkat ke kantor menggunakan mobil, di tengah perjalanan Telpon Devan terus berbunyi. Devan hanya melirik sebentar ditatapnya nama Airin yang terpampang di layar telpon nya, Devan belum siap mendengar rancau an atau rengekan dari Airin.


Sebuah pesan masuk membuat Devan sedikit mengernyitkan dahi nya.


To :Devanku


"Kenapa kau abaikan telpon ku, aku ingin bertemu dan berbicara denganmu. jika kau tak datang aku jamin berita kau telah memperkosa ku akan tersebar dimana mana" Devan membelalakkan matanya membaca pesan yang seperti ancaman yang baru saja ia baca.


Rendi sedikit melirik ekspresi Devan dari kaca spionnya, ia melihat Devan begitu gusar setelah membaca pesan yang baru saja ia terima.


Karena rasa penasaran dan tak tega melihat kegusaran sang sahabat Devan memberanikan diri untuk Bertanya.


"Kau ada masalah" Devan hanya menggeleng.


"Jujur lah, aku sudah sangat mengenalmu Devan, kita sudah berteman lama, apa kau tak ingin membagi masalah mu dengan ku." ucap Rendi.


"Sudahlah, kau fokus saja pada jalanan" ucap Devan kemudian meraih Telpon nya dan membalas pesan dari Airin.


To : Airin


" Aku akan menemui mu jam makan siang di kafe XX"


Rendi kembali fokus pada jalanan yang sedikit macet hari ini.


suasana didalam mobil begitu hening, Devan masih bergelut dengan pikiran pikirannya sendiri.


sesekali ia mengusap wajahnya dengan kasar yang tak luput dari perhatian Rendi.

__ADS_1


"Ren"


__ADS_2