Seraphina

Seraphina
Epson 7


__ADS_3

Mentari telah menampakan cahaya nya. Seketika Desi mengerjapkan matanya dan melihat sekeliling kamar. Seketika iya terlonjak kaget ketika melihat jam dinding menunjukkan pukul 08.00. Desi bergegas bangun dari tempat tidurnya. Dia menyadari bahwa Seraphina tidak terlihat di dalam kamar. Desi mencium aroma masakan yang membuat perutnya lapar. Dan Desi yakin bahwa Seraphina sedang memasak. tak butuh waktu lama Desi bergegas menuju dapur.


"selamat pagi kak.''Desi menyapa sang kakak.


"Pagi." jawab Seraphina sambil tersenyum. " Kamu sudah bangun Dek."


"Iya kak. kenapa kakak gak bangunin Desi sih. Kan Desi jadi kesiangan bangunnya" ucap Desi.


"Maaf dek, kakak sengaja gak bangunin kamu. karena kamu kelihatan nyenyak sekali. Rencana nya kakak mau bangunin kamu ketika sarapan sudah siap." jelas Sera kepada Desi.


"hmmm." Desi hanya mengangguk.


"Ya sudah sekarang kamu mandi siap- siap, setelah itu kita sarapan dan berangkat melihat restoran tempat kerja kamu."


Desi bergegas membersihkan diri dan bersiap. setelah selesai Desi menemui Sera di dapur guna membantu Sera memasak. Saat Desi sampai di dapur ternyata Sera telah menyelesaikan masakannya dan mengajak Desi sarapan. Mereka begitu menikmati sarapan nya. setelah sarapan selesai mereka pergi menuju restoran tempat kerja Desi menggunakan taksi online.


Sesampainya di sebuah restoran mewah, Desi tak henti - henti nya menunjukan kekagumannya. Mereka masuk kedalam restoran dan menemui manager restoran. Sera dan Desi harus menunggu karena sang manager masih ada tamu. setelah menunggu selama 45 menit akhirnya sang manager menemui mereka. Desi menjelaskan pada manager bahwa dia adalah karyawan pengganti yang direkomendasikan oleh Sifa, salah satu karyawan yang teladan di restoran tersebut. Manager pun langsung menjelaskan semua yang harus dikerjakan dan aturan ketika bekerja di restoran. setelah menjelaskan semua nya, manager memberikan seragam kerja kepada Desi dan menyuruh Desi datang esok hari untuk bekerja.


~ di kediaman Nugroho~


Seperti weekend sebelum sebelumnya. Devan selalu menghabiskan weekend nya di rumah bersama orang tua dan adiknya. karena menurut Devan quality time bersama keluarga itu penting. Sesibuk apapun Devan ia selalu meluangkan waktu tersendiri untuk keluarganya walaupun hanya untuk bersenda gurau atau berkumpul bersama di rumah. Sedangkan Kakak Devan yang sudah berkeluarga memutuskan untuk tinggal diluar kota. Saat mereka sedang asik bercanda, seketika Devan menunjukan wajah yang tidak senang karena pertanyaan sang ibu.


"Devan, kapan kamu akan mencari pendamping hidup nak." Tanya sang ibu.


"Iya nak, Bapak sama ibu sudah tua, kapan kamu akan memberikan kami cucu.'' ucap Bapak kepada Devan


" Maaf pak buk, Devan belum kepikiran. nanti ketika tiba waktunya pasti Devan akan menikah. bapak dan ibuk do'akan saja yang terbaik untuk Devan.'' Devan mengatakan itu sambil berdiri dan berlalu menuju kamarnya.

__ADS_1


" Kapan sih pak anak itu akan menuruti kemauan kita? ibu malu pak, anak teman - teman ibu seusia Devan sudah pada nikah dan punya anak.'' keluh ibu Rahma ( ibunya Devan ).


" Sabar buk, Kita do'akan saja yang terbaik untuk Devan.'' jawab Bapak nugroho.


" Bapak sama ibuk tenang saja, nanti biar Devia bicara sama mas Devan. " kata adik Devan kepada kedua orang tuanya. " Ya sudah bapak sama ibuk istirahat saja, Devia ke kamar mas Devan dulu."


Devia mengetuk pintu kamar Devan.


*tok...tok...tok...


"Mas Devan*." panggil Devia. Karena tidak ada respon Devia memanggil Devan sekali lagi.


"Mas Devan. ini Via, Via mau bicara sama mas. bisakah Via masuk."


"Hmmm... masuklah Via, pintunya tidak mas kunci." Devia masuk ke kamar Devan.


"Tidak dek, mas tidak sedang sibuk. sini masuk duduklah di samping mas.''Devia mendekat dan duduk di samping Devan.


" Mas." panggil Via.


"Iya dek, kamu mau bicara Apa?"


"Via mau bicara, tapi mas janji gak akan marah sama Via ya.". ucap Via


"Bicaralah dek mas tidak akan marah."


"Mas, apa mas masih tidak bisa lupakan mbak Airin." mendengar pertanyaan Devia, Devan hanya melirik ke arah Devia.

__ADS_1


" Mas, mas jangan terlalu terpuruk dalam masa lalu. mas harus fikirkan masa depan mas. apa mas tidak kasian melihat bapak sama ibuk setiap hari memikirkan masa depan mas." ucap Devia lagi.


" Bukan nya mas belum bisa melupakan Airin dek, tapi mas terlalu takut untuk membuka hati." ucap Devan


"Asal kamu tahu dek, mas mu ini memang belum bisa melupakan Airin dan masih berharap Airin kembali pada mas, mas hanya tidak ingin kalian tahu tentang perasaan mas." gumam Devan dalam hati.


"Mas yakin tidak berbohong pada Via. Via kenal mas, Via tahu mas masih sayang sama mbak Airin. tapi mas harus melupakan mbak Airin dan membuka lembaran baru. mulailah membuka hati mu mas." ucap Devia.


" Mas akan coba dek, tapi mas tidak janji mampu melakukan itu" jawab Devan.


" baiklah mas, mas harus yakin mas bisa, dan yakinlah mas suatu hari mas akan mendapatkan yang terbaik untuk kehidupan mas" ucap Devia," Via pergi dulu ya mas, Via mau ke toko buku mencari referensi untuk Via skripsi."


Sepeninggal Devia, Devan terus memikirkan perkataan Devia kepadanya. Apa yang harus dia lakukan, apakah ini waktunya untuk Devan melupakan Airin. wanita yang telah mengisi hari hari nya hampir 5 tahun dan meninggalkan nya tanpa kabar selama setahun terakhir ini. Rasanya begitu sulit melupakan Airin. Rasanya belum sanggup Devan membuka hati untuk wanita lain.


Devan mengurung dirinya dikamar seharian. Bahkan dia tidak turun untuk makan siang ataupun makan malam. kedua orangtuanya sangat khawatir memikirkan putra semata wayangnya itu.


Devan yang sedang kacau dan tidak tau harus berbuat apa. Devan menghubungi Rendi untuk menemui nya di rumah. Rendi yang kala itu sedang berada di apartemen nya langsung menuju rumah Devan. Rendi begitu menyayangi dan mengutamakan segala urusan Devan. Baginya Devan lah yang terpenting.


Sesampainya di rumah Rendi langsung menuju kamar Devan. Melihat Devan yang kacau Rendi begitu prihatin. Rendi mendekati Devan, Devan yang melihat Rendi datang dia langsung menceritakan semua masalahnya. Rendi tau bahwa Airin adalah wanita yang begitu berarti dalam hidup Devan. setelah mengatakan apa yang di rasakan kepada Rendi, Devan merasa lebih baik. melihat sahabatnya lebih baik, Rendi mulai mengatakan apa yang ingin ia katakan.


" Menurut gue semua yang dibilang Via itu benar Van! loe harus berusaha ikhlas menerima semua ini, dan mulailah membuka hati untuk wanita lain." kata Rendi pada Devan


" Aku belum yakin aku bisa melupakannya dan membuka hat ku kembali."


"Cobalah dulu, kalau kau tidak mencobanya kau tak akan pernah tau." Mendengar itu Devan hanya menganggukkan kepalanya.


"Ayolah bro... mana Devan yang gue kenal, Devan yang Ceria Devan yang selalu bercanda."

__ADS_1


"hufffft .." Devan membuang nafasnya dengan kasar. " Baiklah akan aku coba." ucap Devan.


__ADS_2