Seraphina

Seraphina
Epson 32


__ADS_3

"Maaf, Maaf kan saya Tuan. karena saya tidak teliti dan ceroboh anda kehilangan waktu berharga anda." Airin meminta maaf dengan memasang wajah sendu dan tampak bersalah.


"Sudahlah, semua sudah terjadi. yang terpenting masalah sudah beres." ucap Devan.


"Saya juga mau minta maaf Tuan, karena saya kurang teliti" Ucap Rendi.


"Hemmm... Jangan diulangi lagi. Kali ini saya maafkan kalian berdua. tapi jangan harap untuk lain waktu." ucap Devan.


"Jika kesalahan ini terjadi, saya bisa pastikan kamu akan menanggung kerugian yang saya alami karena kecerobohan kamu." lanjut Devan seraya melirik ke arah Rendi.


"Baik Tuan." jawab Rendi.


"Tuan Devan, saya ingin mengundang anda untuk acara makan malam nanti malam untuk menebus kesalahan sekertaris saya." ucap Alex.


"Baik lah Tuan, saya akan hadir dalam jamuan makan malam nanti." jawab Devan.


"Terima kasih Tuan,"jawab Alex


"Acara akan kami adakan di Cafe XX, " lanjut Alex.


"Baiklah, saya usahakan bisa Hadir. tapi mojon maaf saya hatus undur diri karena masih ada pekerjaan." Pamit Devan.


Devan segera bangkit dati kursi dan meninggalkan Tempat meeting. Sebelum Devan melangkah keluar ada suara yang menghentikan langkahnya.


"Kak Devan" Teriak seseorang membuat Devan berhenti dan menoleh ke arah sumber suara. Devan sangat mengenal suara tersebut.


"Ya"


"Maafkan Ai, kak. Karena kecerobohan Ai kakak jadi harus ninggalin istri kakak di kampung." ucap Airin. ( ya, suara tadi adalah suara Airin )


"Sudahlah Ai, gak usah kamu pikirkan. lagian dengan begini kakak bisa kasih privasi buat istri kakak untuk kangen kangenan sama keluarganya di kampung." ujar Devan sambil tersenyum kepada Airin.


"Makasih, kakak udah maaf in Airin. Oh ya, nanti malam pada jamuan makan malam Airin bisa ikut di mobil kakak gak." pinta Airin.


" Mobil kamu kemana." Tanya Rendi Nyerocos yang emang udah dari tadi gak suka lihat tampang Airin yang sok polos dan cari perhatian Devan.


"Mobil aku di bengkel lagi ada sedikit kerusakan." jawab Airin.


"Ya udah nanti kakak jemput. kakak pergi dulu ya. masih ada kerjaan." ucap Devan sambil tersenyum ke arah Airin.


Devan dan Rendi melangkah keluar . menuju mobil mereka yang terparkir di parkiran.


sesampai nya di dalam mobil.

__ADS_1


"Loe apa apa sih tadi." ujar Rendi


"Seharusnya gue yang nanya loe yang apa apa an. masalah sepele aja harus gue yang turun tangan langsung." cerocos Devan dengan mode sedikit emosi pada Rendi.


"Bukan itu maksud gue." jawab Rendi


"lha , udah salah gak mau ngaku lagi."


"Oke gue minta maaf untuk masalah itu." ucap Rendi


"Tapi permasalahannya sekarang kenapa loe sok baik di depan dia. pakek mau kasih tebengan segala sama tu mak erot." lanjut Rendi.


"Gue bukan sok baik. gue emang baik. hehehehe" cengir Devan.


"Loe emang udah baikan sama tu anak." Devan hanya ngangguk.


"Loe serius."


"Iya gue serius, gue udah baikan sama Airin."


"Bagus deh kalau loe udah baikan sama dia dan mau berdamai sama masa lalu. tapi gak usah lah loe kasih dia perhatian lebih. gue takutnya dia salah mengartikan nya." Kata Rendi


"gak bakal dia salah mengartikan perhatian gue ke dia. karena gue udah jelasin sama dia. bahwa rasa sayang gue sekarang cuma rasa sayang abang ke adiknya doang." jawab Devan dengan entengnya.


"Ya dia udah terima semua itu. jadi loe jangan bikin ribet. " pinta Devan pada Rendi


"udahlah yok jalan, loe mau terus di parkiran ini." lanjut Devan.


" Gak mungkin si mak erot itu mau nerima keputusan Rendi dengan begitu aja. gue tau mak erot itu kan udah dalam mode terobsesi sama Devan. pasti ada yang dia rencana in. gue harus hati hati." gumam Rendi di benaknya.


"Woy, ngapain si bengong mulu. buruan jalan." bentak Devan ke Rendi.


"Iya...iya..." kemudian Rendi melajukan mobilnya.


*****


Di tempat lain, nampak Sera sedang duduk santai dan ngobrol bersama kedua orang tuanya.


"Kak, gimana hubungan kamu sama Devan?" Tanya Ayah Sera.


"Ya begitulah yah." jawab Sera


"Begitu gimana maksudnya." sahut ibu Sera.

__ADS_1


"Ya begitu bu, seperti rumah tangga pada umumnya." jawab Sera


"Kamu bahagia dengan kehidupan pernikahan mu nak" tanya Ayah Sera.


"Alhamdulillah ayah ibu, Sera bahagia dengan pernikahan ini. mas Devan baik dan perhatian sama Sera. Sekarang ini Sera juga udah mutusin buat berhenti kerja supaya lebih fokus ngurus rumah tangga Sera dan mas Devan." jelas Sera.


"Hmmm,,, ibu sama Ayah seneng dengernya kalau kalian berdua sudah bisa saling menerima satu sama lain." Sera mengangguk dan tersenyum mendengar penuturan dari ibu nya.


"Ibu gimana sekarang dengan kesehatan ibu? " tanya Sera pada ibunya.


"Alhamdulillah, ibu sekarang sudah sehat dan gak pernah kambuh lagi. Ya, mudah mudahan akan selalu sehat seperti ini agar bisa melihat anak anak ibuk hidup bahagia dan melihat cucu cucu ibu tentunya." ucap Ibu Sera.


" Sera senang sekali mendengar ibu sudah benar benar Sehat Sekarang." ucap Sera sambil memeluk tubuh ibu nya.


"Kapan kamu mau beri ayah sama ibu cucu?" pertanyaan itu berhasil membuat Sera tersentak dan membulat kan matanya.


"Ibu apa an sih. Nanti kalau Tuhan sudah mempercayakan nya, InsyaAllah Ibu pasti bisa nimang cucu dari Sera." Ucap Sera.


" Ibu Do'akan, semoga Tuhan segera memberikan kalian anak anak yang lucu agar menjadi oenguat cinta kalian." ucap ibu Sera.


"Amin, Terimakasih ibu" ucap Sera.


Mereka larut dalam obrolan yang begitu seru hingga tanpa mereka sadari langit yang cerah telah berganti dengan gelap.


Sera pergi ke dapur untuk membuat makan malam untuk keluarganya. Sera begitu cekatan menyiapkan semua makanan kesukaan orang tua dan adiknya.


Setelah makan malam, Sera segera masuk kamar nya untuk beristirahat. karena rasa kantuk yang teramat tak butuh waktu lama untuk Sera masuk kedalam alam mimpi nya.


Dalam tidurnya Sera bermimpi bahwa lelaki yang amat ia cintai sedang berjalan di tepi jurang, dan tanpa sadar langkah kaki lelaki itu membuatnya terperosok ke dalam jurang yang sangat dalam.


Nafas tak beraturan, Keringat dingin mulai bercucuran di seluruh tubuh Sera. Seketika ia membuka mata dan berteriak.


"mas Devan" Teriak Sera seketika terbangun dari tidurnya.


nafasnya masih terengah engah.


"hah...hah...hah... Ternyata hanya mimpi. " ucap Sera menenangkan dirinya.


"Tapi kenapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini. Apa ada sesuatu yang terjadi dengan mas Devan." gumam Sera.


Ia baru menyadari bahwa Devan belum menghubungi nya sama sekali. Ia segera mencari telpon genggamnya untuk menanyakan kabar suaminya.


"Tut....tut....tut...."

__ADS_1


__ADS_2