Seraphina

Seraphina
Epson 13


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir Devan dan Sera menginap di hotel. Devan memutuskan untuk tinggal di apartemen. Sebelum ke apartemen Devan dan Sera menuju ke kediaman Nugroho untuk memberitahu orang tua Devan bahwa mereka ingin mandiri dan tinggal di apartemen.


Sesampainya di kediaman Nugroho. Devan mengetuk pintu rumah itu.


Tok...Tok... Tok...


"Assalamualaikum." Ucap Devan dan Sera bersamaan.


"Waalaikumsalam, Nak kamu sudah pulang. Ayo masuk dulu." sambut sang ibu kepada Devan.


"Bu, Devan kesini cuma ngasih tahu ibu kalau Devan akan tinggal di apartemen."


"Kenapa sayang, apa kamu sudah tidak sayang sama ibu mu ini nak."


" bukan begitu, Devan sayang sama ibu dan bapak. Devan sekarang sudah menikah. Jadi Devan pikir lebih baik Devan dan istri Devan mulai hidup mandiri." jelas Devan


"InsyaAllah Devan akan sering main kesini." ucap Devan lagi.


" Ya udah terserah kamu."


kemudian Devan pamit dan memeluk sang ibu.


" Devan jangan pernah lupakan ibu ya nak." ucap sang ibu dan Devan hanya mengangguk.


Sekarang sang ibu memeluk menantunya Sera, dan membisikkan sesuatu pada Sera.


" Jangan harap kamu bisa menguasai anak saya, saya akan selalu mengawasi tingkah laku kamu, karena saya tidak rela anak saya jatuh dalam jeratan kamu.'' Sera begitu tersentak dengan ucapan sang mertua.


"Sera, ibu titip Devan ya, jaga Devan, karena Devan segalanya untuk ibu. Jadilah istri yang baik untuk suami kamu." ucap sang ibu sambil melepaskan pelukan dari Sera.


"I....Iya bu." jawab Sera


" Sering sering lah kalian main kesini. ibuk akan merasa sangat senang."


" iya bu, sekarang Devan sama Sera pamit ya bu, ibu jaga kesehatan."


Devan meninggalkan kediaman Nugroho bersama Sera menuju apartemen pribadi Devan. Menempuh perjalanan 30 menit Mereka telah sampai di apartemen Devan. Devan segera membuka pintu apartemen dan masuk bersama Sera.


Devan mengajak Sera masuk kedalam kamar mereka.


" Kamu bersihkan diri kamu dan istirahat lah." perintah Devan pada Sera.


"Iya Tuan."


"Saya ada kerjaan jadi, saya akan bekerja di ruang kerja saya, ruangan nya ada di sebelah. jadi jika kamu butuh sesuatu kamu tinggal panggil saya." Devan berlalu menuju ruang kerja nya.


Di ruang kerja


Tut...tut...tut...

__ADS_1


"..."


"Gue udah di apartemen, Loe buruan kemari. gak pakek lama."


"..."


"Sekalian bawa makanan."


Devan mengakhiri sambungan telponnya. 30 menit kemudian orang yang di telpon Devan pun sudah sampai di depan apartemen Devan. dan membunyikan bel.


"Ting tong."


Sera yang mendengar langsung membuka pintu apartemen.


"Eh, Tuan Rendi. mari silahkan masuk." sapa Sera.


"Iya nona." Rendi masuk ke apartemen Devan.


"Tuan, ingin bertemu dengan Tuan Devan." tanya Sera


"Iya nona, tadi Tuan Devan menelpon saya untuk datang kesini dan membawa makanan." jawab Devan.


"oh... silahkan duduk, saya akan panggilkan Tuan Devan." Sera berlalu menuju tuang kerja Devan untuk memanggil nya.


"tok...tok...tok..."


"Masuk" terdengar suara Devan, Sera pun masuk.


" Suruh saja dia langsung kesini, dan kamu siapkan makanan yang di bawa oleh Rendi. nanti setelah siap kamu panggil saya ke sini, oke"


" baik Tuan."


Di ruang tamu, Sera menemui Rendi dan meminta Rendi masuk ke ruang kerja Devan. Setelah menerima makanan dari Rendi, Sera menuju dapur untuk menyiapkan makanan tadi.


Setelah mendengar perkataan Sera, Rendi langsung menuju ke ruang kerja Devan. Seperti biasa Rendi masuk tanpa mengetuk pintu.


"Hai,,,, pengantin baru." sapa Rendi.


"Dasar kampret," Kaget Devan." apa kagak bisa ketuk pintu dulu sebelum masuk. emang gak ada sopan sopan nya loe jadi orang." Cerocos Devan.


"Sorry lha bro." sambil mengambil duduk berhadapan langsung dengan Devan.


"eh... gimana"


"Gimana apanya." saut Devan.


"ya itu, gimana rasanya."


"Apaan sih loe, ngomong kagak jelas banget."ucap Devan

__ADS_1


"Udah deh, loe kagak usah pura pura polos. itu tu malem pertama loe gimana." tanya Rendi


"pletak"


Sebuah bulpen langsung melayang ke atas kening Rendi.


" Awww." Rendi memegangi kening nya...


"Sialan loe Dev. emang loe pikir kagak sakit ogeb." gerutu Rendi


"Kalau ngomong tu di filter dulu, jangan asal jeplak." ucap Devan.


"Udah deh, kita kan temen, masa loe gak mau crita pengalaman malam pertama loe." Devan hanya melirik ke arah Rendi.


"Kalau gue liat dari wajah wajah kayak loe gini," Rendi sedikit berfikir.


"pasti loe belum nglakuin itu kan...Wkakakakkkkk." Tawa Rendi pecah seketika.


" Sialan loe." Decak Devan. Tawa Rendi pun semakin kencang memenuhi seluruh ruangan


"Sorry... Sorry. Gue minta maaf."


"Ya, kali gue nglakuin itu sama dia. gue gak akan lakuin iti sebelum gue bisa terima dia sepenuhnya dan begitu oun sebaliknya." jelas Devan pada Rendi.


"Oke ngerti, tapi setidaknya loe harus buka hati loe buat Dia."


"kalau itu, gue udah lakuin, bahkan gue akuin gue udah mulai punya rasa sama dia. tapi gue masih takut karena gue belum yakin dan gak mau nyakitin dia."


"Setidaknya loe jangan sakiti dia. itu pesen gue." Devan hanya menganggukkan kepala nya.


Tiba tiba, ada ketukan pintu dari luar.


"Maaf tuan, makanan nya sudah siap." ucap Sera dari luar.


"Iya, bentar lagi gue keluar." jawab Devan dari dalam.


"Ayo makan bareng, " ajak Devan pada Rendi. dan diaguk.i oleh Rendi.


Mereka berdua jalan bersama menuju ruang makan yang langsung berhadapan dengan dapur. dan langsung duduk di meja makan.


Sera begitu telaten, dia melayani Devan seperti istri pada umumnya. Sera mengambilkan nasi dan beberapa lauk fi piring Devan.


"Silahkan Tuan."


"Terima kasih." jawab Devan.


Kemudian Sera ingin mengambilkan makanan untuk Rendi, tapi di tolak oleh Rendi.


"Tidak usah nona Sera, saya bisa mengambilnya sendiri."

__ADS_1


"oke, baiklah Tuan."


Sera pun duduk menikmati makanan nya.


__ADS_2