
Di rumah sakit, Devan masih setia berada di samping sang istri. sudah hampir 24 jam namun Sera tak kunjung membuka matanya.
Devan merasa ada seseorang yang menepuk bahunya. Devan melihat sekilas ke arah orang itu.
"Dev, gue udah tahu dalang di balik semua yang menimpa rumah tangga loe dan Sera."
Devan langsung berdiri dan mengajak Rendi untuk berbicara sedikit menjauh dari Sera.
" Semua ini kerjaan Airin Dev, Airin juga dalamg dibalik kejadian yang menimpa kita malam itu."
Jedar
Devan begitu terkejut mendengar semua perkataan Rendi. Devan merasa tidak yakin bagaimana bisa Airin gadis yang dia anggap sebagai adiknya tega melakukan hal yang begitu keji.
Lamunan Devan buyar ketika Rendi memberikan dia sebuah bukti bukti yang memang menunjukkan Airin adalah dalangnya.
"Gue mau loe bawa dia ketempat biasa. gue mau tahu alasan sebenarnya. dan gue akan bikin perhitungan sama dia." geram Devan.
" Anak anak udah bawa dia ke sana, tapi ada satu hal yang loe harus ingat, dia beneran hamil anak loe Dev." ucap Rendi.
" oh...shitsss" umpat Devan.
Rendi segera pergi meninggalkan rumah sakit menuju rumah dimana tempat Airin berada.
setelah kepergian Rendi, Devan kembali mendekati Sera yang masih belum sadarkan diri.
"Sayang, bangun lah. aku minta maaf atas kecerobohan ku. aku mohon aku membutuhkan mu. aku sangat mencintaimu" ucap Devan memegang tangan Sera.
Devan sedikit kaget ketika merasakan adanya pergerakan tangan dari Sera.
"Sayang kamu sudah sadar" ucap Devan ketika melihat Sera mulai membuka matanya.
"Aku panggilkan dokter ya" kemudian Devan berlari untuk memanggil dokter.
Dokter telah selesai memeriksa Sera dan segera menemui Devan yang sedang menunggu di luar ruang rawat Sera.
"Bagaimana istri saya dok" tanya Devan.
"Ibu Sera, sudah melewati masa kritisnya. kini kami hanya kan memantau perkembangan nya ke depan. jika dalam waktu 2 × 24 jam menunjukkan perkembangan yang baik maka beliau bisa di bawa pulang." ucap Dokter.
" Terima kasih Dok" ucap Devan, kemudian dokter mengangguk dan pergi untuk melihat pasien lainnya. Devan segera masuk ke ruang rawat Sera.
"Sayang, kau baik baik saja. apa ada yang sakit." tanya Devan pada Sera .
__ADS_1
"Hanya sedikit pusing mas"
" kau mau sesuatu" Sera hanya menggelengkan kepalanya.
"Mas" panggil Sera.
"Iya sayang"
"Anak ku " tanya Sera sambil mengelus 0erutnya yang masih rata.
"Anak kita baik baik saja sayang. dia anak yang kuat." ucap Devan sambil tersenyum kemudian mengecup kening Sera.
"Anak kita kuat, Karena ibunya juga wanita kuat."
*****
Di kediaman Nugroho. Semua keluarga panik karena tak dapat menghubungi ponsel Devan. mereka takut terjadi sesuatu pada Devan. karena tak biasanya Devan sulit untuk di hubungi.
tanpa pikir panjang ibu Devan memilih untuk menelpon Rendi.
"Halo buk" suara Rendi terdengar setelah telpon terhubung.
"Nak, apa Devan sedang bersamamu sekarang" tanya ibu Rendi
"Kenapa dia di rumah sakit, apa Devan sedang sakit" suara ibu Devan terdengar begitu kuatir.
"Maaf bu, apa Devan tak mengabari ibu, jika Sera kecelakaan dan belum sadarkan diri sampai sekarang." ucap Rendi yang memang belum mengetahui jika Sera sudah sadar setelah kepergiannya dari rumah sakit.
"Kenapa, kok bisa. Baiklah, di rumah sakit mana dia di rawat." Setelah mendengar kan perkataan Rendi telpon pun diputus dan Ibu Devan segera memberitahu yang lain bahwa istri Devan mengalami kecelakaan dan di rawat di rumah sakit.
Mereka semua menuju ke rumah sakit setelah mendengar perkataan ibu Devan.
Tak membutuhkan waktu lama mereka sudah Sampai di rumah sakit.
Devan sedikit terkejut ketika mendengar pintu kamar rawat Sera terbuka. ia melihat keluarganya tengah berjalan masuk ke ruang rawat Sera.
"ibu, kenapa kalian semua di sini" pertanyaan yang konyol keluar dari mulut Devan.
"Kamu itu gimana to le, masak istri kecelakaan dan masuk rumah sakit malah gak kasih kabar ke kita" sahut bulek Devan.
"Maaf, Devan belum sempat ngabarin." ucap Devan.
"Kenapa dia bisa kecelakaan" tanya ibu Sera yang notabene nya masih belum bisa menerima kehadiran Sera.
__ADS_1
"Bisa kita bicara di depan, kasihan Sera, dia baru saja tidur." mereka semua setuju fan keluar ruangan.
Mereka semua duduk di kursi tunggu di depan kamar rawat Sera.
"Nak, jelaskan apa yang terjadi dengan istrimu." pertanyaan dengan suara yang lembut keluar dari bapak Devan yang sudah mau menerima Sera sebagai menantunya.
"Semua ini terjadi karena kecerobohan ku. karena kecerobohan ku aku hampir kehilangan istri dan calon anak kami." ucap Devan.
"Apa maksud mu Sera sedang hamil" Devan mengangguk mendengar pertanyaan ibunya.
"Kenapa dia ceroboh sekali, dia sudah tahu akan menjadi ibu, tapi kenapa dia tidak hati hati dan malah kecelakaan seperti ini." geram ibu Devan.
"Semua itu bukan salah Sera buk, semua ini salah Devan yang sudah sangat ceroboh. Dan kecelakaan ini di sengaja."
"Apa maksudnya nak"
" Semua ini ulah Airin. dia juga yang menjebak Devan agar dia bisa mengandung anak Devan seperti saat ini. Aku bingung harus bagaimana. aku tak mau Airin bersenang senang di atas penderitaan Sera. tapi aku juga bingung karena dia sedang mengandung anak ku."
" kamu tenang nak, kami akan membantu mu. kami sudah punya solusi nya."
Tanpa mereka sadari, Sera telah mendengar semua pembicaraan mereka dari balik pintu.
Sera menangis dalam diam, dadanya terasa sesak mendengar semua itu. Sera tak sanggup untuk mencerna semua yang terjadi.
"Hiks...hiks..." tangisnya pun pecah "Jadi semua ini yang selama ini kamu sembunyikan dariku mas. apa salahku". gumam Sera.
Mendengar derap langkah kaki yang mendekat, Sera segera kembali ke atas tempat tidur dan menghapus air matanya. agar tak ada yang mengetahui jika dia mendengar semua percakapan semua orang.
Ceklek
Suara pintu terbuka. mereka semua melihat ke arah Sera. mereka merasa kasihan denga keadaan Sera.
Bulek Devan mendekat dan mengelus kepala Sera dan berkata "Kasihan sekali kamu nak, semoga setelah ini semua akan baik baik saja."
"Dev, kami pamit ya, jika terjadi sesuatu, atau kau butuh sesuatu, segera hubungi kami. " ucap Bapak Devan, Devan hanya tersenyum
Mereka semua pulang setelah berpamitan pada Devan.
Setelah kepergian mereka, Sera yang awalnya pura pura tertidur pun membuka matanya. Ia pandangi Wajah Devan dengan penuh kekecewaan.
"Sayang kau bangun" ucap Devan namun Sera tak menanggapi nya sama sekali.
"Apa kau butuh sesuatu, kenapa kau hanya memandangi ku seperti itu. katakan kau butuh apa" ucap Devan kembali dan dengan suara berat Sera mulai membuka mulutnya.
__ADS_1
"Jelaskan,"