
Kenzo menguap sambil mengucek matanya, dan kini menatap sang mommy dengan wajah menggemaskan bagi Mila.
"Sayang kenapa kau kemari?''
"Mom, dimana air minumnya? aku sudah menunggu mu sejak tadi tapi mom tidak kunjung kembali, apa daddy mengganggu mu mom?" Ucap Kenzo sambil menatap tak suka ke arah sang daddy.
Ravin merasa gugup saat ini ia merasa terimidasi oleh putranya sendiri. "Aku, aku.''
"Tidak ada sayang, ayo mom ambilkan minum untukmu'' Ajak Mila yang langsung melambaikan tangannya pada sang suami dan mengedipkan sebelah matanya untuk sedikit menggoda Ravin.
"Sayang jangan mengejekku seperti itu!'' Ravin mendengus kesal saja melihat istrinya lebih memilih pergi bersama putranya, dari pada tidur di kamar pengantin bersama nya.
"Ini tidak boleh di biarkan, aku juga akan ikut tidur disana bersama Lala ku. Bagaimana mungkin, kami sudah sah menjadi suami istri tapi masih tidur berpisah.'' Dengan cepat Ravin pun langsung bergegas pergi menuju kamar putranya.
*
*
Keesokan harinya. Ravin dan Kenzo sedang berada di meja makan, menunggu Mila yang sedang menyiapkan sarapannya pagi untuk mereka. Karena dengan tegas mereka menolak masakan yang di masak oleh koki mansion.
''Sarapan sudah siap!" Seru Mila mendekat ke arah dua pria yang sedang tersenyum menyambutnya, Sedangkan nyonya Renata hanya menggelengkan kepalanya saat melihat sisi kekanakan sang putra.
"Syukurlah semuanya sudah baik baik saja," gumam nyonya Renata lirih menatap ke arah sang putra yang masih tersenyum menatap sang istri.
Kini acara sarapan pagi pun di mulai, Kenzo memakan sarapannya dengan sangat lahap begitu juga dengan Ravin.
''Sayang, seperti biasa kau harus mengantarkan makan siang ku ke kantor dan harus..''
"Tepat waktu," sahut Mila yang langsung berdiri mengambilkan rantang milik Ravin dan memberikan nya pada sang suami.
"Ini sudah aku siapkan, maaf karena siang nanti aku harus menemui Mia. Aku merasa sangat aneh karena sejak kemarin dia tidak datang menemui ku entah dimana anak itu sekarang."
"Jangan khawatir biarkan Erik yang mencari keberadaan Mia dan membawanya padamu.''
"Itu tidak perlu kak, biar aku cari sendiri saja nanti.'' Sahut Mila sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Mom aku sudah selesai dimana bekal milikku?"
"Sudah mom simpan di tas mu nak!''
"Terimakasih mom," Kenzo tersenyum lalu berjalan menghampiri Mila untuk mengecup pipi ibu sambungnya.
"Mommy memang yang terbaik!'' Seru Kenzo dengan wajah bahagianya.
Mila tersenyum penuh haru saat Kenzo memperlakukan nya seperti ibu kandung nya sendiri. "Terimakasih sayang,'' ucap Mila dengan penuh ketulusan.
Sama dengan Mila nyonya Renata yang melihatnya pun ikut terharu sampai meneteskan air matanya, namun semua itu terhenti saat melihat Ravin juga menghampiri sang istri dan medaratkan beberapa kecupan di wajah istrinya.
"Kak apa yang kau lakukan!'' seru Mila yang kini merasa sangat malu, wajahnya kini terlihat memerah dan menahan tangis.
"Tidak masalah kalian jangan hiraukan aku, Kenz hari ini biarkan grandma yang mengantar mu kesekolah, ayo sayang! nanti grandma akan menceritakan sesuatu yang penting untukmu'' Ajak nyonya Renata yang langsung di anggauki oleh sang cucu.
Kini Kenzo menatap kesal pada sang daddy yang sudah mengganggu mommy nya, ''mom aku pergi dulu." Ucap Kenzo sambil melambaikan tangannya pada Mila.
"Sebenarnya dia itu musuhku atau putraku?'' gamam Ravin lirih, namin masih bisa di dengar oleh Mila.
''Dia putramu kak, apa kau lupa? bukankah kau sendiri yang sudah membuatnya!'' sahut Mila dengan asal, karena ia masih sangat kesal pada Ravin yang membuatnya merasa malu pada mommy mertuanya.
Mila mendengus kesal melihat ke arah sang suami yang pura-pura tak mengerti. "Hihh.. Kamu nanyea... ?'' Mila pun langsung pergi meninggalkan Ravin sendirian di meja makan dengan wajah tak percaya, jika istrinya bisa bersikap menyebalkan seperti itu.
"Sejak kapan dia bisa bersikap seperti adiknya? selama ini yang aku tahu dia adalah gadis imut pendiam dan sangat menggemaskan, lupakan saja aku harus segera pergi ke kantor dan menanyakan tugas yang aku berikan pada Juna.'' Ravin pun langsung pergi meninggalkan mansion setelah berpamitan pada sang istri.
Dari balkon Mila melihat mobil yang di kendarai Ravin sudah keluar dari halaman mansion, dengan cepat ia pun mengambil tas nya dan bersiap akan pergi ke suatu tempat.
Namun sebelum ia sampai di luar mansion, beberapa pengawal menghadangnya dan menawarkan diri untuk mengantarkan nya, tetapi dengan cepat Mila menolaknya. Karena ia tidak ingin semua orang tahu kemana ia akan pergi dan apa yang akan ia kerjakan saat ini.
"Tapi nyonya."
"Aku mohon mengertilah aku.'' Pinta Mila sambil menyatukan kedua telapak tangannya di hadapan para pengawal itu.
''Nyonya jangan seperti itu, jika tuan muda melihatnya kami akan terkena masalah.''
__ADS_1
"Baiklah sekarang biarkan aku pergi,'' sahut Mila yang langsung di beri jalan oleh para pengawal itu.
Mila menghela nafas lega saat ia bisa keluar dengan bebas, ia pun mengendarai mobil milik Ravin membelah jalanan kota yang ramai lancar.
"Aku harap ini berhasil dan mendapatkan hasil yang memuaskan nantinya, karena aku tak mau hal yang begitu menyakitkan terulang lagi padaku. Meski aku tahu keluarga tuan muda sangat baik padaku tapi aku masih merasa sangat was was, bukan aku tidak percaya pada takdirku. Tapi aku hanya ingin mencegah hal buruk terjadi untuk kesekian kalinya.''
Setelah lama mengeluarkan semua unek-uneknya kini mobil yang di kendarai Mila pun sampai di halaman rumah sakit swasta.
Mila berjalan memasuk rumah sakit tersebut untuk menemui dokter ahli kandungan terbaik untuk memeriksanya.
''Permisi saya mau bertemu dengan dokter Tasya.'' Ucap Mila pada sang resepsionis.
"Apa anda sudah ada janji temu dengan beliau nyonya?''
"Iya Sudah, nama saya Mila Aghata"
"Baik tunggu sebentar nyonya.''
Mila pun mengikuti perintah sang resepsionis untuk menunggunya di ruang tunggu, namun sebelum Mila pergi dari ruangan itu, seorang dokter wanita menghampirinya dengan nafas tersenggal.
Mila menatap aneh pada dokter yang ada di hadapannya, kemudian ia pun melihat tag nama Tasya Anandara''
"Nyonya muda Mari ikut dengan saya." Ajak sang dokter masih dengan nafas tersenggal.
"Dokter anda baik baik saja?'' Tanya Mila yang menghiraukan ajakan sang dokter.
"Bagaimana bisa baik baik saja jika istri sang pemilik rumah sakit ini datang kemari" gumam dokter tasya lirih.
"Dok apa anda mengatakan sesuatu?''
"Tidak ada nyonya, mari kita ngobrol santai di dalam.'' Ajak dokter Tasya dengan sangat ramah.
"Terimakasih dok''
"Silahkan duduk nyonya'' Ucap dokter Tasya yang langsung di angguki oleh Mila.
__ADS_1
Walaupun Mila merasa sangat aneh pada sikap dokter Tasya, tapi ia tidak mempermasalahkan nya. Karena niatnya datang ketempat itu hanya untuk berkonsultasi untuk menjalani program kehamilan.
Bersambung...