
Mila mengangkat gaun putih yang ia kenakan saat ini dan berjalan mencari celah agar ia bisa keluar dari tempat asing tersebut. Karena tak memungkinkan baginya keluar melewati pintu ruangan itu.
"Haruskah aku memajat jenda ini?" Pikirannya dalam hati saat melihat jlalan satu-satunya yang ada di tempat itu.
"Ini terlalu sulit untukku, tapi aku akan mencoba nya'' Mila membuka sepatunya dan memajat jendela yang berukuran tiga puluh centi itu.
"Wow, sepertinya ini Tidak terlalu sulit!'' Mila berusaha untuk keluar dari ruangan itu, namun aktifitas nya berhenti saat ia mendengar suara Hendra di belakangnya. Membuat Mila hilang keseimbangan dan hampir terjatuh, beruntung Hendra menangkap nya dengan cepat.
"Apa yang kau pikirkan. Bagaimana jika kau sampai terluka?" Hendra bertanya dengan raut wajah khawatirnya.
"Kamu tidak perlu bersikap seperti itu. Aku begini juga karena keegoisanmu." Ucap Mila yang langsung menghentikan langkah Hendra.
Dengan cepat Mila turun dari gendongan Hendra dan menatap pria itu dengan tatapan yang tak bisa di artikan. Hendra berusaha untuk meraih tangan Mila, namun Mila langsung menepisnya dengan kasar.
"Apa kamu marah padaku sayang?''
"Apa itu penting bagimu? Kenapa kau selalu menyulitkan aku dalam segala hal. Apa yang sebenarnya kamu inginkan Hendra?'' Tanya Mila dengan suara tercekat menahan tangisnya.
"Maaf. Aku hanya ingin kita seperti dulu lagi.'' Sahut hendra dengan lugas tanpa beban.
"Tapi aku tidak bisa!''
"Mila aku mohon mengertilah, aku..''
"Tunggu" Mila menyela perkataan Hendra dan menatap gelas yang ada di atas nakas. Mila berjalan menghampiri gelas itu dan melemparnya kesembarang arah membuat Hendra terkejut di buatnya.
"Apa yang kamu lakukan bagaimana jika kamu terluka Mila?'' Ucap Hendra yang langsung menghampiri Mila dan menjauhkan nya dari pecah gelas itu, namun langkahya terhenti saat mendengar perkataan Mila yang sangat menusuk hatinya.
"Hatiku sama seperti pecahan gelas itu saat kau menduakan cintaku dan menghianati pernikahan kita, tak hanya itu kamu juga berbuat kasar padaku hingga aku kehilangan bayi kita sebelum aku mengetahui keberadaan nya." Tangis Mila pun pecah setelah mengatakan hal itu, tubuhnya jatuh ke lantai menatap kosong pada pecahan gelas yang berserakan di hadapan nya.
Degghh...
Hati Henda bagaikan tertusuk oleh ribuan jarum, "Begitu egoskah aku Mila?'' Ucap Hendra dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Iya kau egois! Kau sangat egois hanya memikirkan dirimu sendiri. Kau tak pernah memikirkan diriku dan perasaanku." Teriak Mila melupakan segala rasa yang ada di hatinya saat ini.
''Iya kamu benar aku sangat egois, tolong maafkan aku" Hendra memeluk tubuh Mila dengan penuh penyesalan. Namun Mila merasa sangat risih saat Hendra memeluknya, berbeda dengan pelukan Ravin yang begitu menenangkan jiwanya.
Dengan cepat Mila mendorong tubuh Hendra agar menjauh darinya. ''Biarkan aku pergi untuk mencari kebahagiaan ku sendiri, karena aku tak bisa lagi jika harus kembali padamu." Ucap Mila yang langsung berdiri di hadapan Hendra.
"Kenapa apakah tidak ada kesempatan kedua untukku dan untuk hubungan kita?'' Tanya Hendra dengan penuh harap.
"Tidak ada. Karena hatiku sudah milik orang lain.'' Bohong Mila agar Hendra melepaskan nya dan membiarkan nya pergi dari tempat itu.
"Apa yang kau maksud adalah tuan Ravindra?" Tanya Hendra dengan raut wajah tidak sukanya.
"Iya" Jawab Mila asal.
"Tapi aku tidak mengijinkanmu untuk menikah dengannya." Sahut Hendra penuh penekanan.
"Kau tak bisa memaksakan kehendakmu Hendra" Sahut seseorang bersamaan dengan suara pintu yang dibuka secara kasar.
Hendra dan Mila pun langsung melihat ke arah sumber suara dengan raut wajah yang berbeda.
Hendra yang mendengar suara Mila pun langsung menatap ke arah mantan istrinya itu dengan tatapan mata sendu. " Apakah Mila benar-benar sedekat itu dengan tuan Ravin? Tapi yang aku tahu selama ini Mila hanya menjadi pengasuh putranya dan..." Hendra berhenti bertanya pada hatinya saat ia mengingat kembali percakapan Ravin dan Mila di taman saat beberapa jam yang lalu.
"Apakah kau benar tidak ingin kembali bersama dengan ku lagi Mila?'' Tanya Hendra kembali, walaupun ia sudah tahu apa jawaban Mila saat ini.
''Sudah ku bilang Jangan memaksa nya.'' Sahut Ravin yang merasa sangat geram pada pria yang ada di hadapannya. Membuat Erik dan para pengawal lainnya pun langsung siap siaga.
"Tuan tolong jangan ganggu aku untuk sebentar saja'' Mohon Hendra dengan meyatukan kedua tangannya di hadapan Ravin.
"Mila Jawablah'' Ucap Hendra kembali.
"Maaf'' Mila menggelengkan kepalanya tanda penolakan.
Hendra menghela nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, "Terimakasih.'' Jawab Hendra dengan tersenyum yang di paksakan.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan menikahkan kalian berdua." Ucap Hendra mengejutkan Mila.
"Menikah!''
"Iya, hanya itu yang aku inginkan saat ini. Yaitu menikahkan kalian berdua setelah itu aku akan pergi dari kota ini untuk selamanya sebagai penebusan dosaku.''
"Tapi aku,"
"Tuan Ravin apakah kau bersedia menikahi Mila ku?'' Tanya Hendra pada Ravin.
"Apa yang Hendra pikirkan, apa dia sengaja menjebakku seperti ini. Sudah ku pikirkan matang-matang bahwa aku tidak ingin menikah lagi untuk selamanya, tapi kenapa dia so jadi pahlawan disini.'' pikir Mia dalam hatinya.
Mila merasa sangat kesal dan gelisah dengan apa yang Hendra lakukan untuknya, namun ia juga tak berani menjawab atau menolak keinginan Hendra. Karena ucapannya sendirilah yang membuat ia berada di dalam dilema nya sendiri.
Pertanyaan Hendra pada Ravin seakan tak memiliki jawaban, karena sejak tadi Ravin hanya diam tanpa menunjukan ekspresi apapun.
"Sudah cukup aku,''
"Aku akan menikahi Lala ku bukan Mila mu'' Ucap Ravin memotong perkataan yang akan Mila ucapkan.
"Menikah! Siapa yang akan menikah?'' Teriak gadis muda yang langsung menerobos masuk ke dalam ruangan itu.
"Mia kamu disini dek'' Mila bernafas lega saat melihat keberadaan adiknya di sana.
''Ini adalah kesempatan emas untuk lari dari dua pria konyol ini'' Ucap Mila dalam hatinya. dan berjalan menghampiri adiknya, namun langkahnya di halangi dua pria yang ada di hadapannya.
Bagitu juga dengan Mia yang langsung di tarik paksa oleh Erik untuk keluar dari ruangan itu. Mila menghela nafasnya secara kasar menatap bergantian pada dua pria yang kini berdiri di hadapannya.
"Tolong biarkan aku pergi dari sini.'' Ucap mila sambil mengangkat sedikit gaunnya agar memudahkan dia berjalan.
"Tidak. Kau tidak bisa pergi kemana pun sebelum aku melihat kalian menikah, Mila bukankah kau bilang hatimu sudah bukan milikku dan milik orang lain, dan kau yang katakan bahwa kau pria itu adalah tuan Ravin. Tapi kenapa kau seperti menghindar?''
"Aku, aku'' Mila merasa sangat gugup. Kini Mila menghela nafasnya dan menatap ke arah Ravin yang juga sedang menatapnya.
__ADS_1
"Kami akan menikah!''
Bersambung