
"*K*ehidupan manusia memang tak pernah lepas dari sebuah peristiwa, kesedihan, kepahitan dan ke bahagiaan yang datang silih berganti. Tak ada manusia yang tak luput dari kesalahan dan dosa memaafkan dan melupakan masalalu adalah jalan yang terbaik untukku, aku ingin hidup bahagia dengan caraku sendiri menjalani hari-hariku tanpa ada bayangan masalalu. Menjadi janda bukan pilihanku namun ini adalah takdirku pernikahan yang ingin ku jalanani sekali seumur hidup ternyata hanya berumur sebelas tahun saja, walau begitu aku tetap pernah merasakan bagaimana manisnya kebahagiaan dalam hubungan itu sebelum akhirnya kita memilih jalan yang berbeda.''
Mila mencurahkan isi hati dan perasaanya pada sebuah buku diary miliknya. Tulisan pena itu menuntun apa yang ada dipikirannya saat ini beberapa tetes air mata pun saling berjatuhan mengiringi tulisan tangannya.
"Move-on adalah jalan yang terbaik mila, kamu kuat kamu bisa'' Ucapnya menyemangati diri sendiri.
Di saat mila sedang berkutat dengan pena dan pikirannya. Kini pikiran Mila teralihkan saat mendengar suara ketukan pintu di iringi suara Kenzo yang memanggilnya. Dengan cepat Mila pun mengusap air matanya dan menyimpan buku diary itu di bawah bantalnya.
''Mommy, apa kau masih terjaga?'' Tanya Kenzo yang sedikit berteriak di depan pintu kamar Mila.
''Iya tunggu sebentar'' Sahut Mila yang langsung membuka pintu kamar nya yang sengaja dia kunci.
Ceklek
Mila membuka pintu melihat makluk kecil yang sudah memakai piama itu berdiri di depan pintu kamarnya. Namun ternyata ia tak sendiri sang daddy juga ikut bersamanya. Mila tersenyum dan berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Kenzo ia pun mecolek hidung Kenzo dengan gemas, hal itulah yang sudah menjadi kebiasaan bagi Mila.
"Ini sudah malam kenapa kau masih belum tidur?'' Tanya Mila dengan lembut.
"Aku tidak bisa tidur malam ini mom, aku ingin tidur bersama mommy dan daddy''
''Tapi sayang itu tidak mungkin'' Jawab Mila yang langsung melirik ke arah pria yang berdiri dengan wajah tanpa ekspresi sama sekali.
''Jangan melihatku begitu Karena bukan aku yang menyuruhnya'' Sahut raevin dengan nada dinginnya.
''Mommy aku mohon, please" Kenzo pun menyatukan tangannya di depan dada memohon pada Mila agar menuruti keinginannya saat ini. Ia sudah berhasil membujuk sang daddy dengan berbagai macam cara yang ia keluarkan walau sangat begitu sulit bagi Kenzo.
Mila menghela nafas panjangnya dan kembali menatap Kenzo yang kini sedang memohon dengan puppy eyes nya.
"Owh ya ampun dia menggemaskan sekali aku menjadi tidak tega untuk menolak nya, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Hmm.... baiklah ayo aku antarkan ke kamarmu" Kekuatan hati Mila akhirnya kalah saat melihat tatapan penuh permohonan Kenzo, di ikuti oleh Ravin yang berjalan di belakang nya dengan sedikit menguap menahan kantuknya.
__ADS_1
''Mommy kau di sebelah kiri dan daddy di sebelah kanan dan aku di tengah-tengah kalian'' Ucap Kenzo dengan penuh semangat.
"Baiklah sayang sekarang kau tidurlah'' sahut Mila yang di angguki oleh Kenzo.
"Ayo cepatlah Kenz, jika tidak besok aku akan terlambat meeting pagi'' Timpal Ravin yang langsung memejamkan matanya.
''*Y*a ampun aku harus bagaimana sekarang, haruskah aku berbagi ranjang dengan pria yang bukan suamiku, tunggu sampai Kenzo tidur aku akan pindah kamar''
"Ayo sekarang tidurlah" Ucap Mila yang mengusap usap rambut Kenzo dengan lembut. lama Mila berada di posisi yang sama namun ia masih melihat Kenzo terjaga, sedangkan rasa kantuknya kini mulai menyerang Karena sebelum nya ia sudah meminum obat yang di berikan Ravin padanya.
Tanpa sadar Mila pun tertidur dengan pulas memeluk Kenzo. Kini Kenzo pun tersenyum senang, ia sangat bahagia karena setelah sekian lama akhirnya ia bisa merasakan bagaimana memiliki keluarga utuh.
Kenzo pun terbangun dan mengecup pipi sang daddy bergantian dengan Mila tak lupa ia pun mengabadikan momen itu menggunakan ponsel daddy nya.
Kemudian Kenzo pun turun dari ranjang miliknya dan keluar dengan perlahan agar dua orang dewasa itu tidak terbangun Karena langkah kakinya.
"Grandma. Grandma misi sudah selesai'' Bisik Kenzo saat membuak pintu kamarnya.
*
*
Di tempat lain Hendra tengah mabuk berat untuk melupakan semua kesedihan dalam hatinya ia terus meracau tidak jelas terus menyebut nama Mila. Membuat pelayan bar bingung harus bagaimana pasalnya Hendra sudah mengbiskan delapan botol wine dengan total hampir sepuluh juta.
"Dia sudah sangat mabuk berat, tidak mungkin bisa membayar wine yang sangat mahal ini'' Ucap salah satu pelayan bar itu.
"Kau benar, sebaiknya geledah saja sakunya dan cari ponselnya hubungi wanita yang bernama Mila itu aku yakin dia pasti kekasihnya'' Sahut sang manager bar itu.
Dua pelayan pria itu pun mulai menggeledah Hendra untuk mencari ponsel nya dan menghubungi Mila. Namun nihil tak ada nama Mila di ponsel Hendra.
"Aneh dia tergila gila karena Mila tapi tak ada nama Mila di kontak ponsel nya"
__ADS_1
"Cari yang lain saja dan minta mereka membayar wine yang sudah pria itu minum"
Beruntung saat para pelayan bar itu akan mencari kontak seseorang ponsel Hendra berbunyi dengan nama Riri yang tertera memenuhi layar ponsel itu.
"Riri, dia menyebut nama Mila tapi Riri yang menghubunginya mereka pasti terlibat konflik cinta segi tiga'' Ucap salah satu diantara pelayan bar itu pun tertawa mengejek.
"Wajar saja dia lumayan tampan " Ucap temannya menyahuti.
"Ssttt, diam aku akan menerima telepon ini dulu''
"Mila maafkan aku yang bodoh ini aku mohon kembalilah padaku aku berjanji tidak akan pernah menyakiti dan menghianati mu lagi'' Hendra terus meracau meminta maaf pada Mila dengan air mata yang membasahi pipinya, ia merasakan penyesalan yang teramat dalam di hatinya karena sudah menyianyiakan istri yang begitu tulus mencintai nya.
"Bagaimana?'' Tanya sang manager bar yang datang kembali menghampiri anak buahnya.
"Beres bos kita sedang menunggu wanita yang akan menjempunya disini''
"Bagus'' Sang manager bar pun kembali ke dalam ruangannya.
"Bro aku sangat kasihan sekali pada pria ini'' Ucap sang pelayan bar pada temannya.
"Kenapa? biarkan saja begitu, penyesalan memang datang belakangan kalau penyesalan datang duluan tak mungkin pria ini berada di tempat ini sekarang''
''Kau benar bro''
Dua pelayan bar itu pun berhenti bergosip saat wanita cantik datang menghampiri mereka dengan wajah khawatir. ''Kak kenapa kau menjadi seperti ini?" Tanya Riri dengan wajah penuh kecemasan.
"Ini tagihan nya, dan bantu aku membawa kakakku ke dalam mobil'' Ucap Riri saat menyodorkan kartu untuk membayar wine yang sudah di minum oleh kakaknya.
"Baik nona''
Salah satu pelayan bar itu pun membantu riri membawa hendrae kedalam mobilnya, tanpa mereka sadari sejak tadi seseorang sedang memperhatikan gerak gerik mereka dengan senyuman penuh kemenangan.
__ADS_1
Bersambung..