Seraphina

Seraphina
Epson 15


__ADS_3

"Maaf Tuan." ucap Sera sambil melepaskan pelukannya.


Begitu malu rasanya, seketika Sera membalikan badannya menuju ranjang. Namun langkahnya terhenti ketika Devan menarik tangan Sera. karena tarikan yang kencang membuat Sera terhuyung dan jatuh kembali ke pelukan Devan.


Kedua mata mereka saling menatap. Jarak yang begitu dekat membuat mereka saling memandang dengan leluasa. Jantung mereka pun berdetak beriringan.


Melihat bibir ranum Sera, membuat Devan ingin sekali mengecup bibir itu. tanpa dia sadari tangan Devan telah menarik tengkuk Sera dan kini sebuah kecupan mendarat pada bibir Sera. Devan mel*m*t lembut bibir Sera. Tak ada perlawanan atau balasan dari Sera.


"Ah... shittt." Umpat Devan ketika tersadar dan mengakhiri ciuman itu.


Sera berlari menuju tempat tidur, segera membaringkan tubuhnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"apa itu tadi, apa aku mimpi, ciuman itu.... itu ciuman pertama ku... dan Tuan Devan... Ah... ada apa dengan diriku. kenapa aku malu sekali." Gumam Sera dalam hati.


Devan menggelengkan kepalanya, dan dengan langkah cepat menuju kamar mandi. Devan berdiri di depan cermin menatap dirinya sendiri


"Ah... Sial, kenapa aku tak bisa mengontrol diriku ini. apa yang aku lakukan. kenapa kamu bodoh Devan. kenapa kau melakukan itu padanya. Seharusnya kau tak melakukan itu. apa yang akan Sera pikirkan terhadap dirimu. apa dia tetap akan menerima mu setelah perlakuan bodoh mu tadi." Rutuk Devan pada dirinya sendiri.


"Oke, mungkin ini saatnya aku jujur pada Sera. apapun yang terjadi aku harus menerima semua ini." Devan meyakinkan dirinya sebelum keluar dari kamar mandi.


Setelah berperang dengan hati dan pikiran nya, Devan keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Sera masih setia dengan posisi di balik selimutnya itu. Dengan tekat kuat dia menghampiri Sera dan duduk di sisi ranjang itu.


"Huft.." Devan membuang nafasnya dengan kasar.


"Sera, apa kau sudah tidur."


"...."


"Sera, saya mohon kali ini dengarkan saya, saya mau bicara sama kamu." Masih tak ada sautan dari Sera.


"Baiklah, maaf jika aku mengganggu tidurmu. aku keluar dulu." ucap Devan seketika Sera membuka selimutnya dan duduk.


"Maaf Tuan, bukan maksud saya mengabaikan anda, tapi~." ucapan Sera terhenti ketika satu jari Devan menyentuh bibir Sera."


"Tolong, kali ini jangan bicara. Tolong Dengarkan setiap perkataan ku dan jangan memotong ucapan ku sebelum selesai."Sera hanya diam dan mengangguk an kepalanya.


"Sera aku bukan orang pandai bicara. tapi aku berharap kamu dapat mengerti dan menerima semua perkataan ku. Entah kapan dan bagaimana perasaan ini muncul. yang jelas aq nyaman saat berada di sampingmu. aku merasa bahagia ketika melihat kau bahagia dan tersenyum. aku juga akan merasa sakit bahkan sangat sakit saat melihatmu bersedih. aku benci melihat air matamu." Seketika Sera mendongakkan wajahnya menatap mata Devan mencari sebuah ketulusan dan kejujuran.

__ADS_1


"Aku sayang sama kamu Sera. " ucap Devan.


"Maksud Tuan."


"Saya CINTA kamu Sera". ucap Devan kembali memberi tekanan pada kata Cinta.


"Saya juga cinta sama kamu Devan, tapi saya tidak pantas dengan anda." gumam Sera dalam hati.


"Maaf Tuan, saya merasa saya tak pantas untuk mendapatkan Cinta anda. saya hanya orang kampung yang tak sepadan dengan anda." ucap Sera dengan nada sedikit bergetar.


" Tolong Sera, jangan berkata seperti itu. Cinta tak mengenal pada siapa dia berlabuh, kapan dia muncul, dan bagaimana dia tumbuh. rasa itu datang dengan sendirinya." tutur Devan.


"Tapi,~" ucap Sera terpotong.


"Saya mohon Sera, kita mulai semua dari awal. kita jalani semua ini, jika kamu belum mencintai ku, bisakah kau belajar mencintai ku. menerima semua kekurangan dan kelebihan ku."


"Mari kita jalani kehidupan rumahtangga kita seperti yang seharusnya. saya akan selalu berusaha menjadi yang terbaik dan memberi kebahagiaan kepada kamu." lanjut Devan.


Tak terasa buliran air mata telah membasahi pipi Sera.


"Sa... saya juga sayang sama Tuan. saya hanya takut rasa ini sepihak dan tak terbalas. selama ini saya berusaha menyimpan perasaan ini. karena saya tak mau jatuh lebih dalam." ucap Sera .


"Terimakasih kamu telah mau menerima cinta saya, mari kita mulai semua dari awal. oke." sebuah kecupan mendarat pada pucuk kepala Sera.


"I love you my Wife." ucap Devan.


"sekarang istirahat lah, kau pasti capek." ucap Devan kemudian mereka berdua berbaring di atas ranjang yang sama.


Sera sudah mulai memejamkan matanya. sedangkan di sisi lain Devan belum juga bisa terpejam. Entah perasaaan apa yang dia rasa. menatap wajah sang istti membuatnya semakin gusar dan hanya bisa membolak balikan badannya kekanan dan ke kiri untuk menemukan posisi ternyaman dalam tidurnya. merasa terusik Sera membuka matanya


"Tuan, anda belum tidur." tanya Sera


"Ah,,, maaf aku membuat tidurmu terganggu." jawab Devan.


"Ada apa Tuan, kau terlihat gusar."


"hmmm.. ah...iya..." gusar Devan.

__ADS_1


"Ada apa Tuan, apa kau lapar. jika kau lapar aku bisa memanaskan makanan untuk mu."


"Tidak, aku tidak lapar."jawab Devan.


"Lalu..."


"Bisakah aku meminta hak ku sebagai seorang suami." pinta Devan lirih.


*Deg.


Deg


Deg


Sera tersentak hingga jantungnya seakan berhenti berdetak.


"Apa, tuan Devan meminta hak nya, apa yang harus aku lakukan. jika menolak aku akan dosa. jika aku setuju. aku sendiri belum siap." Batin Sera*


" Sudahlah, tidak usah di pikirkan kau tidur saja, maaf jika aku lancang, aku tak akan mengatakan atau meminta nya lagi sampai kau benar-benar siap." ucap Devan.


"Tidak Tuan, itu sudah menjadi hak anda, dan itu kewajiban saya untuk melayani suami saya." ucap Sera dengan sedikit gugup


"Maafkan saya selama ini saya belum bisa menjadi istri yang baik untuk Tuan." lanjutnya lagi


"Saya sudah siap melakukan kewajiban saya Tuan. saya sepenuhnya adalah milik anda. sudah kewajiban saya melayani anda kapan pun anda menginginkan nya." ucap Sera.


"Apa kau benar benar sudah siap, aq tak akan memaksa mu. Aku masih bisa menunggu sampai kau siap." kata Devan.


'iya Tuan, lakukanlah. Saya siap." ucap Sera.


"hmmm...."


Tanpa pikir panjang Devan menatap Sera, dan mulai mengecup kening Sera, mengecup setiap inci wajah Sera. Devan mengecup bibir dan melum*t bibir Sera dengan lembut. Dan malam panjang mereka pun di mulai. dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi.


~^***Maaf kakak reader, author terlalu polos untuk bahas hal hal yang bersifat intim. jadi pake imajinasi masing-masing ya?^~


Dukung terus author yang masih amatiran ini ya? karrna dukungan kalian author bisa terus semangat nulisnya.

__ADS_1


Maaf jika bahasa nya kaku dan banyak typo.


Author ❤️❤️❤️sama kakak reader***


__ADS_2