
Bluss....
Pipi Mila merona karena malu saat sang suami menindihnya begitu intim saat ini, bola matanya yang indah kini terkunci dengan bola mata tegas milik Ravin. Hari ini Mila sudah memasrahkan apapun yang terjadi untuk kebaikan dirinya dan masa depan keluarga kecilnya nanti.
"Hmm... Bagaimana sayang, apa kau sudah siap?'' tanya Ravin. Saat kini dirinya begitu dekat, hingga hembusan nafas lembut Ravin pun terasa sampai di wajah Mila.
Dengan sedikit malu malu Mila pun menganggukan kepalanya tanda setuju.
"Yes!" seru Ravin dalam hatinya.
''Sayang apa kau yakin?'' tanya Ravin lagi saat melihat sang istri menutup matanya karena malu.
"Kenapa kau harus bertanya lagi." Kesal Mila yang langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Ravin.
Ravin terkekeh geli saat melihat tingkah lucu istrinya, ''maaf sayang.'' Ravin pun mulai mengecup pucuk kepala sang istri dengan penuh kasih sayang, dan kini matanya tertuju bibir mungil istrinya.
Ravin mulai menjelajahi apa yang ingin ia telusuri terlebih dahulu, ''Buka mata mu sayang, karena aku ingin melakukan hal ini dengan istriku bukan dengan patung. Jadi lihat aku dan tatap mataku!''
"Hmm.." Dengan sangat terpaksa Mila pun membuka matanya, kini ia menatap Ravin dan mulai memberanikan dirinya untuk mengecup sang suami.
"Wah ternyata kau pandai menggoda rupanya?" ucap Ravin sedikit menggoda istrinya.
"Kak," Mila memanyunkan bibirnya karena kesal pada Ravin yang kini mulai menggoda nya.
Sedangkan Ravin tersenyum penuh semangat. Saat melihat sang istri sudah bagitu kesal padanya, dan tanpa babibu lagi ia pun mulai melepaskan pakaian yang ia kenakan dan melemparkan nya ke sembarang arah. Begitu juga dengan handuk yang di kenakan oleh Mila.
Kini mereka berdua pun sudah polos tanpa sehelai benang pun. Dengan sangat bersemangat Ravin pun mulai menjelajahi sang istri, dan memberikan beberapa kiss mark di tempat yang di sukainya.
"Kau adalah milikku selamanya." Ucap Ravin saat akan memasuki sarang barunya, jleb. Mila sedikit meringis saat milik suaminya tertanam sempurna di bawah sana.
Dengan perlahan tapi pasti, Ravin mulai melakukan aktifitas mereka menjelajah menuju surga dunia, di iringi suara erotis yang keluar dari bibir Mila dengan sendirinya membuat Ravin semakin bersemangat melakukan pekerjaannya di bawah selimut itu.
__ADS_1
Namun, saat Ravin hampir mencapai puncaknya. Suara ketukan pintu kamarnya membuat konsentrasinya buyar seketika.
"Mommy, mommy.'' Teriak Kenzo sambil mengetuk pintu dengan sedikit kencang.
"Kak, Kenzo.''
"Biarkan saja dulu, tunggu sebentar lagi aku hampir selesai." Ravin pun mulai mempercepat gerakannya dan langsung menumpahkan cairan hangat nya di titik terdalam.
"Kak kau terlalu dalam, sakit.'' Keluh Mila.
"Maaf aku terlalu bersemangat sayang.'' Ravin langsung mengecup bibir mungil istrinya. ia berharap jika usahanya malam ini berhasil dengan baik, karena tanpa Mila ketahui sebelum itu Ravin juga sudah berkonsultasi dengan dokter Tasya.
Dan apa yang di katakan oleh dokter Tasya pada sang istri adalah rencananya sendiri, Ravin tersenyum melihat Mila kini memanyunkan bibirnya sambil memakai pakaian yang di ambilnya tadi, kini Mila berjalan untuk menemui Kenzo yang masih berteriak memanggilnya.
"Daddy kembalikan mommy ku!'' Teriak Kenzo dengan kesal, saat ini ia sudah membangunkan seluruh penghuni mansion utama dengan teriakannya.
''Mommy datang. Mommy datang.'' Sahut Mila yang sedikit berlari ke arah pintu bahkan dan hampir terjatuh.
"Sayang hati hati!'' seru Ravin saat melihat Mila tersandung kakinya sendiri.
"Ck.. Karena Kenzo aktifitas kami terganggu, apa dia tidak mau punya adik yang lucu?'' Ravin mendengus kesal dan berjalan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
*
*
"Jangan menangis, mommy sudah disini kan!'' Mila mulai membujuk anak sambungnya yang kini menangis tersendu sendu.
"Mommy aku mohon jangan tinggalkan aku, Hu...Uuu..'' Kenzo merasa sangat takut saat ia terbangun dan tidak melihat Mila di kamarnya, ataupun di kamar Mila saat menjadi pengasuhnya. Kenzo menangis saat melihat kamar Mila kosong, dia pikir daddy nya sudah membawa Mila pergi darinya.
"Mommy tidak pergi kemana mana, mommy hanya pindah kekamar daddy mu saja. Jadi jika mommy tidak ada di kamarmu, maka mommy pasti berada di kamar daddy Ravin! sudah jangan menangis. Ayo tidur ini sudah malam, jika tidak tidur dengan cepat besok aku pasti kesiangan untuk menyiapkan sarapanmu kan?''
__ADS_1
Mila mulai membujuk Kenzo agar tidak menangis dan berpikir ia akan pergi meninggalkan nya, Sedangkan Ravin dan Nyonya Renata menatap mereka dari depan pintu kamar Kenzo.
"Ravin kau sangat beruntung, memiliki istri seperti Mila dia sangat lemah lembut dan penyayang."
Ravin tersenyum menatap sang mommy. "Mommy benar."
"Baiklah mommy kembali ke kamar mommy dulu, aku sangat lelah dan mengantuk sekali.'' Ucap nyonya Renata, yang langsung pergi meninggalkan putranya yang masih berdiri disana.
"Aku merasa sangat aneh, saat melihat putraku sendiri tersenyum seperti itu.'' gumam nyonya Renata sambil berjalan menuju kamarnya.
Setelah melihat Kenzo tertidur pulas di pangkuan Mila. Kini Ravin pun mulai menghampiri sang istri dan duduk di sampingnya. Ravin mengelus rambut putranya dengan penuh kelembutan.
"Maaf jika dia sering menyusahkanmu!''
Mila tersenyum menatap ke arah suaminya, "tapi aku sangat suka hal itu, dia anak yang manis dan penurut''
Ravin mendengus kesal saat mendengar penuturan sang istri. "Tapi dia hanya menuruti perintah mu saja sayang, apa kau tahu dulu saat sebelum kau melamar pekerjaan itu? sudah banyak sekali orang yang datang dan pergi begitu saja tanpa mengatakan hal apapun.''
"Benarkah?''
"Hmm..." Ravin langsung menganggukan kepalanya, ia mulai menceritakan hal hal yang sudah di lalui Kenzo pada Mila. Dan kini ingatannya pun kembali pada saat pertama Mila datang ke mansion utama.
''Lala maafkan aku yang pernah melukaimu di hari pertama kau datang ke mansion ini.'' Ucap Ravin dengan penuh ketulusan, kini tangannya pun mulai menggenggam tangan Mila dan mengecupnya beberapa kali.
"Itu sudah berlalu kak, aku hanya berharap semuanya akan baik baik saja. aku tahu kau melakukan hal karena cintamu pada almarhumah istrimu sangat besar.''
"Ya, aku hanya menghargai dia sebagai istriku yang rela mempertaruhkan nyawa nya demi melahirkan keturunanku.'' Ucap Ravin tanpa ekspresi, ia hanya menatap kosong ke sembarang arah saat mengingat kembali perjuangan Anggun melahirkan Kenzo ke dunia ini.
Namun Ravin tak melihat bagaimana perubahan raut wajah Mila saat ini. Mila menghela nafas panjangnya dan mulai menidurkan Kenzo dan tidur di sampingnya membelakangi Ravin.
Entah mengapa, Mila merasa sangat kesal saat Ravin mengingat dan menceritakan kembali kisah perjuangan istrinya yang sudah meninggal. Hatinya merasa tak terima jika ada wanita lain yang di sebut suaminya.
__ADS_1
"Ayolah Mila, kau tidak mungkin cemburu pada orang yang sudah meninggal kan?'' tanya Mila pada dirinya sendiri.
Bersambung...