
Mia mengerutkan keningnya saat melihat Erik hanya menatapnya sekilas, sedangkan ia melihat Juna tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya ke arahnya.
"Ishhh... Apa yang sedang pria itu lakukan?'' Mia bergidik ngeri dan mengusap tangannya yang tiba-tiba merasa merinding sekali.
"Selamat ya Mia.'' Ujar Riri mengejutkan Mia yang kini sedang merasa heran dengan Juna.
"Selamat! untuk apa?'' tanya Mia dengan wajah bingungnya.
"Mhh.. aku lihat hubungan kalian semakin dekat semoga hubungan kalian abadi selamanya, aku turut bahagia untuk kalian berdua.'' Ucap Riri dengan senyuman yang sangat di paksakan, membuat Mia bingung mendengar nya.
Kini mia melirik pada Juna yang menggerakan tangannya seperti sedang menunjuk pada Erik, membuat Mia memiliki kesimpulan apa yang sedang Riri katakan padanya saat ini adalah tentang hubungan nya dengan Erik.
Mia tersenyum menatap wajah Riri dan menyuruhnya untuk duduk dan mengobrol santai dengannya. ''Sejak kapan kau tahu aku menyukainya?" tanya Mia yang langsung membuat Riri gelagapan.
''Mhhh entahlah!" Riri menjawab sekenanya.
"Mia apa kamu benar-benar menyukainya?'' tanya Riri lagi ia benar-benar ingin tahu bagaimana perasaan Mia pada mantan kekasihnya saat ini.''
"Hmm..'' Mia menganggukan kepalanya dengan sedikit malu malu.
''Awalnya kami sering bertengkar walau hanya hal sepele saja dan aku sering merasa kesal padanya, tapi saat aku tahu dialah yang pernah menolong aku dan kak Mila. Aku baru menyadari memiliki perasaan lain padanya saat ia tak ada diaini. Dan kau tahu Riri saat itulah aku berpikir aku mulai jatuh cinta padanya dia sangat unik dan berbeda.'' Jelas Mia panjang lebar membuat Riri semakin panas terbakar api cemburu.
"Oh begitu, Mia aku pulang dulu ya ini sudah larut malam!'' pamit Riri yang langsung pergi begitu saja sebelum Mia menjawabnya.
"Dia aneh sekali, sama seperti kakaknya." Mia menatap heran ke arah punggung Riri yang semakin menjauh dari pandangannya.
''Haahh kemana dia? ckk... ini semua karena gadis itu sudah mengganggu ku.'' Mia mendengus kesal dan menghentakan kakinya saat melihat Erik sudah tak ada lagi di tempatnya.
Kemudian ia pun pergi meninggalkan tempat itu dan melihat triplet baby D keponakan kecilnya yang menggemaskan.
"Mia, kamu dari mana saja dek?'' tanya Mila yang baru melihat keberadaan sang adik.
"Aku masih di tempat yang sama bersama mu kak, tapi kau sibuk menyalami tamu dan ketiga keponakan kecilku ini.'' Mia mencolek-colek lembut pipi Devandra.
Kini Mia pun mulai menghayal bahwa ia sudah menikah bersama dengan Erik mendapatkan bayi kembar empat sekaligus, namun mia kembali menggelengkan kepalanya. " Tidak, tidak! itu terlalu banyak dan aku bukan kucing!" Mia pun kembali meneruskan hayalannya dengan satu anak yang menggemaskan tidur dalam pangkuanya.
"Mia! dek kamu baik-baik saja kan?'' Mila menatap heran pada adiknya.
"Aku baik dan sangat baik-baik saja."
''Mia kakak ingin bertanya sesuatu padamu.''
__ADS_1
"Katakan saja kak, aku kan mendengar kan nya.''
''Mia lanjutkan kuliahmu dan tinggalkan saja bisnis kakak itu, kejar cita-citamu menjadi seorang arsitek yang kamu impikan sejak dulu."
"Tidak, itu tidak perlu kak.''
''Kenapa?'' Mila merasa heran dengan jawaban adiknya yang terlihat tidak antusias seperti biasanya.
''Aku tidak berencana untuk kuliah, tapi aku berencana untuk menunggu di lamar Erik." Mia terkekeh dalam hatinya dan kembali memikirkan pernikahannya dengan Erik.
"Mia kakak sedang bertanya padamu?'' suara melengking Mila menyadarkan Mia dari segala hayalannya.
"Ckk.. Kak, kau sangat mengejutkan ku! Dengar kak tidak mungkin aku kembali memulainya dari awal aku bisa tua di bangku kuliah nanti sekarang umurku saja sudah dua puluh empat tahun.'' Ucap Mia beralasan. Karena yang sebenarnya ia hanya tidak ingin jika Erik menikahi wanita lain karena terlalu lama menunggunya.
"Apa dua tahun cukup?'' sahut Ravin yang kini berjalan ke arah mereka dengan setelan piamanya.
"Bagaimana Mia? tidak perlu menunggu empat tahun atau lebih kau bisa mendapatkan gelarmu dalam dua tahun, asalkan kau mampu bekerja keras untuk mendapatkan nya!" Ravin memberikan penawaran menarik pada adik iparnya.
"Setelah dua tahun kau bisa membantu perusahan properti milik keluarga Mahesa, itu adalah suatu kesempatan yang bagus untuk membuktikan kau punya kemampuan yang luar biasa bukan?"
Mendengar kata Mahesa di sebut membuat Mia langsung berbinar dan langsung mentetujui permintaan kakak iparnya itu.
"Baiklah jika kalian memaksa!'' jawab Mia sok pasrah walau dalam hatinya ia sangat kegirangan.
"Hanya dua tahun, itu tidak terlalu lama!'' gumam Mia lirih.
"Jadi kau setuju?'' tanya Ravin yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Mia.
"Baiklah besok kau akan pergi ke London.''
"Apa!'' Mia begitu terkejut dengan perkataan kakak iparnya, begitu juga dengan Mila. langsung menatap penuh tanya pada suaminya.
"Kalian itu mau mengusirku ya?'' tanya Mia dengan ketus menatap ke arah Ravin dan Mila secara bergantian.
"Ini sulit di percaya!''
"Mia percayalah kami hanya ingin yang terbaik untukmu dan kehidupan mu di masa depan, dua tahun bukan waktu yang lama kan?" Mila milai memberikan wejangan pada adiknya yang masih sangat kekanakan itu.
"Tapi kak?''
"Percayalah kami hanya ingin yang terbaik untukmu.'' sahut Mila yang langsung memeluk adik satu-satunya yang ia miliki.
__ADS_1
"Baiklah aku akan pulang ke apartemen untuk mengambil semua barangku yang tertinggal di sana.''
"Tidak perlu aku sudah menyuruh Juna untuk mengambilnya, sekarang kau istirahatlah besok siang aku akan mengantar mu ke bandara dan memberikan kabar pada saudara ku yang tinggal di sana. ingat walaupun kau jauh dari kami, tapi kami akan terus memantau mu aku akan menitipkan mu pada keluarga ku di sana.'' jelas Ravin panjang lebar.
Sedangkan Mia hanya mengangguk mengerti dan keluar dari kamar sang kakak dengan langkah gontainya.
"Kak apa ini tidak terlalu cepat dan berlebihan?" tanya Mila pada suaminya.
"Tenanglah semuanya akan baik-baik saja!''
*
*
Setelah malam berlalu, kini tibalah saatnya Mia harus pergi meninggalkan negaranya pergi ke negri sebrang untuk mencari ilmu dan menggapai cita-citanya yang ia mimpi kan sejak dulu.
Sebuah jet pribadi keluarga Adyaksa pun sudah menunggunya untuk pergi, ''Kak aku pergi dan aku akan kembali setelah memenuhi keinginan kalian.''
"Semoga sukses berusaha dan berjuanglah untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan!" Mila memeluk adiknya dengan air mata yang terus membanjiri pipinya.
Sedangkan Mia hanya tersenyum dan mulai berpamitan pada semua orang yang ada di sana, "Aunty kau pasti bisa!'' seru Kenzo menyemangati Mia.
"Pasti. Ingat kau adalah kakak, kau harus menjaga adikmu dengan baik okey!"
"Siap laksanakan komandan." Kenzo memberikan hormat pada Mia membuat suasa tegang itu kini mulai menghilang karena tingkah menggemaskan Kenzo.
Mia pun melangkah masuk ke dalam jet namun sebelum mereka menutup pintunya Mia mengedarkan pandangannya mencari Erik namun sayangnya Mia tak melihat keberadaan orang yang dicintainya itu di sana.
"Apa kau sudah siap nona?''
''Hmm.."
Mila memandang jet yang di tumpangi adiknya mulai mengudara meninggalkan tempat itu.
"Selamat belajar adikku, aku hanya ingin kau bahagia di masa depan nanti. Tak perduli bagaimana aku dulu, aku hanya ingin yang terbaik untukmu.''
SELESAI.
Terimakasih untuk para reader terbaikku yang udah menemani perjalanan cinta Mila, Karena genre yang berbeda untuk kisah Mia dan Erik nanti punya cover sendiri ya.
Di tunggu info selanjutnya Terimakasih😊
__ADS_1