
"Mommy!'' Kenzo berteriak histeris di samping Mila.
"Grandma, Daddy datanglah'' Kenzo berteriak sekencang mungkin agar semua orang mendengar suaranya. Dan benar saja suara teriakan Kenzo agar Begitu nyaring pun terdengar sampai ke ruang kerja milik Ravin.
"Kenz, ada apa nak?" nyonya Renata sedikit berlari menghampiri suara di balik kamar mandi cucunya.
"Grandma, tolong mommy huhuhu...'' Kenzo menangis memeluk kepala Mila. Sedangkan nyonya Renata sangat terkejut melihat menantu nya kini terbaring di kamar mandi.
"Mila,(Lala)!" bersamaan dengan nyonya Renata, Ravin pun datang dan terlihat begitu syok saat melihat istrinya terbaring di lantai kamar mandi. Dengan cepat Ravin menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan.
*
*
Dirumah sakit.
Kini Ravin sedang sangat begitu camas menunggu dokter Tasya memeriksa keadaan istrinya. ''Kenapa mereka lama sekali? apa yang sebenarnya mereka lakukan di dalam sana?'' Ravin terus mondar mandir di depan pintu ruangan dengan perasaan cemasnya.
Sedangkan di dalam ruangan, Mila baru membuka matanya dan mendapati dirinya sudah berada di tempat asing. Bau obat obatan yang masuk ke dalam indra penciumannya, membuat ia merasa sangat mual.
"Nyonya, anda sudah sadar. Apa yang anda rasakan saat ini?'' tanya dokter Tasya dengan sangat ramah.
''Saya merasa sangat pusing dok, dan merasa mual jika mencium aroma yang terlalu menyengat.'' Jawab Mila dengan jujur.
Mendengar jawaban pasien nya, dokter Tasya hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya tanda mengerti. "Sejak kapan anda mulai merasakan hal itu?''
"Sejak beberapa hari yang lalu dok.''
"Nyonya apakah obat yang saya berikan rutin anda minum setiap harinya?'' tanya dokter Tasya memastikan dugaannya.
"Iya dokter saya meminum nya setiap hari sesuai saran dokter.'' Jawab Mila dengan sangat jujur.
"Sepertinya misi tuan muda berhasil.'' Batin dokter Tasya yang kini menatap wajah Mila penuh dengan senyuman, membuat Mila bingung saat melihatnya.
''Apakah nyonya sudah mendapatkan tamu bulanan?'' tanya dokter Tasya masih dengan nada ramahnya.
''Sepertinya belum dok!''
__ADS_1
"Baiklah mari kita periksa!'' dokter Tasya langsung mengajak Mila ke ruangan khusus untuk melakukan pemeriksaan pada Mila, dan berharap semoga pekerjaan nya berhasil dan jika iya, maka dia akan mendapatkan predikat dokter obgym terbaik di rumah sakit itu.
Kini dokter Tasya mulai memeriksa dengan alat yang di tempelkan di perut rata Mila. Sedangkan Mila yang sudah mengenal alat itu hanya diam saja pasrah dengan apa yang akan di katakan dokter Tasya nanti.
Tanpa sadar air mata Mila menetes saat mengingat kisah beberapa tahun lalu, hampir setiap tiga bulan sekali ia rutin melakukan pemeriksaan kehamilan, tapi akhirnya ia akan merasa sedih dan kecewa saat mendengar apa yang di sampaikan dokternya. Sedangkan dokter Tasya tersenyum saat melihat layar monitor yang ada di hadapannya.
"Aku tidak ingin mendengar berita buruk apapun hari ini dan selanjutnya, biarkan aku bisa sedikit merasakan bahagia bagaimana menjadi ibu yang sesungguhnya.'' Ucap Mila dalam hatinya.
"Selamat nyonya anda akan segera menjadi ibu!'' seru dokter Tasya dengan wajah berbinar menatap ke arah Mila.
"A.. Apa? apa saya tidak salah dengar dok?'' tanya Mila dengan penuh semangat, deraian air mata pun kini kembali membasahi pipinya. Namun bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan.
Tanpa sadar Mila memeluk dokter Tasya karena terlalu begitu senang, "hati hati nyonya usia kandungan anda masih sangat rawan jadi saya harap anda bisa menjaganya dengan sangat baik."
''Iya dokter saya pasti akan menjaganya dengan sangat baik!'' sahut Mila dengan senyuman yang tak pernah pudar menghiasi wajahnya.
"Baiklah kalau begitu saya akan memberi tahu hal baik ini pada Tuan Adyaksa.''
"Jangan!" Mila menggelengkan kepalanya sambik memegangi tangan dokter Tasya.
"Kenapa? bukankah ini adalah berita baik untuk tuan Adyaksa?'' tanya dokter Tasya dengan raut wajah bingungnya.
''Owhh Baiklah kalau begitu, sekarang ayo kita
kembali keruangan.'' Ajak dokter Tasya dengan ramahnya, ia mengerti dan memahami apa yang di inginkan pasiennya.
Setelah beberapa saat berlalu, kini mulailah dokter Tasya keluar dari ruang pemeriksaan dan langsung mendapatkan pertanyaan beruntun dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.
''Bagaimana keadaan istriku? apa dia baik baik saja? kenapa kau lama sekali memeriksa keadaanya?''
"Tuan pemeriksaan memang sedikit lama karena memang sudah prosedur kami para dokter, tapi anda tenang saja nyonya Mila baik baik saja dan tak ada yang perlu di khawatirkan." Ucap dokter Tasya menjelaskan.
Setelah mendengar penjelasan dokter Tasya, kini Ravin pun langsung pergi menemui sang istri yang masih terbaring di ranjang pasien dengan selang infus yang menancap di tangannya.
"Sayang apa yang kau rasakan saat ini?''
"Tidak ada!'' jawab Mila sedikit berbohong, karena dalam hatinya ia sangat bahagia dan ingin sekali ia memeluk sang suami dan mengatakan bahwa dirinya tengah mengandung saat ini.
__ADS_1
"Tunggu saja kak aku akan memberikan hadiah kejutan istimewa ini di malam ulang tahun mu besok." Ucap Mila dalam hatinya.
Setelah menunggu cairan infus habis kini Mila dan Ravin pun kembali ke mansion. "Sayang apa kau benar benar sudah merasa baikan?'' tanya Ravin masih dengan raut wajah cemasnya.
''Aku baik baik saja kak, kenapa kau bicara seperti itu apakah kau tidak senang dengan hal ini." Ucap Mila yang langsung mengerucutkan bibirnya.
"Tidak sayang bukan seperti itu, tapi.''
Brakk..
Mila keluar dari mobil Ravin dengan wajah yang di tekuk, entah mengapa suasana hatinya mudah berubah dan gampang tersinggung saat ini.
Ravin menghela nafasnya secara perlahan menatap sang istri pergi begitu saja meninggalkan dirinya sendiri. ''Ada apa? apakah aku salah bicara.'' Ravin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal menatap sang istri yang berjalana memasuki mansion utama.
*
*
Satu hari sudah berlalu. Namun Mila bersikap cuek da dingin pada Ravin membuat dirinya merasa sangat frustasi. ''Kenapa dia mendiamkan ku begini apa salahku?''
Saat ini suasana hati Ravin sedang tidak baik baik saja, akibatnya semua orang yang ada di kantor terkena imbasnya begitu juga dengan Juna yang selalu menjadi sasaran utama nya kekesalan seorang Ravindra Adyaksa.
Sedangkan di mansion semua orang tengah mempersiapkan acara pesta kejutan untuk Ravin, dan itu adalah salah satu ide dari nyonya Renata untuk putra semata wayangnya. Tapi nyonya Renata tak pernah tahu di pesta kejutan Itu ada kejutan lain juga untuknya dan seluruh penghini mansion utama.
"Mila apakah kau sudah selesai?'' tanya nyonya Renata yang menghampiri Kenzo dan Mila yang sedang asyik mengobrol dan bercanda.
"Sudah mom!''
"Baiklah semuanya sudah siap, Mari kita mulai mematikan lampunya.''
"Tunggu. Apa kalian melupakan aku?'' ucap seorang gadis yang berjalan memasuki mansion utama dengan sedikit terburu-buru.
"Aunty." Sapa Kenzo dengan senyuman manisnya.
''Hay Zo kau sangat terlihat bahagia sekali hari ini, ada gosip apa? tanya Mia yang langsung mensejajarkan tubuhnya dengan putra sambung sang kakak.
"Rahasia!" bisik Kenzo, yang langsung membuat senyuman Mia menghilang begitu saja.
__ADS_1
Sedangkan Mila dan nyonya Renata yang melihat interaksi Kenzo dan Mia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Kini lampu mansion utama di matikan saat mendengar kabar bahwa mobil Ravin hampir sampai di halaman mansion.
Bersambung...