Seraphina

Seraphina
Epson 53


__ADS_3

"Apa kita masih bisa menjadi teman seperti dulu." sambil memandang kearah Rendi.


Rendi tersenyum dan menganggukkan kepala nya.


"Terima kasih Ren. Kau selalu menjadi teman yang terbaik untuk ku."


"Sudahlah Ai, yang terpenting sekarang kau sudah menyadari semua kesalahan mu. dan jangan ulangi lagi. kita lupakan masa lalu dan mari menghadapi masa depan dengan senyuman." Airin mengangguk tanda ia menyetujui perkataan Rendi.


Kini, Rendi dan juga Airin telah sampai di rumah Devan. kedatangan mereka disambut oleh kedua orang tua Devan juga paman dan bibi Devan.


" Akhirnya kalian sampai juga" ucap ibu Devan dengan nada sedikit sinis.


" Masuk lah nak" kini bibi Devan berbicara dengan nada cukup halus kepada Airin." Ayo duduk " ucap nya lagi


1 menit, 2 menit, sampai hampir 10 menit hanya keheningan yang ada diantara mereka. mereka masih sibuk dengan pemikiran masing - masing.


"Hmmm..." Dehem Rendi.


" Ibu, Bapak, Rendi gak bisa lama lama di sini. karena masih ada pekerjaan lain." ucap Rendi.


"Pergilah nak, selesaikan pekerjaan mu dengan baik. jangan membuat kami kecewa. cukup wanita ini yang membuat kami kecewa." ucap ibu Devan.


"Baiklah, Rendi pamit. Assalamualaikum" ucap Rendi.


"Waalaikumsalam." jawab semuanya secara bersamaan.


setelah kepergian Rendi. kini, ibu Devan mulai angkat bicara.


" Jadi, apa mau mu sekarang." tanya ibu Devan pada Airin.


"Ai, minta maaf tan. " ucap Airin lirih.


" Apa maaf mu cukup untuk memperbaiki nama baik anak ku." geram ibu Devan.


"Tan, maaf kan Airin. Airin benar benar menyesal." ucap Airin dengan sesenggukan.


"Bu, tenang lah . kau bisa membuatnya tertekan. Ingat dia juga tengah mengandung cucu kita." ucap bapak Devan menenangkan sang istri.

__ADS_1


"Udah lah kak, yang terpenting sekarang dia sudah setuju dengan rencana kita. yang terpenting sekarang, gimana kita menjaga agar berita ini tak sampai ke telinga orang luar ." ucap bibi Devan.


" terserah kalian saja. yang jelas, jika dia ingin tinggal disini ikuti aturan yang ada disini." setelah mengatakan itu ibu Devan segera pergi menuju kamarnya. Tak di pungkiri, hatinya masih begitu menyayangi gadis yang duduk dihadapan nya, tapi rasa kecewa kini tengah menguasai hati dan pikirannya.


" kenapa kau melakukan ini nak, ibu sangat menyayangi mu dari dulu. ibu menganggap mu sebagai putri ibu. tapi kenapa kau kecewakan ibu dengan kelakuan mu itu. maaf ibu belum bisa sepenuhnya memaafkan mu." Batin ibu Devan sambil melangkahkan kaki nya.


" Nak Sera, bibi disini hanya mau mengatakan jika selama kau tinggal di sini, jangan sekalipun kamu keluar rumah tanpa seijin kami. dan kemana pun kau pergi kau akan bibi temani. satu hal lagi. jangan pernah kau mengerjakan pekerjaan apapun dirumah ini. tugasmu cukup 1, menjaga kandungan mu agar tetap sehat sampai kau melahirkan." ucap Bibi panjang lebar.


"Baik Bi, maafkan Airin bi. telah membuat kalian kecewa."


"Sudah lah, sekarang bibi antar kamu ke kamar. kamu pasti lelah. butuh istirahat." Airin mengangguk kan kepala nya dan berdiri melangkah mengikuti Bibi menuju kamar.


*****


Di sebuah rumah sakit, di atar tempat tidur masih terlihat sepasang insan yang masih tertidur lelap dan saling berpelukan. meski hari sudah siang, cahaya matahari telah masuk ke kamar. tetap tak membuat mereka berdua terusik sama sekali.


Hingga sebuah suara pintu kamar terbuka pun tak dapat mengusik mimpi mereka. entah apa yang sedang mereka mimpikan. sampai tak menghiraukan keadaan sekeliling mereka.


"Hmmm.." Sebuah senyum tergambar jelas dari sudut bibir seorang pemuda.


"Semoga kalian selalu bisa bersama dalam kebahagiaan." ucap pemuda itu dalam lamunannya


"plak" (Anggap saja suara tepukan di pundak).


" Astaghfirullah" ucap Devan. ya pemuda tadi adalah Devan.


"Maaf pak, saya mengagetkan anda." Ucap Desi yang datang bersama adik dan kedua orang tua mereka.


" Nak Devan kenapa melamun didepan pintu, kenapa ndak masuk saja." tanya ibu Sera.Devan hanya tersenyum kikuk.


Melihat ekspresi Devan membuat Putra penasaran dan akhirnya mendongak kan kepalanya untuk melihat ke dalam.seketika ia berteriak dan menutup matanya


" Ya Allah, mata adik ternodai." teriaknya begitu kencang membuat dua sejoli yang terlelap pun terusik dan mulai membuka mata.


" Kamu apaan sih put, teriak teriak gk jelas." ucap Desi seraya mengikuti tingkah sang adik yang melihat ke arah kamar rawat Sera.


" Ya Allah, mataku gk perawan lagi." Teriak Desi.

__ADS_1


"Kalian ini, kenapa teriak teriak. ingat ini rumah sakit." ucap ibu Sera.


"Maaf bu, habisnya pagi pagi udah disuruh liat orang bermesraan. kan adik jadi kaget." ucap Putra.


"Sudah diam. mending kita masuk." ucap Bapak Sera. "Mari nak Rendi silahkan masuk juga."


Rendi hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Sesampainya di dekat tempat tidur Sera. Ibu Sera pun menggeleng kan kepalanya. melihat anak dan menantunya yang mulai terusik dengan suara Putra dan Desi.


" Hmmm... pantesan duo bocah ku tadi pada berteriak ternyata melihat ini toh." batin Ibu Sera."


"Ughhh..." leguh Devan. Sambil mengubah posisi tidurnya menjadi duduk.


"Kalian." seketika Devan terkejut melihat banyaknya orang yang tengah menatap kearahnya.


"Kapan kalian sampai, kenapa tak membangun kan ku." ucapnya lagi.


" Bagus ya, udah tahu istri sakit masih aja dimanfaatin. Ingat ini di rumah sakit bukan di rumah." ucap Rendi.


"Apaan sih, gue gak ngapa ngapain." Bela Devan.


"Nak Devan, kami paham. kau begitu menyayangi dan merindukan istri mu. tapi, biarkan dia istirahat. kenapa kau malah mengganggunya dan ikut tidur di ranjang yang sempit itu. itu akan membuat istrimu ta nyaman. " ucap Ibu Devan.


" Ibu." Suara Sera membuat seluruh orang yang di dalam ruangan itu terkejut.


"Ya Allah nak, kamu sudah sadar."


"Ibu, jangan marahi Devan. Sera yang minta dia tidur di samping Sera. udah ya bu, Sera ngantuk. biarkan Sera tidur." ucapnya kemudian kembali terlelap.


Semua pandangan kini tertuju pada Devan, seakan meminta penjelasan.


"Devan ke kamar mandi dulu, nanti Devan jelasin." Devan segera akan beranjak dari tempat tidir menuju kamar mandi, namun Sera seakan tak mau melepaskan genggaman tangannya dari tangan Devan.


Melihat semua itu ibu Sera angkat bicara. " Sudahlah nak, temani istri mu dulu. nanti setelah dia tertidur nyenyak baru kau jelaskan kepada kami semua." Devan hanya mengangguk mendengar ucapan sang mertua.


Setelah dirasa Sera telah nyaman dalam mimpinya, Devan pelan pelan melepaskan tangannya dari Sera.

__ADS_1


Devan segera menuju kamar mandi dan membersihkan diri nya. selesai dengan semua urusannya Barulah Devan duduk santai bersama semua keluarga Sera dan Juga Rendi.


"Nak, Devan. Bisa jelaskan yang tadi.."


__ADS_2