
Kini jantung Mila berdetak begitu kencang saat wajah Ravin begitu dekat dengannya, hembusan nafas Ravin pun terasa begitu halus meniup wajahnya sejenak Mila pun merasa terpesona akan hal itu.
Namun detik berikutnya ia mendorong tubuh Ravin sekuat tenaga hingga terjatuh ke lantai dengan sempurna. Karena saat ini Mila merasa belum siap untuk memulai hubungan lebih dalam walaupun Ravin sudah sah menjadi suaminya.
"Semua orang pasti sudah menunggu kita di luar, aku akan mengganti gaun ini terlebih dahulu" Ucap Mila yang langsung mengangkat gaunnya dan berlalu pergi meninggalkan Ravin yang masih duduk di lantai karena ulahnya.
"Dia sangat menggemaskan sekali saat dia bersikap malu malu seperti itu.'' Ravin menarik kedua sudut bibirnya saat melihat tingkah lucu Mila istrinya.
Sedangkan Mila langsung berlari masuk ke kamarnya, kini ia melihat pantulannya di cermin, Mila menghela nafasnya perlahan. "Kenapa aku sangat ragu untuk memulai hubungan ini, aku masih merasa sangat takut dan trauma karena hal ini. Apa sebaiknya aku harus segera mencari dokter kandungan terbaik terlebih dahulu sebelum semuanya terlambat?.'' Tanya Mila pada dirinya sendiri sambil mengelus perutnya yang masih datar.
Setelah berperang dalam hatinya dan memutuskan sesuatu untuk masa depannya, Mila pun mulai bersiap, karena sejak tadi suara Ravin terus terdengar di telinganya.
"Lala cepatlah semua orang sedang menunggu mu dibawah'' Ucap Ravin sambil mengetuk pintu kamar istrinya.
"Kenapa dia harus mengunci pintunya, kami sudah menikah tapi dia masih bersikap malu seperti ini''
Ceklek...
Pintu pun terbuka Mila keluar dari kamarnya memakai gaun yang sudah di siapkan Ravin untuknya, gaun mewah dan terlihat elegan membuat Mila semakin terlihat cantik dan mempesona dimata Ravin.
"Maaf sedikit lama. Ayo'' Ajak Mila saat ia keluar dari kamarnya, namun Ravin hanya diam dan menatapnya dengan tatapan aneh.
''Tuan'' Mila melambaikan tangannya di hadapan Ravin dan menyadarkan nya dari lamunan panjangnya.
"Apa. kau memanggilku apa barusan?'' Tanya Ravin sambil merangkul pinggang istrinya dengan sangat erat membuat posisi mereka sangat dekat dan intim saat ini.
"Tuan'' Jawab Mila dengan gugupnya.
"Sekali lagi''
"Tuan''
"Ulangi''
__ADS_1
"Tuan''
Dengan cepat Ravin langsung menyambar bibir mungil istrinya, ia merasa sangat gemas dan kesal saat Lala nya terus memanggilnya dengan sebutan tuan. Mila memukul dada bidang Ravin saat ia kehabisan oksigen.
"Hah... Hhaahh... Apa kau ingin membunuhku?" Mila menghirup udara sebanyak mungkin.
"Kenapa kau tidak bernafas?''
"Aku''
"Ini hukuman untukmu karena menyebut suamimu dengan sebutan tuan, dengar aku ini suamimu jadi jangan mengagapku seperti orang lain. Maaf" Ravin terkekeh geli saat melihat bibir mungil istrinya sedikit bengkak karena ulahnya, Ravin mengusap perlahan dan mengecupnya dengan lembut.
Sedangkan Mila yang mendapat perlakuan sepertiku itu merasa lemah, ia seperti terkena sengatan listrik ribuan volt ampere.
"Hhmmm.....'' Suara deheman seseorang mengganggu momen romantis mereka berdua di sana. Dengan cepat Mila menjauhkan dirinya dari Ravin saat melihat Juna dan Kenzo berada di sana.
"Maaf saya mengganggu momen anda tuan, karena sejak tadi tuan kecil memaksa untuk menjemput nona Mila'' Ucap Juna menjelaskan saat melihat tuan muda menatapnya dengan tatapan mematikan.
"Nyonya Muda, Panggil dia dengan benar karena saat ini dia adalah istriku'' Sahut Ravin penuh penekanan, ia merasa sangat kesal karena momen romantisnya di ganggu begitu saja.
"Terimakasih sayang'' Mila tersenyum penuh ketulusan pada putra sambungnya.
"Mommy mari aku akan membawamu keluar'' Kenzo mengulurkan tangannya dan sedikit menekuk lurutnya bak pria dewasa. Mila hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah menggemaskan Kenzo.
Sedangkan Ravin dan Juna nampak tercengang saat melihat pria kecil yang ada di hadapan mereka bertingkah so romantis pada Mila.
"Apa dia putraku?''
"Sepertinya dia saingan terbesar anda tuan!'' Sahut Juna dengan penuh kejujuran, setelah mendengar jawaban dari asisten pribadinya Ravin langsung menatap ke arah Juna dengan tatapan tajam.
"Saya hanya mengatakan sedikit faktanya saja tuan.'' Jawab Juna sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Karena terlalu asyik berdebat mereka berdua tak menyadari bahwa Mila dan Kenzo sudah pergi keluar meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
*
*
Kini semua mata tertuju pada Mila dan Kenzo yang sedang berjalan menuruni tangga, bisik bisik pun mulai terdengar sampai ke telinga Mila. Banyak orang terkagum saat melihat kecantikan Mila begitu juga dengan adiknya.
"Wow kak Mila sangat terlihat cantik dan keren, dia seperti seorang ratu dari kerajaan dongeng.'' Ucap Mia dengan tatapan penuh kekaguman.
Kini Mia pun berniat untuk menghampiri kakaknya namun langkahnya terhenti saat ia mengingat tangannya masih terikat borgol bersama dengan tangan Erik.
"Ada apa? Kenapa kau kembali?" Tanya Erik tanpa ekspresi.
"Kau itu bodoh atau pura pura bodoh, lihat tangan kita masih terborgol'' kesal Mia yang menunjukan tangannya di hadapan Erik.
"Itu bukan salahku, tapi salahmu sendiri. Aku Sudah memperingatkanmu dengan hal itu tapi kau tidak mau mendengar nya.''
"Itu semaua karna kau yang sangat menyebalkan, aku merasa sangat sial setelah bertemu denganmu.'' Ucap Mia mengeluarkan kekesalannya pada Erik.
"Jangan terus menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri'' Ucap Erik menekan setiap kata-katanya dan menatap mia dengan tatapan tajam.
"Kau sangat menyebalkan.'' Geram Mia pada pria yang ada di sampingnya saat ini.
Sedangkan Erik langsung mengirimkan pesan pada anak buahnya untuk segera mendapatkan kunci borgolnya yang hilang. "Karena inilah aku tidak suka pada kaum wanita dan tak ingin memiliki hubungan apapun dengan mereka. Para wanita hanya akan menyalahkan kaum pria dan merasa dirinya paling benar, dan karena hal itulah aku lebih suka sendiri dengan hidupku yang bebas untuk melakukan apapun.'' Gumam Erik lirih.
Berbeda dengan Mia yang mencoba membuka borgolnya sendiri agar ia bisa segera menghampiri kakaknya dan memeluknya untuk mengucapkan selamat.
"Ini semua Karena pria tidak waras itu aku terjebak disini dan tak bisa melakukan apapun, kak tolong adikmu ini'' Rengek Mia lirih menatap sang kakak dari kejauhan.
Bersamaan dengan Mia yang sedang menatap sang kakak, Mila pun menatap adiknya penuh tanya. " Kenapa Mia hanya diam dan berdiri disana? ada apa dengannya, dia tidak seperti biasanya'' Mila berjalan akan menghampiri adiknya namun langkahnya terhenti saat para tamu datang menyapa nya dan memberikan selamat padanya.
Setelah berbasa basi dengan para tamu undangan Mila pun berpikir untuk mendekati adiknya, namun saat Mila akan berjalan menghampiri nya kini adiknya sudah tak ada lagi di tempatnya.
"Pergi kemana Mia, tadi aku melihatnya disana.'' Mila langsung memindai seluruh ruangan itu, dan kini tatapannya terhenti saat melihat seorang yang begitu familiar memasuki pintu utama dan berjalan di atas karpet merah menghampiri dirinya.
__ADS_1
Bersambung.