
Mila duduk di bangku taman yang tak jauh dari rumah sakit, menatap kosong ke arah jalanan yang cukup ramai. Ia masih bingung memikirkan kata-kata yang di ucapkan Ravin padanya.
"*H*aruskah aku mengambil langkah ini lalu bagaimana, lalu apa yang akan di katakan orang lain tentang ku nanti. Kenapa aku selalu berada di dalam dilema''
"Kak, kau disini aku mencari mu sejak tadi'' ucap Mia mengejutkan mila dari lamunan panjangnya.
Mila menghela nafas dan hanya menatap sekilas ke arah sang adik, "Kamu ngagetin kakak aja dek'' Ucap Mila yang pokus melihat ke arah jalanan yang ramai lancar.
Mia memutar bola matanya malas, lalu ikut duduk di sebelah kakaknya, ''Kak apa kau masih memikirkan si pecundang itu, apa kau masih mengharapkan dia kembali padamu" tanya mia dengan nada kesalnya. Karena ia sempat melihat tatapan penuh kerinduan sang kakak pada pria yang sudah sah menjadi mantan suaminya itu.
"Sudah tak ada lagi yang tersisa Mia, semuanya sudah berakhir dan tak ada yang tersisa sedikit pun" Jawab Mila berbohong, karena yang sesungguhnya cinta nya masih ada untuk hendra. Karena tak mudah bagi Mila untuk melupakan rasa cinta yang begitu besar untuk Hendra karena Hendra adalah cinta pertamanya, dan pria yang mengisi hatinya selama ini.
Begitu banyak kenangan yang mereka lalui bersama. Dari masa remaja hingga keusia pernikahan yang sudah sebelas tahun lamanya ia jalani bersama dengan Hendra.
"Hendra sudah mengajari kakak bagaimana rasanya jatuh cinta dan di cintai tapi dia juga yang memberikan luka yang begitu dalam pada ku, hingga aku merasa aku sudah tak ingin lagi mengenal cinta. Rasa sakit yang teramat dalam ini membuat aku tidak percaya apakah cinta itu ada atau hanya omong kosong saja"
"Apa kakak menyesal sudah berpisah dengan nya'' Tanya Mia dengan sangat hati-hati.
Mila menggelengkan kepalanya menyangkal semua yang di tanyakan sang adik. "Sudahlah tak perlu di bahas lagi lebih baik kita pulang saja. Ayo" Ajak Mila yang menghindar dari pertanyaan demi pertanyaan yang akan dilontarkan adiknya.
"Aku tahu bagaimana dirimu kak, tapi aku harap kau segera mendapatkan pengganti pria itu secepatnya. Pria yang bisa menyayangimu dan mencintaimu setulus hatinya, dan yang terpenting bisa membuat mu bisa hamil dan menutup mulut keluarga si pecundang itu''
Mia menatap punggung sang kakak yang kini
mulai menjauh darinya.
"Mia cepatlah'' Ucap mila saat melihat sang adik masih berada jauh di belakangnya.
"Aku datang kak'' Teriak Mia yang sedikit berlari menghampiri sang kakak.
*
*
Di mansion utama para pengawal yang di tugaskan Juna untuk mencopot beberapa foto mendiang istri Ravin pun mulai melaksanakan tugas-tugas mereka.
"Copot dengan hati-hati dan letakan di gudang, lalu di tutup dengan kain agar tidak kotor'' Ucap Juna mulai memberikan intruksi.
"Baik bos"
__ADS_1
"Hati-hati jangan sampai jatuh"
"Juna ada apa ini, mau di bawa kemana semua foto-foto itu'' Tanya Nyonya Renata dengan wajah bingungnya.
"Disimpan didalam gudang nyonya."
"Kenapa tiba-tiba''
"Saya tidak tahu nyonya, ini perintah langsung dari tuan muda'' Jawab Juna seadanya, Karena
ia sendiri pun tak tahu mengapa tuan mudanya memerintahkan hal itu padanya.
"Ini hal yang langka Juna'' Ucap nyonya Renata masih dengan wajah bingung dan tidak percaya nya. Karena ini adalah hal yang mustahil bagi Ravin untuk menyingkirkan semua kenangan mendiang istrinya.
"*A*da apa sebenarnya, lebih baik aku tanyakan langsung saja padanya nanti.''
Nyonya Renata pun langsung pergi meninggalkan Juna dan para pengawal yang sedang bekerja, dan menuju ke kamar cucu kesayangan nya untuk menemui putra dan cucunya.
Ceklek
"Sayang, cucu grandma sedang apa?'' Tanya Nyonya Renata saat melihat cucunya tengah sibuk dengan alat tulisya.
"Aku sedang menggambar mommy" Kenzo menunjukan gambar seorang wanita yang sedang bersama dengan seorang anak.
"Kau sangat mirip dengan Anggun yang pandai melukis"
"Grandma apa menurutmu mommy akan suka gambar buatanku" Tanya Kenzo dengan wajah bahagia nya.
"Tentu mommy pasti akan sangat senang dengan karyamu"
"Lalu dimana mommy. Mengapa dia pergi lama sekali, apa mommy masih sakit?'' Tanya kenzo dengan wajah sedihnya.
"Mommy masih membutuhkan waktu untuk memulihkan tenaganya, kau bersabarlah dan terus berdoa agar dia baik-baik saja dan segera datang menemui mu secepatnya."
"Lanjutkan saja apa yang sedang ingin kau lukis grandma harus harus bicara dengan daddy mu terlebih dahulu.'' Nyonya membelai dan menyecup cucu kesayangannya dengan penuh cinta.
"Dimana Ravin, kenapa tidak ada disini'' Gumam nyonya Renata yang langsung berjalan keluar dari kamar Kenzo.
"Juna dimana Ravin"
__ADS_1
"Tuan sudah pergi ke kantor nyonya" Sahut Juna singkat.
"Kapan dia keluar, mengapa aku tidak melihatnya. Dasar anak itu.'' Nyonya Renata menghela nafas panjangnya. Ia sungguh tak mengerti dengan apa yang sedang di pikirkan putranya saat ini.
Ravindra bersin-bersin ''Siapa yang sedang mengumpatku sekarang.'' Gumam Ravin lirih. Dan melanjutkan kembali pekerjaan nya, namun ia kembali terdiam saat mengingat kembali perkataan yang di katakan Mila padanya saat berada di ruangan rumah sakit.
Kini raut wajahnya terlihat sangat kesal dan dengan erat ia menggenggam pena yang berada di tangan nya.
"Kenapa dia sangat menyebalkan sekali'' Ucap Ravin dan langsung melemparkan pena yang sudah patah itu kesembarang arah.
"Tuan ada apa ini?'' Tanya Juna yang sedikit terkejut saat ia membuka pintu ruangan big bosnya dan langsung mendapatkan hadiah yang tak terduga.
"Kau sudah datang. Ayo cepat kemari dan selesaikan ini'' Ravin memberikan beberapa berkas pada Juna.
Dengan cepat Juna pun mengambil berkas yang di berikan Ravin padanya dan segera keluar dari ruangan itu. Karena ia sudah merasakan hawa dingin mencekam di ruangan tersebut.
"Tidak baik aku berlama-lama disini sepertinya mood tuan muda sedang sangat buruk sekali saat ini, dan ini tidak baik untuk ketenangan ku"
"Tunggu'' Ucap Ravin yang langsung menghentikan langkah Juna seketika. Kini Juna mematung di tempat nya dengan posisi yang sama"
"Habislah kau Juna''
''Iya tuan muda, apa ada sesuatu yang lain'' Tanya Juna dengan perasaan cemasnya, kini menatap ke arah sang big bos.
"Apa semuanya sudah selesai"
"Sudah tuan"
"Bagus. Lalu apa dia sudah kembali ke mansion?"
"Dia siapa tuan?"
"Apa aku harus selalu menjelaskannya pada mu"
Kini Juna menatap atasannya dengan raut wajah bingung. ''Aku heran kenapa dia senang sekali bermain tebak-tebakan dengan ku'' Gumam Juna lirih.
"Jangan mengumpatku Juna'' Ucap Ravin dengan nada tegasnya. Membuat juna langsung terdiam dan membisu seketika.
"Juna apa menurutmu aku, Ahh sudah lupakan saja. Pergilah'' Usir Ravin.
__ADS_1
"Kenapa hari ini tuan muda aneh sekali apa yang sebenarnya terjadi"
Bersambung..