Seraphina

Seraphina
Epson 42


__ADS_3

"Sayang, kau lupa tujuanmu datang kemari" tanya Devan. seketika Sera menghentikan langkahnya dan memutar badan menghadap ke arah Devan.


"Oh, iya lupa" Sera Menepuk jidatnya sendiri.


"Ish, Dasar pelupa" cibir Devan. Sera hanya tersenyum menampakkan jajaran gigi putihnya.


"Hehehehe" tawa nya kemudian melangkah ke ara Devan dan mengeluarkan amplop putih dari dalam tasnya kemudian menyerahkan ke pada Devan.


"Apa ini" ucap Devan sambil meraih amplop putih dari Sera."Kamu sakit" lanjutnya


"Tidak, Bukalah dan baca" pinta Sera pada Devan.


Devan segera membuka dan menatap selembar kertas putih yang bertuliskan hasil pemeriksaan dari sebuah Rumah sakit, kemudian ia mengambil beberapa lembar foto berukuran kecil menampakkan gambar USG.


Devan terkesiap melihat apa yang ia pegang kemudian menatap ke arah Sera.


"Itu foto calon anak kita" kata Sera yang melihat wajah Devan penuh akan pertanyaan.


"Maksudnya" Devan belum begitu paham dengan ucapan Sera.


"Ish, kamu ini ya, udah jadi pemilik sekaligus pimpinan di kantor sebesar ini tapi tak bisa membaca dan melihat yang ada di situ."


Mendengar ucapan Sera, Devan tercengang dan kembali melihat kertas yang masih ia pegang.


"Aku hamil".


"Apa, kok bisa, bagaimana bisa" ucap Devan yang melotot ke arah Sera.


"Kamu ini aneh dech, ya tentu bisa, kan kamu sering nanam benih di aku" Sera menyadari ucapannya seketika menutup mulutnya.


" omongan nya," cibir Devan.


"ya kamu sih, ada istri hamil kayak gak seneng gitu dengernya." Sera mencebikkan bibirnya, karena kesal melihat tanggapan dari sang suami.


"Bukan begitu sayang, aku hanya kaget aja dengernya." Devan berdiri menghampiri Sera dan memeluknya.


"Mas, Seneng banget denger nya, mas bahagia denger kamu hamil sayang. Terima kasih" kemudian menghujani Sera dengan ciuman di seluruh bagian wajah Sera.


Sera, tak dapat membendung lagi rasa harunya. Air muka nya telah membasahi wajah cantiknya.


"Kok nangis, kenapa?" tanya Devan dengan lembut.

__ADS_1


"Aku seneng banget mas, bisa lihat kamu se bahagia ini." kemudian Devan menghapus air mata Sera dengan tangan nya.


"Udah, jangan nangis lagi. nanti cantiknya ilang." Sera hanya mengangguk an kepalanya. "Mana senyumnya" kemudian Sera menunjukkan senyumnya.


"Sekarang, kamu duduk di Sofa tunggu aku, bentar lagi selesai kita pulang bareng aja" Sera mengerti kemudian mengambil posisi duduk di salah satu sudut sofa.


Devan kembali ke meja kerjanya, melanjutkan pekerjaannya yang masih belum kelar.


Karena Benar benar menggantung, Sera akhirnya tertidur di sofa dengan posisi masih duduk.


Devan melihat istrinya yang tertidur akhirnya menghampiri dan membenahi posisi tidur Sera. di rebahkan nya tubuh kecil Sera di atas Sofa.


Setelah merasa Sera dalam posisi nyaman, Devan duduk berjongkok di hadapan Sera.


"Terimakasih sayang, kamu telah memberi aku kebahagiaan ini. kebahagiaan ditengah tengah masa sulit yang aku alami. aku janji masalah ini akan cepat aku selesaikan. aku janji akan selalu membahagiakan kamu. maafkan aku yang telah berbuat kesalahan." tutur Devan lembut pada Sera, dengan membelai wajah cantik istrinya.


Devan kembali ke kursi kerjanya, melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Devan segera mengakhiri pekerjaannya. Di lihatnya sang istri masih tertidur dengan sangat pulas. Devan tak tega jika harus membangunkan sang istri. akhirnya ia memutuskan mengangkat tubuh Sera.


Sebelumnya, Devan telah mengirim pesan pada Rendi untuk menunggunya di mobil, dan mengantar mereka berdua pulang kerumah.


Saat berjalan menuju lobi yang bersamaan dengan jam pulang kantor, banyak karyawan yang melihat dengan tatapan kagum, ada juga yang tidak senang. Karena mereka tahu bahwa Sera hanya bekas Karyawan Rendah di kantor itu.


Mobil berjalan sangat lambat sore itu, karena bersamaan jam pulang kerja, mereka akhirnya terjebak kemacetan.


Rendi sedikit melirik kebelakang sari spion, ia melihat sedikit kegusaran di wajah Devan. Akhirnya ia membuka percakapan.


"Dev, loe kenapa kok mukanya kayak bingung gitu." tanya Rendi.


"Sera hamil" dijawab singkat oleh Devan.


"Hah, apa. Selamat ya bro, sekarang loe mau jadi ayah."


"Thank's"


"lha , kok kayak gak happy gitu sih "


"Bukannya gue gak happy, gue happy banget. tapi loe kan tahu sendiri, masalah gue sama Airin belum kelar. gue bingung gue harus gimana" jelas Devan pada Rendi.


Sera sedikit terusik dengan percakapan dua laki laki itu. tapi ia tetap memejamkan matanya agar bisa mengetahui apa masalah yang sedang dihadapi suaminya.

__ADS_1


"Loe udah cerita sama keluarga loe, mungkin mereka bisa bantuin loe." tanya Rendi.


"Mereka udah tahu, malah sebelum gue cerita mereka udah tahu duluan."


" Kok bisa !"


"Loe inget kan paklek dan bulek gue yang ada di luar Jawa. mereka datang kesini. dan waktu gue temuin Airin di kafe mereka juga ada di kafe sama. dan gue gak tau itu. mereka denger setiap obrolan gue sama Airin. dan mereka bilang mau bantu gue " Rendi hanya manggut manggut.


"Ren, bantuin gue napa. cari solusi dari masalah ini. gue gak mau Sera terluka karena masalah ini. gue baru sadar gue udah bener bener jatuh cinta sama Sera."


"Sabar Dev, gue akan cari tahu siapa dalang dari kejadian waktu itu. karena gue ngerasa janggal. karena melihat keadaan gue juga waktu itu."


"Thanks ya Ren. loe emang sahabat sekaligus adik gue yang terbaik"


"Ih, lebay amat loe" ucap Rendi.


Sera masih tetap dengan memejamkan matanya ia begitu penasaran dengan apa yang mereka berdua bicarakan. namun tak ada keberanian dalam dirinya untuk menanyakan hal itu.


akhirnya mobil sampai di parkiran apartemen Devan. Kemudian Devan turun dengan mengangkat tubuh Sera. membawanya masuk kedalam apartemen.


Rendi langsung pulang membawa mobil Devan. Dalam perjalanan Rendi memikirkan kejadian yang menimpa mereka di malam perjamuan makan malam itu.


Rendi mengambil telpon genggam miliknya mencari nomer seseorang setelah mendapatkannya, Rendi segera menghubungi nomer itu.


"Halo" ucap Rendi.


"Ya bos ada apa, tumben telpon gue." jawab seseorang dari sebrang telpon.


"Gue ada kerjaan buat loe, segera cari tahu siapa dalang dibalik kejadian yang menimpa gue dan Bos Devan. Rincian nya gue kirim lewat email."


"Baik Bos"


kemudian telpon terputus.


*****


Keesokan pagi Sera, terbangun karena rasa mual yang mendera nya, Sera bangkit dari tidurnya dan berlari menuju kamar mandi.


"Hoek...hoek...hoek...."


ia keluarkan semua isi dalam perutnya. Devan yang masih tertidur dibalik selimut pun mendengar suara Sera yang sedang muntah, ia langsung menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Sayang"


__ADS_2