
Hari berganti hari, tak terasa sudah 1 bulan pernikahan Sera dan Devan. Tidak ada perubahan dati hubungan mereka. Kedua nya masih sama sama menutup hati mereka. Sera tetap bekerja sebagai di kantin perusahaan Devan. Dan tak satu pun karyawan yang mengetahui hubungan nya dengan sang pemilik perusahaan.
Pagi itu seperti biasa Sera bangun terlebih dahulu dan menyiapkan segala keperluan Devan, Termasuk menyiapkan sarapan untuk Devan. Setelah menyelesaikan tugasnya Sera pergi ke kamar mandi membersihkan diri dan bersiap berangkat bekerja.
Sera telah siap dengan pakaian kerja nya. Dia berencana berangkat kerja. sebelum berangkat Sera membangunkan Devan yang masih terlelap.
"Tuan, ini sudah jam 6.30, saya akan berangkat bekerja. Semua keperluan anda sudah saya siapkan." Ucap Sera sambil membangunkan Devan.
"Hmmm.." lengguh Devan sambil mengerjapkan mata nya.
"Tuan, bangunlah nanti anda terlambat." ucap Sera.
"Baiklah saya berangkat dulu." ucapnya lagi ketika melihat Devan beranjak bangun.
"Tunggu" ucap Devan menghentikan langkah kaki Sera.
"Iya, apa ada yang anda butuhkan lagi."
"Berangkatlah bersama ku, tunggu aku bersiap sebentar."
"...."Sera terdiam
"Tidak ada penolakan, aku memaksa." sarkas Devan.
Sera hanya mengangguk an kepalanya. Tak lama Devan telah bersiap.
"Ayo kita berangkat" Ajak Devan.
"ah...Iya Tuan."
Setelah beberapa menit mereka sampai di depan gedung perusahaan milik Devan.
"Kita Sudah sampai turunlah, apa kau masih mau di dalam mobil." ucap Devan membuyarkan lamunan Sera.
"hmmm... iya Tuan maaf saya~"
"sudah ayo turun." ucap Devan memotong perkataan Sera.
Mereka masuk ke dalam kantor beriringan. banyak mata memandang ke arah mereka, dengan berbagai pemikiran dan argumen yang berbeda.
"*Eh kok bisa sih cewek kampung itu jalan bareng pak Devan"
"wah..wah ada yang gak beres."
__ADS_1
"pasti tu cewek pakek pelet buat deketin pak Devan*."
Begitu lah sekiranya cibiran yang muncul. Devan hanya menatap tajam ke arah para karyawan nya. Sedangkan Sera hanya bisa tertunduk.
Kerena merasa geram melihat cibiran cibiran yang keluar.
"Kalian saya gaji untuk berkerja bukan bergosip."sarkas Devan.
"Jika sudah tidak sanggup berkerja dengan profesional disini silahkan ajukan Surat pengunduran diri kalian." Tegas Devan dan langsung menarik tangan Sera menuju lift.
***didalam ruang kerja Devan***
"maaf Tuan, karena saya anda menjadi bahan omongan di bawah tadi." ucap Sera.
"udahlah Sera kamu itu bicara apa. Itu sudah kewajiban saya sebagai seorang suami harus melindungi istrinya. Seharusnya saya yang minta maaf, seharusnya saya tak menutupi status kamu disini. Kamu itu istri saya, seharusnya kamu tak mendapat kan cibiran seperti tadi jika saya tegas. ini semua karena saya terlalu pengecut." tutur Devan.
Deg.
Serasa jantung Sera berhenti berdetak mendengar kata kata Devan.
"apa maksud perkataan nya tadi, dia mengakui aq sebagai istrinya. Kenapa jantung ini berdgup lebih kencang seakan~. Ah... sudahlah Sera, kamu jangan berharap lebih, tak mungkin Tuan Devan memiliki perasaan padamu. "gumam Sera dalam hati.
"Maaf Tuan Saya permisi. Saya mau memulai pekerjaan saya di kantin." Sera barlalu keluar dari ruangan Devan.
Sedangkan di dalam ruangan nya Devan masih merutuki dan mencerna kenapa dia bisa mengatakan itu semua pada Sera.
"Ah...Sial kenapa aku ini." sambil mengusap kasar rambutnya
"Kenapa tu muka kusut amat." Suara Rendi yang langsung nyerocos ketika masuk ke ruang Devan tanpa mengetuk pintu dan melihat sahabatnya yang kayak orang frustasi.
"Diem bangk*,"
"wait... wait... kenapa loe. pagi pagi udah ngumpat. Keaambet setan."kata Rendi.
"Oh Gue tahu sekarang, pasti loe gak dapet jatah deh semalem. Wkwkwkkwkkkkkkk" ejek Rendi.
"sialan loe, udah tau temennya lagi pusing loe malah ngejek gue seenak jidat loe."
"Diem gak Loe, kalau loe kesini cuma buat gue tambah puyeng mending loe keluar beg*k. " lanjut Devan
"oke... oke... gue minta maaf. mending sekarang loe cerita ke gue ada apa. daripada loe marah marah gak jelas, dan ujung ujungnya gue yang kena omelan loe." ucap Rendi.
"Gue, gue... Ah, sial"
__ADS_1
"kenapa si bro, udah cerita aja timbang stres loe lama lama." pinta Rendi."
"...." Devan masih diam
"ya udah kalau loe gak mau cerita sekarang, gak papa kok. mungkin loe masih butuh waktu."
"Gue udah beneran jatuh hati sama Sera." lirih Devan.
" bagus dong, jadi loe gak harus nyiksa dia dengan hubungan tanpa adanya saling suka. loe tinggal ungkapin perasaan loe, beres kan." ucap Rendi.
" gak semudah itu, gue takut dia gak ada rasa sama gue."
"udah, coba bilang aja dulu. masak seorang Devan yang bisa melakukan segalanya gak bisa naklukin hati seorang gadis." sarkas Rendi.
"Gue dukung loe, perjuangin cinta loe. jangan sakiti diri loe sendiri. dan satu lagi, jangan pernah menyerah sebelum loe berjuang."lanjut Rendi.
beberapa hari berlalu, setelah kejadian dikantor waktu itu. Sera tidak pernah mau berangkat bareng sama Devan. dan Sera selalu menghindari Devan.
sedangkan Devan sendiri masih memikirkan perkataan Rendi, dan berpikir bagaimana cara dia mengungkapkan perasaannya pada Sera.
hari itu Sera telah sampai di apartemen terlebih dahulu. Melihat apartemen yang sedikit berantakan Sera memutuskan membereskan dan memberikan apartemen nya.
Sekian lama berkutat dengan pekerjaan rumah, kini apartemen itu terlihat bersih dan rapi. Sera memutuskan memasak makan malam untuk Devan. setelah semua siap Sera membersihkan dirinya.
jam menunjukan pukul 11 malam tapi Devan belum juga pulang. Sera nampak gusar memikirkan Devan. kemana devan kenapa belum datang. pemikiran itu begitu berkecamuk dalam pikiran dan hatinya. tak lama suara pintu terbuka.
Krek...
Sera langsung mendongakkan kepalanya dan melihat siapa yang datang. tanpa ba bi bu ba. Sera berlari memeluk Devan.
Devan hanya bisa mematung, tanpa mengucap kan apapun.
"Deg"
"Deg"
"Deg"
detakan jantung itu seakan tak bisa mereka kontrol.
"*Perasaan apa ini, ada apa dengan jantungku." ucap Sera dalam hati.
"Apa ini, kenapa aku nyaman dalam pelukan nya. Seakan aku mendapatkan apa yang selama ini hilang dari diri ku. dan jantung ini. Ah sial aku benar benar jatuh hati pada gadis ini, aku tak akan melepaskan nya." gumam Devan*
__ADS_1
"Maaf Tuan." ucap Sera sambil melepaskan pelukannya.