
Mila menatap lekat pada pria yang berada di hadapannya saat ini. Terlihat jelas wajah yang begitu dingin itu kini sedang sangat khawatir.
"Tuan ada apa?" Tanya Mila dengan wajah gugupnya, ia merasa seperti penjahat yang sedang tertangkap basah saat melakukan aksinya.
"Kenapa aku selalu berada di situasi seperti ini." Keluh Mila dalam hatinya.
"Apa kau baik-baik saja" Tanya Ravin yang berjalan mendekat ke arah Mila, dengan gaya arogannya.
"Saya baik-baik saja tuan'' Mila langsung bangkit dari tempat tidurnya dan berusaha untuk berdiri. Namun karena tubuhnya yang sedikit lemah karena kekurangan banyak cairan membuatnya tak bisa berdiri dengan tegak.
"Kau bilang kau baik-baik saja, tapi apa untuk berdiri saja kau tidak kuat" Bentak Ravin masih dengan raut wajah dinginnya, lalu ia pun mulai membantu Mila untuk tertidur kembali di atas ranjangnya.
"Tuan saya baik-baik saja, anda tidak perlu khawatir mungkin sebentar lagi rasa pusingnya akan hilang''
"Aku tidak mengkhawatirkan mu tapi. Sudahlah kau tidak perlu memikirkan apapun, sekarang kau istirahatlah jangan terlalu banyak bergerak agar kesehatan kalian tidak terganggu"
"Kalian?" Mila mengerutkan keningnya, tanda tak mengerti apa yang sedang Ravin katakan padanya.
"Aku akan membelikan vitamin dan sus agar nutrisi kalian terjaga'' Ucap Ravin, yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Mila dengan raut wajah bingungnya.
"Pria itu aneh sekali, apa yang sebenarnya dia bicarakan. Aduh... kepalaku tambah pusing sekarang dan perutku juga kenapa diare nya belum reda juga padahal aku sudah meminum obatnya tadi" Dengan langkah cepat Mila pun turun dari ranjangnya dan berlari masuk ke kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya.
Sedangkan Ravin kembali ke kamar Mila dengan membawakan segelas susu hangat dan vitamin di tangannya, "Dimana dia?" Ravin memindai seluruh ruangan itu dan mendengarkan suara percikan air di dalam kamar mandi.
"Sebaiknya aku simpan disini saja" Ravin meletakkan gelas berisi susu hangat di atas nakas, kemudian banyangan Anggun pun kembali terlintas di benaknya saat Ravin melihat gelas itu.
Saat awal kehamilan Kenzo anggun selalu meminta segelas susu hangat yang Ravin buat sendiri, dan ia selalu tersenyum bahagia saat Ravin membawakan nya dengan penuh cinta.
"Aku akan membawakan segelas susu hangat untuk nya setiap hari, karena kau juga darah dagingku walau mungkin kau hadir bukan dari wanita yang kucintai tapi kau adalah keturunan Adyaksa"
"Tuan sedang apa anda disini?'' Tanya Mila saat melihat Ravin hanya berdiri mematung menatap gelas berisi susu di hadapannya.
"Hhm... kau minumlah susu hangat itu mungkin akan mengurangi rasa mualmu" Ucap Ravin dengan nada dinginnya dan langsung meninggalkan ruangan itu dengan cepat.
"Ada apa dengan tuan arogan itu, tunggu apa dia menangis tadi, ahh tidak mungkin pasti aku salah lihat saja tadi" Mila hanya mengangkat bahunya dengan acuh, ia memakai jaketnya dan bersiap untuk pergi ke rumah adiknya. Dan melupakan segelas susu hangat yang Ravin buatkan untuknya.
*
__ADS_1
*
"Kerjakan apa yang aku perintahkan sekarang, karena aku sudah membuat wanita kampungan itu untuk tetap berada di kamarnya. Jadi sudah di pastikan bocah tengik itu hanya sendirian sekarang dan untuk wanita tua itu akan menyibukkan nya agar pikiran nya teralihkan." Ucap Karina dengan senyuman penuh arti.
"Bocah tengik, aku tidak akan pernah menyerah begitu saja. Aku juga sudah melemahkan pelindungmu dengan mencampurkan obat kedalam makanannya. maka bersiaplah aku akan membuangmu sejauh mungkin agar kau tidak menggangguku untuk mendekati Ravin ku, dan jika kau minta ingin bertemu dengan mommy mu maka dengan senang hati aku akan mengambulkan nya" Tawa Karina menggelegar memenuhi ruangan itu, seperti seorang psikopat yang haus untuk melenyapkan seseorang.
"Beres bos"
"Lakukan dengan cepat dan jangan sampai meninggalkan jejak apapun'' Perintahnya pada para preman sewaannya.
*
*
"Kau tidak masuk angin kak, ini tidak merah" Ucap Mia yang sedang mengerok punggung kakaknya.
"Bagaimana mungkin tidak masuk angin, setelah aku kembali dari sini kemarin aku kehujanan. Aku diare dan tidak hanya itu aku juga mual dan muntah sejak pagi tadi." Mila menjelaskan panjang kali lebar pada adiknya.
"Mungkin kau salah makan saja kak"
"Entahlah yang pasti sekarang perutku masih terasa sakit sekali'' Keluh Mila.
"Dasar gadis tidak waras, itu tidak mungkin lagi pula aku tidak tahu bagaimana jadi orang hamil" Ucap Mila dengan wajah sendunya.
"Maaf" Mia merasa sangat bersalah sudah berbicara hal yang begitu sensitif di hadapan kakaknya.
"Sudahlah, aku harus pulang sekarang mungkin saja Kenzo sudah pulang dan mencari ku" Mila langsung memasang raut wajah cerianya kembali, karena ia tak ingin jika adiknya melihat sisi lemahnya saat ini.
"Aku antar kak"
"Tidak perlu, aku naik taksi saja'' Mila pun berpamitan pada adiknya, namun ponselnya terus bergetar di saku jaketnya sejak tadi tapi Mila terus mengabaikan nya.
''Kak apa itu ponselmu"
"iya biarkan saja''
"Kenapa kau tidak mengangkatnya apa dia kekasih barumu?" Goda mia.
__ADS_1
"Jangan berpikir aneh-aneh"
"Aku tidak berpikir aneh kak, hanya saja kenapa kau malu untuk mengangkat panggilan itu, apa kau mau merahasiakan nya dari ku" Ucap Mia dengan menaik turunkan sebelah alisnya untuk menggoda sang kakak.
"Itu tidak benar, lihatlah ini bukan siapa-siapa. tunggu! ini panggilan dari Kenzo" Seru Mila saat melihat layar ponselnya, dengan cepat ia pun mengeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
"Hallo anak tampan, apa kau sudah pulang?" Tanya Mila saat wajah Kenzo memenuhi layar ponselnya.
[Belum, aku menunggu mommy disini]
''Hmm... Apa grandma belum datang menjemput mu sayang?''
[Belum]
"Baiklah tunggu sebentar, aku akan segera datang menghampiri mu, hanya lima menit okey''
[Okey,] Jawab Kenzo dengan senyuman mengembang memperlihatkan gigi putih nya, namun tiba-tiba senyuman itu menghilangkan saat terlihat beberapa orang pria dewasa menghampirinya dan merebut ponsel milik Kenzo dan melemparnya begitu juga.
Semua itu di saksikan langsung oleh Mila, "Kenzo" Pekik Mila, saat melihat layar ponselnya kini menghitam tanda panggilan video itu telah berakhir.
"Ada apa kak''
"Mia cepat ayo kita kesekolah Kenzo''
"Tapi ada apa kak''
"Mia jangan banyak bertanya, sekarang dimana kunci motornya"
Namun Mia masih sedikit bingung dengan perubahan tingkah kakaknya yang terlihat begitu cemas dan khawatir.
"Cepat Mia kenapa kau diam saja." Bentak Mila pada adiknya.
"Iya ini kak" Mia langsung memberikan kunci motornya pada sang kakak. dan dengan cepat Mila mengambilnya dan memakai helm nya.
"Ayo ikut dengan ku sekarang" Ajak Mila, sedangkan Mia hanya menurut saja tak berani bertanya apapun lagi, karena saat ini kakaknya sedang sangat marah dan ketakutan dalam waktu bersamaan.
"Sebenarnya ada apa dengan Kenzo, kenapa kakak begitu cemas setelah melakukan panggilan video dengan bocah itu, atau jangan-jangan?"
__ADS_1
Bersambung..