Seraphina

Seraphina
Epson 44


__ADS_3

Hampir 30 menit Devan menunggu Sera di depan ruang IGD. Devan nampak duduk dengan menunduk kan kepala dan tangan yang menutup wajahnya. Delam hati Devan tak henti henti mendoakan istri dan calon anaknya.


"Tuhan, Selamatkan mereka. aku sangat membutuhkan mereka. Mereka segala nya bagi ku. Aku tak akan bisa memaafkan diri ku sendiri jika terjadi sesuatu pada mereka." ucap Devan dalam hati.


"Ceklek" Terdengar suara pintu terbuka. Terlihat seorang dokter keluar dari ruang IGD. Devan segera berdiri dan menghampiri dokter tersebut.


"Dok, Bagaimana keadaan istri saya." tanya Devan


" Sebelumnya Saya minta maaf." mendengar Ucapan dokter Devan sedikit syok.


"Apa maksud dokter."


"Ibu Sera saat ini masih dalam kondisi kritis dan tak sadarkan diri. kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU, untuk memberi perawatan yang lebih intensif." jelas Dokter.


"Lalu, bagaimana dengan kandungannya Dok."


"untunglah janinnya kuat Tuan, Jadi Kandungan nona Sera baik baik saja Tuan. itu lah kabar baiknya. Namun ada satu hal yang harus kami sampaikan. Jika nona Sera tak segera sadar dalam waktu dekat ini, saya khawatir akan terjadi hal buruk pada janinnya." mendengar penjelasan dokter, ada rasa bahagia bahwa calon anaknya baik baik saja. tapi tak ia pungkiri, hati nya hancur mendengar keadaan istrinya dan kemungkinan yang akan terjadi.


"Lakukan yang terbaik Dok, untuk istri dan calon anak saya." ucap Devan lirih dengan nada memohon kepada sang dokter.


"Kami, akan lakukan yang terbaik. saya permisi Tuan." dokter pun meninggalkan Devan.


Devan tak dapat mencerna semua kejadian yang menimpa istrinya. Devan melangkahkan kaki nya ke ruang ICU guna melihat keadaan sang istri secara langsung.


Devan duduk di kursi tepat sebelah tempat tidur sang istri. Devan tertegun melihat wajah istrinya yang pucat. Banyak selang terpasang di tubuh mungil sang istri.


Hancur rasanya hati Devan melihat kondisi sang istri. Devan meraih tangan sang istri. Tak terasa buliran bening telah membasahi pipi nya.


"Yank, kenapa ini semua terjadi." ucap Devan terhenti sejenakmerasakan sesak di dadanya.


"Maaf kan aku sayang, maaf kan aku yang tak bisa menjaga mu dan anak kita. Mas mohon bangunlah demi aku. bangunlah demi anak kita yang masih tumbuh di dalam sini." ucap Devan sambil meraba perut sang istri.


Devan masih menatap nanar wajah sang istri nampak begitu pucat. dengan sesekali ia mencium tangan istrinya.

__ADS_1


Karena masih dalam kondisi yang kalut melihat keadaan sang istri Devan tak menyadari ada seseorang telah berdiri di sampingnya.


"Dev" panggil orang tersebut sambil menepuk bahu Devan. Devan mendongak melihat sekilas ke arah orang tersebut dan kembali menatap wajah istrinya.


" Apa yang terjadi dengan Sera, kenapa loe gak cerita sama gue." Mendengar lontaran pertanyaan itu Devan hanya menggeleng.


" Gue tadi cari loe di kantor, dan kata resepsionis loe tadi lari keluar kantor dengan terburu buru. gue kawatir sama loe, jadi gue suruh anak buah gue buat cari posisi loe dimana. dan bilang loe di sini. jadi gue langsung kesini." ucap Rendi. mendengar Rendi berbicara Devan teringat sesuatu dan pada akhirnya dia mau bicara pada Rendi.


" gue mau anak buah loe cari siapa yang udah nabrak Sera." ucap Devan singkat.


" oke, gue akan minta mereka buat cari tahu semua itu." ucap Rendi. " Lalu keadaan Sera sekarang gimana?" tanya Rendi.


"Loe bisa liat sendiri kan dia belum sadar, hanya Tuhan yang tahu kapan dia akan sadar. Dokter bilang jika dalam waktu dekat dia tak sadarkan diri, akan terjadi hal buruk pada anak gue." lirih Devan menjelaskan keadaan sang istri.


"Sera gadis kuat Dev, jadi loe juga harus kuat dan tegar ngadepi cobaan ini. istri dan anak loe butuh dukungan dari loe. berdoalah meminta pada Allah, semoga Sera akan segera sadar. "


*****


Dikediaman Nugroho.


" iya pak." ucap ibu Devan kemudian mengambil telpon genggamnya, untuk menghubungi Devan. beliau nampak Mulai gusar karena beberapa panggilan tak di jawab oleh Devan.


"Kenapa buk, gak bisa dihubungi" tanya bapak Devan.


"Iya pak, gak diangkat sama Devan. mungkin dia lagi meeting buk." ucap Bapak Devan sedikit menenangkan hati Ibu Devan.


"Tunggu 30 menit lagi buk, baru ibu hubungi Devan lagi." perintah bapak Devan dan ibu Devan hanya mengangguk.


*****


Di tempat lain, Rendi menemui beberapa anak buahnya. Ia mau mengetahui perkembangan pencarian tentang pelaku yang menabrak Sera.


Rendi berdiri berkacak pinggang membelakangi beberapa orang yang tengah berdiri tegap di belakangnya.

__ADS_1


"Gue, gak mau tahu. apapun dan bagaimana pun caranya. kalian harus segera menemukan penyebab dan pelaku yang telah menabrak istri Devan." ucap Rendi dengan nada keras dan tegas nya.


"Baik Kak, kami akan cari tahu semua. Kakak tenang saja. dalam waktu 24 jam. kakak akan tahu kebenaran semuanya."


"Hemmmm." Rendi hanya berdehem. lalu pergi meninggalkan mereka semua.


Ya, anak buah Rendi selalu memanggil Rendi dan Devan dengan sebutan kakak. Karena bagi Mereka Rendi dan Devan adalah sosok seorang kakak.


Flashback On


Di jalanan yang nampak ramai oleh lalu lalang kendaraan terlihat beberapa anak yang tengah bersusah payah mencari sesuap makanan.


Seperti biasa Devan dan Rendi akan selalu berbagi ketika mereka mendapat rejeki lebih.


Devan dan Rendi menghampiri anak anak yang ada di tepi jalan dengan beberapa tenteng kresek berisikan nasi bungkus.


"Permisi, ini ada sedikit makanan untuk kalian." Ucap Devan lembut membuat beberapa anak terperanjat kaget. karena sebelumnya tak pernah ada yang memberi mereka makanan gratis.


Mereka satu persatu menerima makanan dari Devan dan Rendi.


"Makanlah, kalian pasti lapar." ucap Devan.


"Terima kasih kak." ucap mereka serempak.


"Kami boleh duduk disini" ucap Rendi dan diangguki mereka semua berbarengan. Devan dan Rendi duduk diantara mereka semua.


Devan dan Rendi tertegun melihat mereka semua yang begitu lahap ketika makan. Hati Devan dan Rendi begitu bahagia melihat anak anak jalanan itu bisa tersenyum dan bercanda di sela sela makan mereka.


Senyuman Devan buyar ketika ada seorang anak laki laki berusia 17 tahun menghampirinya.


"Kak, apa makanan nya masih ada. Aku ingin membawanya pulang untuk ibu ku. dia belum makan dari kemarin. karena aku gak bawa uang pulang. dan Sekarang ibu di rumah sedang sakit." mendengar nya, Hati Devan terasa teriris teringat ibunya yang ada di rumah.


"Masih, tentu saja kamu boleh ambil untuk ibu kamu." Ucap Devan sambil menyodorkan bungkusan pada anak itu.

__ADS_1


"Terimakasih Kak"


__ADS_2