Seraphina

Seraphina
Epson 26


__ADS_3

"Cantik" ucapku lirih


Tanpa sadar kaki kecilku membawa ku menghampiri istri cantikku, dia tak menyadari kedatangan ku. Kupeluk tubuhnya dari belakang. Dia tersentak kaget.


"Mas" ucapnya sambil menoleh kearah ku.


"Hmmm" jawabku mencium ceruk kepala nya.


"Apaan dih mas, aku masih masak. jangan gini ah" ucap nya berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan ku.


"Bentar aja sayang, biarkan seperti ini." pinta ku lirih


"Udah dong mas, nanti masakannya gosong kalau mas seperti ini." ucapnya


"baiklah, akan ku lepas tapi beri aku cium" dia memutar bola matanya.


"Ayo lah sayang" bisikku manja tepat pada telinganya.


Cup


Satu kecupan mendarat di bibir ku. aku tak menyangka dia akan memberi kecupan itu. meskipun hanya sekilas tapi berhasil membuat jantungku semakin berpacu.


"Sudah kan, sekarang lepaskan aku. dan duduklah. aku akan segera menyelesaikan ini agar kita bisa makan malam." ucapnya , aku mengulas senyumku dan melepaskan pelukanku.


Aku memilih untuk duduk dan menunggunya menyelesaikan pekerjaan nya di dapur.


*****


Author POV


Devan kini sibuk dengan berbagai file yang harus ia cek dan tandatangani. Devan ingin segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa makan siang bersama sang istri. Namun sebuah telpon tak terduga membuat rencana nya gagal.


Drrrtttt...Drrrrtt...Drrrrtt....


Devan "Halo, Assalamualaikum''


Ibu Devan "Waalaikumsalam nak"


Devan "Ada apa buk?"


Ibu Devan " Kamu bisa jemput ibu di mall XX di jam makan siang".


Devan "Maaf bu, Devan sangat sibuk hari ini"


Ibu Devan " Ayolah sayang, kamu tega sama ibu."


Devan "Aku telponin Devia Ya bu, Biar Devia yang jemput ibu"


Ibu Devan "Jangan ganggu Devia, dia sedang sibuk dengan tugas kuliah nya. kamu mau adik kamu itu gak lulus lulus kuliahnya."


Devan "Iya, ya sudah nanti Devan jemput ibu di sana. ibu tunggu Devan sampai Devan sampai. ibu jangan kemana mana"


Ibu Devan " makasih sayang, nanti ibu tunggu di food court ya!"


Devan " Baiklah bu, Assalamualaikum"


Ibu Devan " waalaikumsalam"

__ADS_1


Sambungan telpon pun berakhir.


Devan meraih telpon interkom di atas mejanya.


"Rendi, kamu suruh Sera keruangan ku sekarang" Klotak ganggang telpon ditaruh tanpa mendengar jawaban dari seberang.


Di ruangan Rendi kesal sendiri dengan kelakuan sahabatnya itu yang seenak jidatnya.


"Kampret, dasar bos gak tau etika, merintah orang seenak jidatnya. tutup telpon seenak jidatnya juga. Awas aja loe Dev." Gerutu Rendi."Ya, ya. nama nya juga Bos ya bebas suka suka Dia lah."lanjutnya.


Kemudian telponnya berdering kembali.


"drrrttt....drrrttt....drrrttt..."


"Ya Hallo" jawab Rendi.


"Udah sono panggilin Sera sekarang, gak usah pakek ngedumel apalagi ngumpat gue." ucap devan dari seberang telpon. Telpon pun langsung terputus kembali.


"Ahhhhh,,, Sial" Teriak Rendi."untung Bos, kalau bukan Bos udah gue bejek bejek loe" lanjut Rendi.


Meskipun menggerutu dengan perlakuan Devan, Rendi tetap bergegas ke kantin menemui Sera.


Di kantin masih sepi karena ini belum jam makan siang, jadi Rendi lebih mudah menemukan Sera. ketika sudah melihat Sera, Rendi segera menghampiri Sera.


"Permisi nona Sera." tegur Rendi.


"Ah, iya. " Seketika Sera menoleh ke arah Rendi.


"Eh Tuan Rendi. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Sera


"Baiklah, saya akan ke sana."


Sepeninggal Rendi, Sera bergegas pergi ke ruangan Devan. Sera merasa bahagia karena suaminya meminta nya ke ruang kerjanya. Tapi Sera juga merasa tak nyaman karena sepanjang jalan Banyak mata karyawan yang menatap tak suka pada Sera.


Tak sedikit karyawan yang bergunjing tentang Sera karena Perlakuan Devan kepada Sera kemarin siang di kantor.


Sera, berusaha bersikap biasa saja dan tak perduli. Sera mempercepat langkah kaki nya agar cepat sampai di ruangan Devan.


Tanpa mengetuk pintu, Sera langsung masuk keruangan Devan.


"Mas Devan, manggil Sera." Ucap Sera.


"iya sayang, sini mendekat lah" Sera berjalan mendekat ke arah Devan. Ketika Sera sudah berada di dekat Devan, Devan menarik tangan Sera, Sera tersentak kaget dan jatuh terduduk di pangkuan Devan.


"Ih apaan sih mas. nanti kalau ada yang masuk gimana."


"Udah gak akan ada yang masuk" Devan kemudian memeluk pinggang sang istri.


"Mas, geli tau"


"Biarkan seperti ini sebentar saja." pinta Devan. Sera pun diam menurut.


hampir 15 menit mereka sama sama terdiam dengan posisi yang masih sama. sebelum dikejutkan dengan kedatangan Rendi.


"Ceklek" Suara pintu terbuka. seketika Devan dan Sera memandang ke arah pintu.


"Ups.... Sorry, gue datang diwaktu yang tidak tepat. Silahkan di lanjut." ucap Rendi seketika langsung kembali menutup pintu.

__ADS_1


Mendengar perkataan Rendi. membuat kedua nya tersadar. Sera segera bangkit dan ingin segera keluar. Sera terlihat malu mengingat kejadian tersebut.


"mau kemana sayang" tanya Devan menghentikan langkah Sera.


" mau balik kerja mas, gak enak sama yang lain."


"Nanti kamu gak usah siapin makan siang buat mas." ucap Devan.


"Kenapa mas" tanya Sera.


"Mas nanti mau jemput ibu di mall XX, sekalian makan siang. kamu gak papa kan."


" iya udah gak papa, Mas Devan Jemput ibu. tapi jangan lupa makan siang." ucap Sera.


"Iya sayang." Sera meraih gagang pintu hendak keluar namun suara Devan menghentikan langkahnya lagi.


"Sera" panggil Devan


"Iya mas, ada apa lagi" Sera berbalik menghadap Devan.


"I Love You" Devan berbicara dengan senyum yang sangat manis membuat pipi Sera merona karena malu dan senang mendengar ucapan Devan. sangking malunya tanpa menjawab atau merespon ucapan Devan Sera segera keluar dan menutup pintu.


Devan terkekeh melihat tingkah laku sang istri.


"Lucu sekali" gumam Devan dalam hati.


Melihat Sera keluar ruangan Devan, Rendi segera masuk keruangan Devan membicarakan masalah pekerjaan nya.


"Ceklek" Suara pintu terbuka.


Rendi masuk keruangan Devan. melihat Rendi yang masuk Devan melemparnya dengan sebuah pena yang sedang ia pegang.


"Wusss" klotak. Rendi berhasil menghindarinya.


"wleeee,,, kagak kena" ejek Rendi. Devan hanya melotot kearah Rendi.


"Apa loe" Sentak Rendi pada Devan.


"Ngapain loe kesini, ganggu momen aja loe." kesal Devan pada Rendi.


"Salah sendiri, kalau mau mesra mesra an itu, pintu kunci dulu lah."


"Loe aja yang gak ada etika, masuk ruangan bos gak ketuk pintu dulu.'' sungut Devan.


"Lah, kan biasanya juga gitu keles." ucap Rendi santai.


"Tau Ah, males gue debat sam loe." Rendi hanya terkekeh melihat kelakuan Devan.


"Dasar Bos, suka suka loe dah. penting loe bahagia, gue juga bahagia." gumam Rendi dalam hatinya.


Rendi duduk di kursi di hadapan Devan, menyerahkan beberapa berkas yang harus di tanda tangani oleh Devan.


"Ni, berkas yang loe minta, tinggal tanda tangan."ucap Rendi dan menyodorkan berkas ke pada Devan.


"Hmmm" Devan meraih berkas tersebut dan mulai melihat satu persatu isi berkasnya.


"Ren, habis ini loe handle kerjaan gue ya?"

__ADS_1


__ADS_2