
Ravin berlari memasuki gedung rumah sakit dan berteriak memanggil kepala rumah sakit itu agar segera memanggil dokter Tasya, ia merasa sangat begitu panik saat melihat istrinya begitu kesakitan dan air terus mengalir dari selangkangannya.
Ravin menidurkan sang istri di bernkar pasien dengan sangat hati hati. "Bertahanlah sayang, semuanya akan baik baik saja!'' Ravin menggenggam jemari sang istri untuk menguatkannya. Ada rasa takut saat Mila berada dalam kondisi ini, ia mengingat kasus beberapa tahun lalu saat Anggun akan melahirkan Kenzo ke dunia ini.
"Lala kau kuat sayang, kau adalah mommy terhebat di dunia ini. Kamu pasti bisa melewati semua ini, aku bersamamu!'' Ravin terus memberikan dukungan untuk menguatkan istrinya saat ini.
Sedangkan dokter Tasya sedang berlari memasuki gedung rumah sakit setelah mendapatkan panggilan darurat dari kepala rumah sakit. "Harusnya tidak sekarang, ini baru minggu ke tiga puluh satu dan masih ada dua minggu lagi nyonya Mila bisa melahirkan bayi triplet nya. Tapi sepertinya para bayi itu ingin cepat melihat dunia ini sebelum waktunya.''
Dokter Tasya terus berlari dan memasuki ruangan yang sudah di siapkan untuk istri pemilik rumah sakit itu dengan cepat.
"Tuan silahkan anda tunggu di luar agar kami bisa melakukan tindakan sesuai prosedur.'' Seorang suster meminta Ravin keluar saat melihat dokter Tasya sudah memasuki ruangan tersebut.
"Tidak, aku akan tetap disini menunggu istriku.'' Jawab Ravin dengan tegas.
"Tapi tuan,''
"Sudah aku katakan aku akan tetap disini menunggu istriku!'' teriak Ravin dengan wajah marah bercampur cemasnya.
Sedangkan Mila langsung menggelengkan kepalanya menatap pada sang suster, ''kak, biarkan mereka melakukan tugasnya. Tolonglah ini demi bayi bayi kita! bukankah kau yang bilang aku adalah mommy yang hebat.'' Sahut Mila menenangkan Ravin.
"Apa kau tidak percaya pada istrimu ini?'' Mila mulai membujuk sang suami agar dokter Tasya bisa dengan cepat melakukan tugasnya.
''Baiklah kalau begitu, aku akan menunggumu di luar.'' Mila tersenyum dan mulai melepaskan genggaman tangan sang suami saat Ravin akan pergi meninggalkan darinya di tempat itu.
Begitu pun dokter Tasya yang langsung memeriksa keadaan Mila dan bayi triplet nya. Mila tersenyum menahan rasa sakit yang ia rasakan saat ini, ia merasa sangat bangga bisa merasakan bagaimana menjadi seorang ibu hamil dan merasakan nikmatnya rasa sakit yang ia rasakan di setiap harinya, mengingat ini adalah kehamilan pertamanya yang langsung mendapatkan tiga anak sekaligus sungguh ini adalah hal di luar ekpektasinya.
Ya! walaupun Mila pernah di nyatakan hamil dan keguguran sebelumnya, tapi Mila belum pernah merasakan kehadirannya saat itu. Bahkan Mila baru mengetahuinya setelah beberapa bulan kejadian naas itu terjadi pada dirinya.
"Dokter air ketubannya sudah hampir kering!''
__ADS_1
"Sebaiknya kita ambil tindakan secepatnya, jika tidak maka sangat membahayakan ibu dan bayinya." Jawab dokter Tasya dengan cepat.
"Siapkan semuanya kita akan pindah ke ruang operasi sekarang juga!''
''Baik dok."
Di luar ruangan Ravin tengah berjalan mondar mandir dengan sangat cemas, sudah ada Mia nyonya Renata bersama dengan putra sulungnya yang juga ikut cemas menunggu dokter Tasya memberikan informasi terbaru tentang keadaan istrinya.
Ceklek. Pintu ruangan sang istri terbuka dan para suster mendorong bankar istrinya keluar dan langsung di ikuti oleh dokter Tasya. "Dokter mau di bawa kemana istriku?" tanya Ravin dengan wajah paniknya.
"Tuan kami akan segera melakukan tindakan caesar karena air ketuban nyonya Mila hampir mengering, tolong tanda tangan di sini untuk persetujuan persalinan."
Dengan cepat Ravin pun menandatangani beeekas tersebut, ''tuan mari ikut dengan saya!" ajak dokter Tasya setelah mendapatkan tanda tangan Ravin.
"Aunty, apakah mommy dan adik adikku akan baik baik saja?'' tanya Kenzo dengan raut wajah sedihnya.
"Mereka akan baik, semuanya akan baik baik saja kita berdoa agar kakak bisa melewati persalinan nya dengan lancar.'' Mia memeluk tubuh mungil Kenzo.
SATU JAM KEMUDIAN.
Setelah satu jam berlalu, Mila masih dalam penanganan dokter Tasya menunggu para bayinya akan lahir di temani sang suami yang terus menggenggam tanganya.
Mila tersenyum melirik ke arah suaminya yang masih terlihat sangat begitu cemas. ''Semuanya akan baik baik saja kak!'' seru Mila lirih menatap lekat wajah tampan suaminya.
''Bagaimana kau bisa setenang ini sayang, apakah kau tidak merasa sakit?'' tanya Ravin yang langsung mendaratkan kecupannya di kening sang istri.
"Rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa bahagiaku kak! terimakasih kau sudah membuat hidupku sempurna.'' Mila tersenyum penuh ketulusan sebelum akhirnya ia mendengar suara tangisan bayi pertamanya.
Oeekk... Oekk....
__ADS_1
"Selamat bayi laki laki pertama anda lahir." Ucap dokter Tasya yang langsung menyimpan sang bayi di atas dada ibunya, di susul dengan bayi laki laki kedua dan yang terakhir bayi perempuan. Kini mereka saling berebut mencari sumber kehidupannya di dunia ini.
Mila menangis bahagia melihat anak anaknya telah lahir ke dunia dengan selamat. Namun setelah beberapa menit kemudian seorang suster membawa bayi triplet untuk di membersihkan dan menyimpan mereka di inkubator, karena mereka lahir sebelum waktunya membuat Mila harus bersabar untuk bisa kembali menggendong buah hatinya.
*
*
Empat minggu telah berlalu kini Mila tersenyum menatap tiga bayinya yang tengah tertidur pulas, ia merasa sangat tenang setelah dokter Tasya mengatakan ketiga bayinya dalam keadaan sehat dan tidak perlu menggunakan inkubator lagi.
"Sayang! kenapa kau menangis?'' tanya Ravin yang langsung menghampiri sang istri.
"Aku tidak menangis, tapi aku sangat bahagia melihat mereka baik baik saja."
Mendengar jawaban sang istri membuat Ravin tersenyum dan langsung memeluk erat tubuh istrinya. ''Terimakasih sayang kau sudah melengkapi hidupku. Aku mencintai mu, sangat mencintai mu.'' Ucap Ravin yang langsung memberikan beberapa kecupan di wajah istrinya.
"Ayo kita bawa mereka untuk keluar, acara aqiqah akan segera di mulai.'' Ajak Ravin yang langsung di angguki sang istri.
"Lihatlah. Tripel D sudah keluar!'' seru Mia yang langsung menghampiri tiga keponakan kembarnya.
"Kak bagaimana cara aku membedakan mereka? mereka terlihat sama dan membingungkan terkecuali si cantik yang satu ini.'' Mia mengusap lembut pipi mungil bayi terakhir dengan telunjuknya.
"Mereka sangat menggemaskan!" seru Kenzo dengan tatapan berbinar menatap ketiga adik bayinya.
''Tripel D mereka sangat menggemaskan!'' seru para pelayan yang melihat ketiga bayi itu secara bergantian.
"Jadi kak, sampai kapan kami harus menyebut nya tripel D siapa nama bayi pertama, kedua dan ke tiga ini. Tidak mungkin kan kami akan terus menyebut nya tripel D kan." Protes Mia.
"Mia benar, jadi siapa nama meraka Vin?" tanya nyonya Renata yang sangat begitu penasaran dengan nama nama para cucunya.
__ADS_1
Bersambung..