
Ravin tersenyum saat menuruni tangga sambil merapihkan dasinya. Bagaimana tidak, hari ini dia sangat puas membuat istrinya kelelahan dan kembali tidur dengan nyenyak setelah aktifitas yang dilakukannya di kamar mandi.
"Maaf sayang, ini adalah kerja ekstra kita untuk membuat keinginanmu segera terkabul.'' Ucap Ravin dalam hatinya, kini Ravin berjalan menghampiri Kenzo yang sedang memakan sarapannya bersama sang grandma.
"Kenz, apa kau sudah selesai?" Tanya Ravin yang langsung akan bersiap untuk pergi.
"Sudah, dimana mommy ku apa kau menyembunyikan nya lagi dad?'' tanya Kenzo dengan tatapan menyelidik. Sedangkan Ravin yang merasa terimidasi oleh putranya sendiri hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku tidak percaya jika dia itu putraku," gumam Ravin lirih.
"Dad?''
"Mommy mu sedang beristrahat Kenz, jangan ganggu dia. Aku akan mengantarkan mu kesekolah nanti, dan cepat bersiaplah aku akan menunggumu di mobil, dengar aku akan menceritakan sesuatu padamu jadi cepatlah sebelum aku berubah pikiran, tidak menceritakan hal ini padamu.'' Ucap Ravin yang kini berbisik di samping terus Kenzo.
"Aku tidak tertarik!'' seru Kenzo yang langsung mengambil tas miliknya dan berpikir akan menemui Mila.
"Baiklah kalau begitu keinginan mu aku tidak akan memberi tahu apa rahasia ku dan mommy padamu.'' Sahut Ravin yang langsung pergi meninggalkan putranya yang langsung menatapnya saat mendengar mommy nya di sebut.
''Kamu nggak sarapan dulu Vin, dimana Mila?" tanya nyonya Renata sambil celingukan mencari keberadaan menantu favoritnya.
"Lala sedang beristrahat mom, aku akan sarapan di kantor saja. Ada pekerjaan yang harus segera aku selesaikan dengan cepat."
Nyonya Renata hanya menganggukan kepalanya saat mendengar penuturan sang putra, dan meneruskan kembali sarapannya. Sedangkan Kenzo langsung bersemangat saat sang daddy mengatakan akan memberi tahu sebuah rahasia mommy padanya.
"Dad tunggu aku!" seru Kenzo yang langsung berlari menyusul sang daddy keluar mansion.
"Grandma, aku pergi dulu!" ucap Kenzo sedikit berteriak dan melambaikan tangannya pada nyonya Renata.
''Iya sayang." Sahut nyonya Renata yang langsung membalas lambaian tangan cucu kesayangan nya sambil tersenyum.
Di luar mansion.
"Aku kira kau tidak mau berangkat denganku Kenz.'' Ucap Ravin yang hanya melirik sekilas pada putranya.
"Dad Ayo ceritakan apa yang kau rahasiakan dengan mommy?"
"Ini sebuah rahasia mana mungkin aku menceritakan nya padamu,'' Jawab Ravin yang sedikit menggoda putranya.
Sedangkan Kenzo yang mendengar jawaban daddy nya langsung bersedekap dada dan mengerucutkan bibirnya, "dad kau sudah mengingkari janjimu, bukankah seorang pria itu di percaya karena menepati janjinya.'' Ucap Kenzo dengan telak, membuat Ravin sedikit terkejut dengan apa yang di ucapkan putranya.
"Haaahh... Kau memang putraku Kenz, Baiklah. Baik aku akan menceritakan rahasia ini padamu, tapi janji hanya kita berdua saja yang tahu apa kau setuju?" tanya Ravin yang langsung di jawab anggukan kepala oleh sang putra.
__ADS_1
"Apa kau ingin memiliki adik?'' tanya Ravin yang langsung pada intinya.
"Hmm..'' Kenzo langsung menggaruk dengan cepat.
"Tunggu beberapa minggu lagi mungkin adikmu akan sampai di perut mommy.''
"Bagaimana caranya adik bisa sampai ke perut mommy?" tanya Kenzo dengan polosnya.
Sedangkan Ravin langsung terdiam tak tahu lagi harus berkata apa, karena apa yang di pikirkannya sangat jauh berbeda dengan apa yang di katakan sang putra.
"Akh.. Itu ya, Hmmm.. Itu hanya mommy yang tahu.'' Jawab Ravin asal sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Semoga saja Kenzo tidak menanyakan hal ini pada Lala, jika tidak aku pasti akan terkena imbasnya nanti." Gumam Ravin dalam hatinya.
"Dad?"
"Sudah sampai sekarang kau masuklah dan belajar dengan baik. Ingat yang tadi adalah rahasia kita dan kau harus berjanji tidak menceritakan hal ini pada siapapun, terutama pada mommy." Ucap Ravin memperingatkan putranya. Namin Kenzo yang mendengar penuturan sang daddy hanya menganguk saja.
"Ingat kenz, jika kau melanggar janjimu aku akan membatalkan keinginan mu nanti." Ancam Ravin pada putranya.
*
*
ceklek..
Pintu terbuka memperlihatkan asisten pribadinya membawa sebuah berkas yang kini berada di tangannya.
"Apa info terbaru nya." Tanya Ravin tanpa basa basi.
"Kita tidak bisa langsung menggulingkan tahta tuan Bisma Davis karena aset kepemilikan perusaan itu masih milik tuan Mahesa.
"Bagus, kalau begitu panggil putranya kemari. Aku ingin berbicara langsung padanya!"
"Tapi tuan muda Erik sepertinya ingin berusaha dengan caranya sendiri, dia bahkan meminta bantuan adik ipar anda." Ucap Juna keceplosan.
"Apa! berani sekali dia menyeret Mia dalam hal ini jika Lala tahu tentang hal ini semuanya tidak akan baik baik saja, cepat suruh Erik dan Mia datang menemuiku sekarang juga."
"Ba.. Baik tuan" Dengan cepat Juna langsung berlari keluar dari ruangan bosnya, ia mengutuk dirinya sendiri karena mulutnya terlalu jujur saat berbicara dengan Ravin.
SATU JAM KEMUDIAN
__ADS_1
Kini Erik dan Mia sudah berada di hadapan Ravin dengan raut wajah yang berbeda, bagaimana tidak mereka di seret secara paksa saat melakukan misi pertamanya.
Flashback.
"Aku sudah siap!" sahut wanita dengan penampilan yang berbeda berbicara dengan Erik.
''Siapa kau?'' tanya Erik dengan bodohnya.
"Aku rasa otak dan matamu sedikit bermasalah tuan muda Mahesa." Ucap Mia dengan nada ketusnya.
"Dasar wanita konyol, bukan itu maksudku. Mengapa kau berpakaian seperti ini?" tanya Erik tanpa melihat ke arah Mia, ia takut iman dan iminnya goyah saat melihat Mia dengan pakaian seksi dan memperlihatkan dua bukit kenyalnya, yang memaksa keluar dari pakaian yang ia kenakan saat ini.
"Apa salahnya? ini adalah kostum paling cocok untuk melakukan misi ini."
"Baiklah terserah kau saja, sekarang dimana pria tua itu akan menemui mu?"
"Tunggu sampai dia mengirimkan lokasinya saat ini." Jawab Mia sambil memakai rambut palsunya dan beberapa riasan untuk penyamarannya saat ini.''
Ting..
Suara ponselnya Mia berbunyi tanda sebuah pesan masuk.
''Panjang umur sekali baru di bicarakan dia sudah mengirimkan pesan mengirimkan lokasinya. Aku tidak percaya bahwa dia itu ayahku, di saat perusahaannya terombang ambing dia malah bersenang senang dengan para wanita bayaran."
"Itulah sipat asli pria yang selalu kau banggakan.'' Sahut Erik yang langsung mendapat tatapan tajam dari Mia.
"Diam kau, bicara saja seperti perempuan!''
''Ayo kita pergi sekarang, dan jangan lupa untuk meminta tanda tangannga disini." Ucap Erik yang langsung memberikan kertas kosong pada Mia.
"Itu mudah.'' Mia langsung menerima kertas itu dan memasukannya kedalam tas. Kini mereka berdua pun bersiap melakukan misinya, namun beberapa orang langsung menghadang langkah mereka dan membawanya secara paksa.
"Lepaskan siapa kalian kemapa kalian bersikap tidak sopan padaku." Ucap Mia yang tidak terima saat dirinya langsung di bawa bagitu saja, berbeda dengan Erik yang terlihat biasa saja karena ia sudah tahu siapa para pengawal itu.
"Maaf bos ini perintah langsung dari tuan muda.''
"Baiklah lepaskan gadis itu, kami akan mengikuti kalian dengan suka rela." Ucap Erik yang langsung membuka jas nya dan memakaikannya pada Mia.
"Suka rela? aku tidak mau. Siapa mereka? apa kau juga ikut bersekongkol untuk membodohiku?''
"Diam dan jangan banyak protes, ikuti saja mereka dan pakai ini. Jika tidak maka tubuhmu akan menjadi tontonan gratis para pengawal itu."
__ADS_1
Flashback end.
Bersambung...