Setelah 11 Tahun Pernikahan

Setelah 11 Tahun Pernikahan
Bab 84


__ADS_3

Mia merasa sangat kecewa dengan keputusan Mila dan Ravin hingga ia memutuskan untuk pergi meninggalkan rumahnya, dan membiarkan Sesilia untuk tinggal disana.


"Aku harap kakak mengerti kepergian ku kali ini adalah sebuah peringatan besar untuknya, aku tidak sebaik kakak yang memiliki hati lembut dan mudah terbawa emosi sepertinya. Dia begitu lemah, tapi aku tidak sepertinya hatiku tidak sebaik kakak!'' Mia terus mengeluarkan rasa kecewa dalam hatinya sambil membereskan semua barang barangnya kedalam koper dan menyeret nya keluar dari kamarnya.


"Ini sangat menyebalkan! aku harus mengalah demi anak para penghianat itu.'' Ucap Mia melirik tajam ke arah Sesilia yang sedang duduk di sofa dengan gaya angkuhnya.


*


*


Mila menghela nafasnya dalam-dalam dan menatap sang suami yang kini tengah menyetir mobilnya dengan sangat pokus.


"Kak, apakah ini sudah benar? apakah ini tidak berlebihan? Mia tidak tahu dengan rencana kita, dia pasti sedang sangat sedih dan kecewa saat ini." Ucap Mila yang menatap sang suami dengan perasaan cemasnya.


"Sayang tenanglah semuanya akan baik baik saja, aku sudah mempercayakan seseorang yang bisa menjaga adikmu, sekarang kita lihat bagaimana tikus itu beraksi." Ucap Ravin yang langsung memarkirkan mobilnya di tepi jalan dan langsung melihat vidio cctv melalui ponsel miliknya.


"Lihatlah dia sudah melakukan aksinya sekarang!" Ravin memperlihatkan vidio Sesilia tengah mencari sesuatu di dalam rumah itu.


''Lalu dimana Mia?''


"Tunggu sebentar!" Ravin mulai memeriksa seluruh cctv rumah adik iparnya dan melihat Mia yang keluar dari kamarnya dengan membawa koper besar.


"Mia! dia akan pergi kemana?" Mila langsung terlihat panik saat melihat adiknya akan pergi meninggalkan rumah tersebut.


"Sayang! sayang! tenanglah.'' Ucap Ravin yang langsung memeluk sang istri untuk menenangkan nya.


"Bagaimana aku bisa tenang kak, dia adikku satu satunya. Dan sekarang dia akan pergi meninggalkan rumah itu karena kesalahanku! kakak macam apa aku ini, yang tak bisa menjaga perasaan adiknya sendiri." Mila mulai terisak dalam pelukan suaminya, hatinya merasa sangat tidak tenang saat mengingat bayangan Mia membawa kopernya.


"Percayalah sayang. Aku sudah melakukan yang terbaik untuk Mia dan dia akan baik baik saja, bukankah ini adalah rencana terbaik untuk mencari tahu apa yang sedang tikus kecil itu lakukan?''

__ADS_1


"Iya aku mengerti, tapi bagaimana dengan Mia?"


"Dia akan baik baik saja sayang, percayalah padaku! kita akan segera menemui nya dan memberi tahu apa rencana kita untuk menjebak Sesilia. Sebaiknya kita pulang sekarang kau harus istrahat jangan terlalu memikirkan hal ini terlalu dalam, pikirkan juga kesehatan janin yang ada disini.'' Ravin mulai mengelus perut rata istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Baiklah, aku percaya padamu kak!'' sahut Mila dengan pasrah walau hatinya masih merasa sedikit resah.


Setelah melewati drama besar kini Ravin pun kembali mengemudikan mobilnya menuju mansion utama. Sedangkan di tempat lain Mia berjalan tak tentu arah dan tujuan.


"Kemana aku harus pergi sekarang?" tanya Mia pada dirinya perlahan.


Tiin.... Suara klakson mobil terus berbunyi memekakan telinga membuat Mia bertambah kesal karenanya.


''Apa dia pikir jalanan ini milik nenek moyangnya, terus membunyikan klakson seperti orang yang tidak waras saja!'' umpat Mia tanpa menghentikan langkah kakinya.


Namun bunyi klakson itu semakin nyaring membuat Mia bertambah sangat kesal saat ini. Ia merasa sangat terganggu dan langsung membalikan tubuhnya dan berjalan menghampiri mobil berwarna hitam mengkilat yang terus membunyikan klakson nya dengan sengaja.


''Hey, apa kau pikir aku ini tuli? cepat buka pintunya kau sangat mengganggu ketenangan ku!" ucap Mia yang mengetuk kaca mobil tersebut dengan sangat brutal.


Sedangkan Pria yang berada di dalam mobil itu hanya tersenyum samar, saat melihat raut wajah kesal Mia yang kini sedang mengumpat nya habis habisan.


"Andai saja jika bukan tuan Ravin yang menyuruhku untuk menjaganya, mungkin aku tidak akan pernah berhenti untuk membuatnya kesal. Hahh... Entah mengapa aku merasa sangat senang jika sudah membuatnya kesal.'' Gumam Erik lirih dan langsung menurunkan kaca mobilnya secara perlahan.


"Erik, kau!" Mia sedikit terkejut dan hampir terjatuh jika Erik tidak dengan cepat memegangi tangannya.


"Hey gadis konyol cepat masuklah jika kau butuh tumpangan." Ujar Erik yang sedikit menggoda Mia.


Mia mendengus kesal saat mendengar ucapan Erik yang sedikit mengejeknya, Mia pun menepis tangan Erik yang masih setia memegangi tangannya.


"Cihh.. Kenapa kau sangat percaya diri sekali.'' Ketus Mia dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


"Cepat masuklah!''


"Tidak mau!'' Jawab Mia yang langsung memalingkan wajahnya.


"Hmm yasudah kalau begitu, aku pergi dulu.'' Ucap Erik yang bersiap akan melajukan kembali mobilnya.


"Ya ampun, apa dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya membujuk seorang wanita yang sedang kasal. Entahlah!'' Batin Mia.


"Tunggu!" pekik Mia yang langsung memutari mobil Erik dan menyimpan koper nya di jok belakang, sedangkan Ia duduk samping Erik mulai yang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Suasana tiba tiba hening membuat Mia sedikit bosan, namun diam diam ia mulai mencuri pandang menatap wajah Erik yang terlihat Berbeda dari biasanya. Rambut gondrongnya kini sudah di rapihkan membuat kadar ketampanan seorang Zayyan Erik Mahesa bertambah berkali kali lipat.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?'' tanya Erik dengan wajah datarnya.


"Siapa yang menatapmu? kegeeran banget sih!'' sahut Mia dengan ketusnya, untuk menyembunyikan rasa gugup dalam hatinya saat Erik mengetahui aktifitas yang dilakukannya saat ini.


Erik melirik sekilas pada gadis yang ada di sampingnya, ia pun keluar dari dalam mobil setelah memarkirkan mobilnya di halaman sebuah apartemen sesuai perintah Ravin dan membawa Mia pada unit yang dituju.


"Cepat, ikuti aku dan bawa kopermu,'' ucap Erik tanpa melihat ke arah Mia.


"Ya ampun aku harus memiliki kesabaran khusus untuk menghadapi makhluk yang satu ini, dia selalu saja terburu buru untuk melakukan apapun keinginan nya haruskah aku mengajarinya cara bersikap manis pada seorang perempuan!" umpat Mia yang kini membawa kopernya sendiri dan berjalan mengikuti Erik di belakangnya.


"Apa kau tidak akan menawarkan bantuanmu tuan Erik?'' tanya Mia yang sekaligus menyindir pria yang berjalan di depannya. Membuat Erik seketika menghentikan langkah kakinya.


Brukk... Mia menabrak punggung Erik hingga terjatuh di lantai. "Apa yang sedang kau lakukan di lantai itu nona? tanya Erik dengan wajah polos tanpa dosa membuat Mia sangat kesal di buatnya.


"Sebodoh itukah dirimu! dengar aku terjatuh karena dirimu, apakah kau tidak punya niatan untuk membantuku?'' Mia pura pura meringis kesakitan ingin melihat bagaimana reaksi Erik saat ini. Namun tanpa Mia duga Erik menggendong nya alla bridal style dan membawanya pergi memasuki unit apartemen Mia.


"Maaf,'' ucap Erik lirih bahkan hampir tak terdengar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2