
Mia langsung terbangun, saat mendengar suara yang hampir mirip dengan seseorang yang selalu mengganggu otak dan pikirannya.
''Erik!" pekik nya terkejut. Namun Mia langsung berdecih saat melihat orang yang ada di hadapannya saat ini.
"Aku Juna, bukan Erik! cepat temui nyonya muda sekarang atau aku akan menyeret mu dengan paksa.''
Mia memutar bola matanya malas saat mendengar ucapan Juna yang begitu terlalu memaksa baginya. "Memang semua pria di dunia ini sama saja. Menyebalkan!'' ucap Mia yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Juna yang masih berdiri di tempatnya.
"Apa dia bilang tadi? pria di dunia ini sama saja! sama apanya? ciihhh... Untung saja dia adiknya nyonya muda, jika tidak aku sudah akan memasukannya ke dalam karung dan membuang nya ke laut untuk menjadi santapa ikan di sana." Umpat Juna dengan wajah kesalnya.
Sedangkan Mia langsung melenggang pergi menemui sang kakak masih dengan wajah bantal nya, karena tak bisa tidur semalam penuh karena memikirkan Erik. Cuplikan demi cuplikan saat bersama dengan Erik pun kembali terulang bagaikan kaset rusak di dalam otak Mia.
"Mia kamu masih belum siap juga?" Mila merasa heran saat melihat adik satu satunya tak seperti biasanya.
"Hmm... Maaf kak membuatmu menunggu lama.'' Ucap Mia dengan raut wajah bersalahnya.
"Nggak apa apa kok, lebih baik kamu mandi dulu sana ada yang harus kakak bicarakan dengan mu. Tapi jangan lama!" usir Mila dengan menekan kata kata terakhir yang ia ucapkan.
"Siap Bu bos, Lima menit!'' seru Mia yang langsung berlari meninggalkan Mila yang melongo mendengar ucapan sang adik.
"Lima menit! mandi atau mencuci wajah saja?" Mila menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan sang adik yang begitu barbar.
Mila kembali menunggu di ruang tamu bersama dengan Juna yang berdiri mematung di sampingnya, membuat Mila sedikit risih dan aneh karena ia tak terbiasa di perlakuan seperti itu.
"Asisten Juna, duduklah! apa kau tidak lelah terus berdiri disana?''
"Terimakasih nyonya, saya akan seperti ini menunggu anda sampai selesai berbicara dengan nona Mia itu adalah perintah langsung dari tuan muda!"
Mila mendengus kesal mendengar jawaban Juna yang menolak permintaan nya dengan alasan karena permintaan suaminya. "Baiklah kalau begitu mau mu!'' Mila langsung mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Ravin.
"Lama sekali dia membalas pesanku!''
Ting. Pesan balasan pun masuk begitu juga dengan ponsel juna. Kini Juna pergi meninggalkan Mila yang duduk tenang di sofa.
Setelah lima menit berlalu, kini Mia datang menghampiri Mila dengan wajah segarnya.
"Kak!''
__ADS_1
"Mia, kemarilah kakak ingin membicarakan sesuatu yang penting padamu!''
"Apa?" tanya Mia dengan raut wajah penasaran nya dan langsung duduk di samping sang kakak, dan mulai dengan wajah seriusnya.
"Mia apa kamu tidak keberatan jika tinggal berdua disini?''
"Dengan siapa?''
"Sesilia!"
"Apa?!" Mia langsung berdiri bertolak pinggang di hadapan Mila dengan raut wajah kesalnya.
"Kak dia punya keluarga, kenapa dia harus tinggal bersama dengan ku!'' protes Mia dengan sedikit menaikan intronasi suaranya.
"Dek, mengertilah saat ini dia tidak memiliki siapapun dan apapun lagi.'' Mohon Mila pada dang adik agar Mia mau menerima permintaan nya kali ini.
"Kak apa kau itu bodoh, dia adalah putri ketiga penghianat itu! suruh saja dia ikut kakak nya dan jangan libatkan aku dalam hal ini." Tolak Mia dengan sarkas.
Ia tak menyadari bahwa sejak tadi seseorang sedang menatapnya dengan tatapan marah, karena Mia terlihat bersikap arogan dan kasar pada Mila.
"Kak Ravin kenapa dia ada disini? bukankah dia ada pertemuan penting.'' Gumam Mila lirih.
"Apa begitu caramu menghormati orang yang lebih tua darimu? Mia kau bisa hidup seperti ini karena kakakmu apa kau tidak bisa berkata (Ya) untuk menuruti keinginan nya? dia hanya memintamu tinggal bersama bukan hal yang buruk bukan!'' ucap Ravin masih dengan nada tingginnya.
"Kak sudahlah jangan paksa Mia." Sahut Mila yang langsung berdiri menghampiri suaminya.
Sedangkan Mia merasa sangat sakit hati dengan ucapan kakak iparnya yang begitu tajam dan tak memikirkan perasaannya saat ini.
"Biarkan saja, agar dia bisa menghormati setiap keputusan mu di masa depan nanti." Ucap Ravin yang langsung membawa Mila pergi meninggalkan tempat itu.
''Beginikah rasanya di asingkan?'' Mia menangis sesenggukan menatap punggung kakak dan kakak iparnya menghilang di balik pintu. Kini tubuhnya merasa lemas dan tak bertenaga, Mia duduk di lantai menangis menyembunyikan wajahnya.
"Tidak apa apa jika kau tak ingin tinggal bersama denganku, aku akan mencari tempat lain saja!'' ucap seseorang yang langsung mengejutkan Mia, kini Mia mengangkat wajahnya melihat seorang gadis berumur delapan belas tahun berdiri di hadapannya.
''Apa kau puas dengan semua drama ini? jika kau ingin tinggal disini maka silahkan saja tapi jangan harap aku sudi satu atap dengan anak seorang penghianat sepertimu!'' seru Mia yang langsung berdiri dan meninggalkan Sesilia yang masih berdiri di tempatnya.
"Terimakasih kak." Sesilia tersenyum penuh kemenangan menatap Mia yang berlalu pergi meninggalkan dirinya.
__ADS_1
"Hah ternyata membujuk tuan Ravin dan nyonya Mila lebih mudah di bandingkan membujuk seorang Mia.''
Flashback
Sesilia datang ke mansion utama untuk bertemu dengan Mila untuk membujuknya memberikan sebuah tempat tinggal yang layak, karena ia tak sudi jika hidupnya yang terbiasa bergelimbang harta kini terlunta lunta di jalanan.
"Saya mohon nyonya. Kasihanilah saya, karena setelah papa dan mama pergi saya tidak punya apapun dan siapapun lagi di dunia ini.'' Mohon Sesilia yang bersimpuh di kaki Mila.
"Apa yang kamu lakukan? berdirilah jangan seperti ini. Baiklah aku akan membantumu untuk mencari tempat tinggal sementara! sekarang ikutlah denganku!'' ajak Mila.
"Nyonya apa yang_'' Juna ingin protes tapi dengan cepat Mila menggelengkan kepalanya dan menyuruh Juna untuk tetap diam.
Setelah beberapa menit berkendara, mobil yang di kendarai Juna pun sampai di rumah toko milik adiknya, ''semoga saja Mia mau membantu gadis malang ini!'' gumam Mila dan menatap prihatin pada gadis kecil di hadapannya.
"Kamu tunggu disini sebentar, jika nanti saatnya tiba aku baru akan memanggil kamu untuk masuk ke dalam.''
''Baik nyonya,'' Sesilia menatap sinis pada Mila yang kini masuk ke dalam rumah toko adiknya.
"Yang pertama aku harus menciptakan perpecahan diantara adik kakak itu, setelah itu barulah aku memikirkan rencana lain.'' Ucap Sesilia lirih.
SATU JAM KEMUDIAN.
Kini Sesilia merasa sangat kesal ia merasa sangat lelah berdiri dan menunggu di luar rumah itu bagaikan pengemis saja, awalnya ia ingin menanyakan sesuatu pada Juna yang keluar dari rumah tersebut. Namun Juna pergi begitu saja tanpa melihat kearahnya.
"Sombong sekali dia!'' ketus Sesilia.
Setelah beberapa menit berlalu namun Sesilia masih berdiri di luar rumah toko milik Mia. "Apa mereka sengaja mejadikan aku patung disini?'' kesal Sesilia yang menghentakan kakinya.
Namun detik berikutnya ia mendengar suara keributan dari dalam ruangan itu bersamaan dengan Ravin yang keluar dari dalam mobilnya.
"Ini adalah kesempatan emas bagiku!"
"Tuan Ravin tolonglah nyonya Mila di dalam, adiknya sedang berbuat kasar padanya sejak tadi!'' ucap Sesilia yang langsung membuat raut wajah tenang Ravin menjadi murka.
Flashback End.
Bersambung...
__ADS_1