Setelah 11 Tahun Pernikahan

Setelah 11 Tahun Pernikahan
Bab 69


__ADS_3

Erik merasa terkejut saat melihat Mia yang tiba-tiba memeluknya begitu saja, ini adalah pertama kalinya ia begitu dekat dengan seorang wanita. Tentu saja membuat jantung Erik berdetak dengan begitu cepat karena terkejut.


"Ada apa dengan jantungku?" Erik yang merasa dirinya begitu kacau saat ini, dengan cepat ia pun mendorong tubuh Mia dengan sedikit kasar hingga membuat Mia terjatuh di lantai dan menangis begitu keras.


"Bos apa yang sedang kau lakukan di dalam, bos buka pintunya!" Teriak Egi salah satu pengawal mansion.


"Aku yakin itu suara adiknya nyonya muda, jika tuan muda tahu bos Erik melakukan sesuatu yang buruk pada adik istrinya semua pasti kacau. Bos cepat buka pintunya atau kami akan mendobraknya!'' Ancam Egi, namun ia tak mendengar jawaban apapun dari dalam. Suara Mia yang menangis pin sudah tak terdengar lagi dk telinga Egi dan kawannya.


Dengan sangat terpaksa Egi dan Tomi mendobrak pintu ruang istrahat Erik, dan milai memeriksa seluruh ruangan itu untuk mencari keberadaan Mia.


"Berani sekali kalian merusak pintu ruanganku!''


"Bos dimna kau menyembunyikan adik nyonya Mila?" Tanya Egi tanpa basa basi.


"Apa yang kalian maksud, aku tidak mengerti" Kilah Erik dengan mode dinginnya.


"Tadi kami mendengar suara tangisan nona Mia dari kamar anda tuan jadi.."


''Jadi apa? kalian menuduhku menyembunyikan dan menganiaya adik nyonya muda begitu!" Dengan cepat Erik memotong perkataan Tomi yang masih berdiri celingukan di ruang istrahatnya.


"Cepat pergi atau aku akan mematahkan leher kalian berdua." Ucap Erik yang langsung membuat Egi dan Tomi lari keluar dari hadapannya.


"Ini semua karena gadis konyol itu, aku hampir saja ketahuan. Kalau sampai tuan muda tahu mungkin saja aku akan mendapatkan hukuman kembali seperti awalku bertemu dengannya.''


"Hey, bangunlah aku hanya menutup mulutmu dan mengikat tanganmu saja jadi kau tidak perlu berpura pura tidur disana. Jadi berdiri dan pergilah dari ruanganku saat ini juga." Sentak Erik pada Mia yang duduk menundukan wajahnya.


"Hey apa kau tidak mendengarku?" Ucap Erik dengan penuh kekesalan, karena sejak tadi Mia hanya diam dan menundukan kepalanya. Karena terlalu kesal Erik pun sedikit mendorong tubuh Mia dan langsung ambruk di lantai, Erik tak menyangka ternyata Mia kembali tak sadarkan diri dengan wajah yang terlihat begitu pucat.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis koyol ini?" Ucap Erik yang langsung menggendong tubuh mungil Mia untuk membawanya ke klinik terdekat.


*

__ADS_1


*


Di tempat lain Juna sudah mendapatkan semua informasi tentang tuan Bisma Davis, Juna terus membacanya berulang ulang sebelum ia memberikan nya pada Ravin.


"Aku rasa semua informasi ini sudah cukup untuk tuan muda mengetahui kelakuan tua bangka itu. Sungguh kasihan sekali nyonya Mila masa kecilnya ia lalui tanpa ayah, sedangkan sang ayah hidup bahagia bersama dengan keluarga aslinya.''


Juna menghela nafasnya secara kasar, ''sangat disayangkan sekali.'' Ucap Juna yang langsung berjalan memasuki ruang kerja Ravin.


"Tuan ini informasi yang anda inginkan" Juna langsung menyodorkan sebuah berkas berisi informasi tuan Bisma Davis.''


"Tuan ini adalah malam pernikahan anda kenapa anda menyuruh saya datang kemari malam ini juga, lalu.."


"Apa itu penting untukmu?" Tanya Ravin yang langsung memasang wajah seriusnya.


"Tidak tuan." Juna tak berani lagi bertanya kepada big bosnya, karena kini raut wajah Ravin berubah menyeramkan setelah membaca informasi tentang tuan Bisma Davis.


"Aku tidak menyangka kehidupan Lala ku sepahit ini, Juna!"


"Iya tuan?''


"Baik tuan" Ucap Juna yang lan pergi setelah mendapatkan perintah dari Ravin, namun mereka tak menyadari sejak tadi ada seseorang yang mendengarkan percakapan di antara mereka.


''Bagus, tanpa aku membalas dendam pada mereka pun keluarga itu kini sudah akan tamat, tapi bagaimana aku bisa mendapatkan kembali harta papa dari kedua manusia serakah itu? seperti aku harus segera menemukan cara lain." Pria berjaket itu pun pergi meninggalkan mansion utama sebelum Ravin atau para pelayan mansion melihat keberadaan nya.


Masih di ruang kerja. Ravin masih terus membaca detail masalalu nyonya Tita Davis yang pernah menikah dengan seorang miliarder dan mempunyai seorang putra, namun disana ia tak melihat siapa nama yang tercantum.


"Apa maksudnya ini, kenapa Juna tidak mencantumkan nama mantan suami nyonya Davis disini?'' Dengan cepat Ravin mengambil ponselnya untuk menghubungi Juna.


"Juna kenapa kau tidak mengisi nama mantan suaminya nyonya Tita? Hah itu tidak mungkin! seseorang pasti sudah menyembunyikan identitas nya.'' Ravin langsung mematikan sambungan teleponnya saat mendengar suara benda terjatuh dari luar ruangan.


Dengan cepat Ravin pun menghampiri asal sumber suara. "Sayang. Apa yang sedang kau lakukan!" teriak Ravin saat melihat tangan Mila berdarah saat mengambil serpihan gelas kaca yang berserserakan di lantai.

__ADS_1


"Aku tidak apa apa kak, ini hanya luka kecil saja tadi aku tidak sengaja menjatuhkannya"


Berbeda dengan Mila yang terlihat biasa saja, namun Ravin justru terlihat sangat khawatir dan langsung menyedot jari Mila yang terluka untuk menghentikan darahnya.


"Kak''


"Sudah diam ayo aku kita ke kamar sekarang!''


''Kamar?"


"Iya kamar!"


"Tapi kak kamarku disana.'' Tunjuk Mila pada kamar di sebelah kamar Kenzo.


Mendengar ucapan sang istri Ravin pun langsung menghentikan langkahnya, dengan gemas Ravin menyentil kening istrinya. "Apa kau lupa? kau itu istriku! jadi kau akan tidur di kamarku.'' Ucap Ravin yang melanjutkan kembali langkahnya.


"Tapi kak''


''Jangan berpikir macam macam, aku tidak akan pernah menyentuh mu sebelum kau mengijinkannya" Sahut Ravin yang mengerti apa yang ada dalam pikiran Mila saat ini.


Mila pun menghela nafas lega saat mendengar penuturan Ravin, namun ide jahil Ravin pun seketika muncul begitu saja untuk sedikit menggoda istrinya.


"Tapi aku tidak bisa menjamin itu semua, karena aku seorang pria dewasa dan kau seorang wanita dewasa. jadi bila kita tidur di satu kamar dan ranjang yang sama, aku tidak menjamin jika tidak akan ada sesuatu terjadi nantinya.'' Ucap Ravin yang langsung membuat raut wajah Mila berubah seketika, dan memaksa turun dari gendongan nya.


"Owh sayang kenapa terburu-buru sekali''


"Hmm sepertinya aku mendengar suara Kenzo memanggilku'' Ucap Mila beralasan, karena memang benar saat ini Mila belum siap untuk melakukan kewajibannya sebagai istri. Trauma di masa lalunya masih terngiang-ngiang di pikirannya saat ini membuat ia tak ingin hal yang sama terulang lagi di masa depannya nanti, terlebih lagi saat ini Mila pun masih bingung dengan perasaan nya terhadap Ravin.


"Kenzo sudah tidur jadi jangan menbuat alasan sayang.''


"Tidak aku tidak bohong kak, coba lihat saja disana'' Tunjuk Mila dengan dagunya ke samping Ravin. Dengan spontan Ravin pun melirik ke arah yang di maksud sang istri.

__ADS_1


"Kenz,''


Bersambung..


__ADS_2