Setelah 11 Tahun Pernikahan

Setelah 11 Tahun Pernikahan
Bab 89


__ADS_3

Setelah Bu Isna dan Riri pergi, kini tinggallah Hendra yang masih berdiri di sana menatap mantan istrinya dengan penuh kerinduan. Sedangkan Kenzo yang melihatnya menatap tak suka pada pria yang kini menatap mommy nya dengan tatapan seperti itu.


"Mommy, ayo kita pergi sesana aku sangat ingin memakan kue yang di buat pak Lim." Ajak Kenzo yang langsung menuntun Mila pergi meninggalkan Hendra .


Namun dengan cepat Hendra menghentikan langkah kaki Mila dan Kenzo seketika, begitu juga dengan Ravin yang langsung diam di tempatnya dan berdiri tak jauh dari mereka. Ravin tak langsung menghampiri sang istri karena ingin tahu apa yang akan di katakan oleh mantan suami dari istrinya itu.


"Mila bolehkah kita berbicara sebentar saja?" tanya Hendra dengan sedikit memohon pada Mila.


"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan Hendra!" sahut Mila menatap mantan suaminya dengan wajah biasa saja, karena saat ini Mila sudah benar benar melupakan segalanya tentang Hendra dan hanya ada Ravin lah yang memenuhi ruang hatinya saat ini.


"Selamat atas kehamilan mu, nyonya besar benar kau memang pembawa keberuntungan hanya saja dulu aku yang tak pandai bersyukur telah memiliki istri sebaik dirimu.''


Mila menghela nafas panjangnya menatap pria yang kini telah menjadi mantan suaminya, ada rasa iba saat melihat penampilan Hendra yang terlihat lusuh dan lebih kurus sangat berbeda jauh dengan Hendra yang ia kenal dulu.


"Tidak perlu lagi membahas masa lalu, saat ini dia istriku dan lihatlah aku berhasil membuatnya hamil hanya dengan waktu tiga bulan saja." Sahut Ravin yang kini tengah berjalan menghampiri sang istri dengan gaya coolnya.


Kenzo bernafas lega saat melihat daddy nya sudah kembali, kini ia pun mulai melepaskan tangan Mila dan langsung pergi menghampiri grandma nya setelah sang daddy menyuruh nya untuk pergi.


"Sayang duduklah jangan terlalu lama berdiri seperti ini kau akan kelelahan nanti.'' Ravin mengecup bibir mungil istrinya sekilas untuk memanas manasi Hendra yang masih berdiri disana.


"Apa kau ingin makan sesuatu sayang?''


''Tidak kak aku ingin duduk sebentar pinggang ku rasanya pegal sekali," keluh Mila yang langsung mengusap perut buncit dengan penuh senyuman.


Pasangan suami istri itu kini mulai bercengkrama dan melupakan kehadiran Hendra yang masih berdiri di sana menatap wajah Mila dengan tatapan sendu nya, perlahan kakinya pun melangkah mundur meninggalkan tempat itu dengan hati penuh penyesalan.


Walau dalam suasana yang ramai tapi Hendra merasakan kekosongan dalam dirinya. Rasa penyesalan yang terus larut dalam hatinya kian menggunung dan tak dapat di bendung lagi, namun ia merasa lega bahwa Mila telah bahagia saat ini.

__ADS_1


"Maaf untuk dosa yang pernah aku lakukan di masa lalu, semoga kau bahagia bersama dengan keluarga baru mu saat ini. Kenangan saat bersama mu akan tersimpan rapih dalam ingatan." Hendra tersenyum samar menatap Ravin yang tengah menempekan telinganya di perut buncit Mila, hingga tanpa sadar air matanya pun lolos begitu saja.


"Kak, ayo kita kembali ke rumah sakit. Ibu sudah sangat cemas menunggumu!'' Riri datang menghampiri sang kakak dan membawanya pergi meninggalkan ruangan itu.


Namun kini pandangan Riri tertuju pada Juna, yang kini sudah menjadi mantan kekasihnya tengah mengobrol bersama Mia dan Erik. Juna yang merasa dirinya di awasi pun melihat sekelilingnya, dan pandangannya pun terhenti saat melihat mantan kekasihnya tengah berdiri menatapnya dengan raut wajah yang tak bisa di artikan.


Juna berdehem menetralkan detak jantung nya yang berdetak begitu cepat dan langsung merangkul pinggang Mia untuk memanas manasi Riri. ''Nona ikut dengan saya, ada hal yang harus kita bicarakan mengenai hal lain,'' ajak Juna meninggalkan Erik yang masih berdiri disana.


''Hey, kau tidak sopan! seru Mia yang langsung menepis tangan Juna yang melingkar di pinggang nya.


Sekilas Mia menatap wajah Erik ingin melihat bagaimana reaksinya, namun Mia merasa sangat kecewa saat melihat Erik tak memperlihatkan raut wajah apapun selain wajah datar dan dinginnya.


"Maaf nona jika saya kurang sopan, saya hanya ingin melihat Riri mengerti jika tanpa dia pun saya bisa hidup bahagia.'' Juna langsung menundukan kepalanya setelah Riri keluar dari ruangan itu.


"Apa? jadi kamu cuman buat aku jadi tameng kamu gitu, ishh... Pria macam apa kau ini.'' Mia mendengus kesal dan langsung pergi meninggalkan Juna dan kembali duduk di samping Erik.


''Maaf Juna, bukan niatku untuk menyakitimu tapi ini adalah jalan terbaik untuk kita.'' Batin Riri.


"Ada apa Ri?''


"Tidak ada kak, ayo cepat ibu pasti sedang cemas menunggumu di mobil.'' Sahut Riri yang langsung menggandeng tangan kakaknya meninggalkan mansion utama.


*


*


Setelah acara pesta tujuh bulanan kehamilan nya selesai ini Mila mulai merebahkan tubuhnya agar merasa rilex.

__ADS_1


"Ya allah beginilah nikmatnya jadi seorang ibu hamil. Bekerja sedikit saja aku sudah merasa sangat lelah!'' keluh Mila sambil memijat lembut lututnya.


Sedangkan Ravin yang baru keluar dari kamar mandi tersenyum saat mendengar ucapan sang istri, dan berjalan menghampiri Mila dengan memakai handuk yang melingkar di pinggangnya.


"Sayang kau adalah mommy yang sangat hebat, karena kau mampu membawa mereka bertiga sekaligus.'' Ucap Ravin memberikan semangat untuk sang istri.


"Iya ini semua karena kenakalan itu,'' tunjuk Mila pada aset berharga suaminya yang langsung terlihat jelas saat handuk yang di pakai Ravin terlepas dan memperlihatkan benda yang selalu membuatnya terbang melayang menuju puncak nirwana.


"Apa yang sedang kau lakukan kak, apakah kau tidak malu?'' Mila langsung menutupi wajahnya dengan cepat.


Sedangkan Ravin terkekeh geli melihat tingkah konyol istrinya dan langsung memakai kembali handuknya yang sempat terlepas. "Kau sangat menggemaskan, sudah sering merasakan bagaimana rasanya tapi sekarang bertingkah malu malu seperti itu. Lucu sekali." Ravin menggelengkan kepalanya dan berjalan nenuju ruang ganti.


Sedangkan Mila yang merasa sangat malu langsung menutupi seluruh tubuh tubuhnya dengan selimut, setelah mendengar ucapan sang suami yang begitu prontal menurutnya.


Karena merasa sangat lelah sudah beraktifitas seharian kini Mila pun tertidur bersama dengan suaminya. Namun di tengah malam Mila terbangun saat merasakan sakit yang teramat. sangat di perutnya.


"Eummmhhh...'' Mila meringis menahan rasa sakit dengan keringat yang terus membasahi tubuhnya.


''Kak.....'' Mila memanggil sang suami yang kini sedang tertidur pulas di sampingnya.


"Hmm..'' Ravin membuka matanya saat mendengar suara sang istri yang memanggilnya, dan betapa terkejutnya Ravin saat melihat Mila tengah kesakitan memegangi perutnya.


Ravin merasa sangat panik dan langsung mencari ponselnya untuk menghubungi dokter Tasya.


"Kemana dokter itu, kenapa dia tak mengangkat panggilan ku?'' kesal Ravin yang langsung melemparkan ponselnya kesembarang arah dan langsung menggendong Mila untuk membawanya ke rumah sakit.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2