Setelah 11 Tahun Pernikahan

Setelah 11 Tahun Pernikahan
Bab 71


__ADS_3

Dokter Tasya langsung menghidupkan loudspeaker sambungan teleponnya bersama dengan Ravin, agar Ravin bisa mendengar jelas suara percakapan mereka di dalam sana tanpa harus Ravin pergi ketempat Mila saat ini karena ia tak ingin jika Mila merasa dirinya terus di awasi oleh Ravin.


"Baiklah nyonya, apa yang anda ingin tanyakan? kita mulai mengobrol santai saja. Jangan terlalu terburu-buru." Ucap dokter Tasya mulai membuka percakapan di antara mereka berdua.


Mila menghela nafasnya perlahan. Untuk menghilangkan rasa gugup yang ada di dalam hatinya, kemudian menatap dokter Tasya yang juga menatapnya dengan penuh tanya.


"Saya ingin menjalani program kehamilan dan pemeriksaan kesuburan." Ucap Mila dengan tangan yang saling meremas di bawah meja, untuk mengurangi rasa gugupnya.


''Hmm.. Itu masalah mudah nyonya, sudah berapa lama anda menikah? " Tanya dokter Tasya berbasa basi karena sebenarnya dokter Tasya sudah tahu hal itu.


''Apa yang dokter ini pikirkan? kenapa dia bilang mudah! padahal sudah beberapa tahun yang lalu aku melakukan program kehamilan namun tak ada hasilnya. Saat terakhir aku di nyatakan keguguran tapi itu sudah lama sekali aku tidak pernah datang periksa atau konsultasi lagi pada dokter Vina.'' Gumam Mila dalam hatinya.


"Nyonya apa anda baik-baik saja?'' Tanya dokter Tasya saat melihat Mila hanya diam melamun memikirkan sesuatu.


"Aku baik-baik saja, dan kami baru menikah kemarin.'' jawab Mila dengan sejujurnya.


Dokter Tasya pun tersenyum ke arah Mila, saat mengetahui betapa polosnya nyonya Ravindra Adyaksa.


"Owhh pengantin baru! Baiklah nyonya dimana suami anda? kenapa kalian tidak datang bersama sama. Maaf biasanya pasien program kehamilan datang bersama dan mulai pemeriksaan kesuburan bersama.''


"Itu tidak perlu karena aku yakin suamiku baik-baik saja, dokter anda hanya perlu memeriksa saya saja dan lakukan yang terbaik." Jawab Mila dengan cepat.


"Baiklah nyonya kalau itu keinginan anda, semoga semuanya berjalan dengan lancar. Ayo sekarang ikut dengan ku untuk mulai pemeriksaan.'' Ajak dokter Tasya dan langsung berdiri setelah mematikan sambungan teleponnya dengan Ravin.


Sedangkan di sisi lain Ravin sedang menatap layar laptopnya dengan sangat pokus, "Lala aku tahu kau masih menyimpan luka lama mu, karena kau masih takut akan hal itu terjadi lagi. Tapi asal kau tahu saja aku tidak akan mempermasalahkan soal anak di antara kita, karena tidak mungkin ada anak jika malam pernikahan saja belum di laksanakan." Ravin terus berbicara dengan panjang lebar, sedangkan Juna yang mendengar umpatan big bosnya hanya diam menahan tawa yang terasa ingin meledak saat ini juga.


"Apa yang kau pikirkan Juna?" Tanya Ravin tanpa melirik ke arah asisten pribadinya.


"Tidak ada tuan. Tuan ada yang..''


"Tunggu sebentar aku ingin memantau istriku terlebih dahulu." Ravin langsung memotong perkataan yang akan Juna katakan, karena saat ini ia tengah pokus melihat istrinya menjalani pemeriksaan bersama dokter Tasya melalui cctv.

__ADS_1


"Kenapa anda tidak datang langsung ke sana saja tuan?"


"Sebenarnya aku ingin sekali datang dan membawanya pulang untuk mengurungnya seharian di dalam kamar, karena ini adalah satu kesempatan bagus saat Kenzo sedang tidak ada di rumah. Tapi aku sudah berjanji pada Lala ku karena aku tidak akan menyentuh nya sebelum dia memberikan nya sendiri padaku.''


Mendengar curhatan big bosnya Juna ingin sekali tertawa sangat keras, melihat sakap nya yang arogan dan penuh ketegasan ternyata seorang Ravindra Adyaksa punya sisi kelemahan saat menghadapi istrinya.


Juna memegangi perutnya yang terasa sangat keram menahan tawanya, ''aku tidak pernah menyangka bahwa tuan muda bisa sebucin itu. Yang aku tahu saat bersama nyonya Anggun sikapnya terlihat biasa saja dan tak pernah mempermasalahkan apapun yang nyonya Anggun lakukan di belakangnya." Juna mulai berperang dalam pikirannya banyak sekali hal yang ingin ia ketahui, namun apalah daya dia hanya seorang asisten tidak perlu tahu apa yang ada di dalam pikiran bosnya.


''Juna aku sedang bertanya padamu? apa yang sedang kau pikirkan!'' Seru Ravin saat melihat asisten pribadinya hanya diam saja dan tak memperdulikan pertanyaannya.


Juna langsung menetralkan suaranya


dan menatap ke arah Ravin yang menatapnya aneh. "Ada apa tuan muda, apa semuanya sudah selesai?''


''Sudah, jadi bagaimana dengan pekerjaan mu? apa semuanya sudah selesai.''


''Sudah tuan, anda bisa langsung melihat berita yang sedang viral saat ini.''


"Lalu bagaimana dengan putra nyonya Tita apakah kau sudah mendapatkan informasi nya?''


"Tentu tuan, sepandai pandainya tupai melompat dia pasti akan jatuh juga, sama sepertinya yang terus menutupi jati dirinya namun pada akhirnya aku bisa mengetahui siapa dia."


Ravin mendengus kesal saat asisten nya malah mengajaknya barmain tebak tebakan. ''Juna apa kau sedang mengejekku, kenpa kau mengatakan hal yang tidak penting seperti itu?''


"Maaf tuan.''


"Jadi dia siapa? dan dimana keberadaan nya saat ini?''


"Dia selalu ada bersama dengan kita tuan,'' dengan cepat Juna pun membisikan sesuatu pada Ravin dan memberikan berkas yang ia bawa sejak tadi.


"Apa? Apakah kau yakin itu!'' Ravin begitu terkejut dengan informasi yang ia dapat dari asisten pribadinya.

__ADS_1


"Itu benar tuan, jadi sekarang kita harus apa? apakah anda akan langsung mengintrogasi nya atau menunggu saat yang tepat."


"Tunggu saja,'' jawab Ravin sambil membaca isi berkas yang di berikan juna padanya.


*


*


Kini Mila berada di dalam mobil Ravin dan mengemudikan nya menuju kediaman Mia, ia ingin tahu kenapa sang adik sejak kemarin tidak terlihat sama sekali.


"Apa Mia marah padaku? kenapa tidak seperti biasanya dia bersikap seperti ini, biasanya juga dia paling heboh.'' Setelah beberapa saat kemudian mobil yang di kendarai Mila pun sudah sampai di halaman rumah lamanya.


''Mia, dek kamu dimana?'' Mila langsung masuk begitu saja ke dalam rumah itu untuk mencari keberadaan sang adik.


"Aku disini kak.'' Sahut Mia dari dalam kamarnya, dengan langkah yang tertatih Mia pun datang menghampiri sang kakak.


"Mia, kamu kenapa? apa kamu sakit.''


"Tidak apa apa kak hanya sedikit pusing saja.'' Mia langsung memeluk tubuh sang kakak dengan sangat erat.


"Selamat ya kak, semoga kau bahagia dengan pernikahan mu. Maafkan adikmu yang manis ini sudah melewatkan acara penting di hidupmu.''


Mila melepaskan pelukan sang adik dan mulai memeriksa suhu badan Mia. "Tidak masalah, kenapa kau tidak mengatakan padaku bahwa kau sedang sakit. Ayo sekarang kita berobat ke klinik.'' Ajak Mila yang langsung menarik tangan Mia untuk membawanya keluar dari rumah itu.


"Itu tidak perlu kak, aku baik-baik saja kau jangan khawatirkan aku''


"Mia aku tahu siapa dirimu, jadi ayo ikut sekarang juga!'' Mila sedikit memaksa sang adik, karena ia tahu bahwa Mia takut dengan jarum suntik dan tidak suka obat obatan.


"Kak aku sudah sembuh lihatlah aku sekarang'' Mia langsung memutar tubuhnya di hadapan sang kakak dengan senyuman yang sangat di paksakan.


Sedangkan Mila mendengus kesal melihat tingkah adiknya yang tak pernah berubah, ''Mia jangan bersandiwara seperti itu ayo kita pergi sekarang juga.'' Dengan cepat Mila menarik tangan sang adik untuk keluar rumah, namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang berdiri membelakangi mereka di depan pintu rumahnya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2