
Mila menghempaskan tangan mantan suaminya dengan raut wajah penuh kebencian. "Aku tidak menyangka pria yang aku kenal baik dan lemah lembut seperti mu bisa berubah menjadi pria kasar dan ringan tangan seperti ini" Ucap Mila dengan nada sinisnya.
"Iya ini semua karena mu, karena ulah mu aku masuk penjara dan karena ulahmu juga istri ku hilang entah kemana membawa calon anak kami" Sahut Hendra menyalahkan Mila.
"Waahh hanya karena anak ya. Anak yang anak asli atau tidak" Mia menyela pembicaraan antara mantan suami istri itu, karena ia merasa sangat tidak terima dengan apa yang sudah di ucapkan Hendra pada kakaknya. Hendra seakan terus menyalahkan dan memojokkan Mila dalam segala hal yang sudah terjadi dalam kehidupannya.
"Diam kau. Kau tidak tahu apa pun tentang kami" Bentak Hendra. Yang menatap tajam kearah adik mantan istrinya yang juga menatapnya penuh dengan kebencian.
"Aku tahu segalanya Hendra, semuanya aku tahu termasuk wanita ja**ng itu. Ups, dimana dia tinggal dan bersama dengan siapa aku tahu segalanya, karna aku berpikir dengan menggunakan otak dan akal sehatku bukan seperti mu, owhh iya kau kan tidak punya otak mana mungkin kau bisa berpikir'' Ucap Mia sarkas, membuat Hendra benar-benar marah pada gadis itu.
"Jaga ucapan mu Mia'' Bentak Hendra dengan penuh emosi menatap nyalang ke arah Mia, namun Mia tidak pernah takut pada ancaman hendra. Ia bahkan terkesan menantang Hendra.
suasana semakin memanas, membuat Mila mau tak mau harus menjadi penengah di antara mereka berdua. "Mia sudah lebih baik kita pulang sekarang" Ajak Mila pada adiknya, karena hatinya sangat begitu sakit saat mendengar pria yang masih ia cintai terus menyalahkan dirinya.
Mila menatap sekilas pada pria yang begitu ia cintai sebelas tahun lalu. Ia sangat mencintai Hendra karena kebaikan dan keromantisan nya. Itulah yang membuat Mila jatuh cinta berkali-kali pada pria itu, namun saat ini semua itu tinggalah kenangan yang harus di kubur dan di lupakan.
Karena semakin Mila mengingat semua kenangan manis yang sudah mereka lewati, semakin mila merasa sakit karena mengetahui bahwa semua cinta dan kasih sayang yang diberikan oleh suaminya dulu hanya sebuah sandiwara saja.
Mila berjalan terlebih dahulu meninggalkan adiknya dan mantan suaminya yang masih berdebat di sana, karena ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Hendra.
"Dengar Hendra kau akan menyesali semua perbuatanmu nanti setelah kau tahu semua kebenarannya dan siapa yang sudah menghianati mu. Sampai hari itu terjadi maka jangan pernah datang pada kakakku untuk meminta maaf atas semua kekeliruan mu. Karena demi sebongkah batu kerikil kau membuang berlian murni dan untuk soal anak kakakku juga bisa memilikinya dan pada waktu yang tepat aku akan."
"Mia cepatlah" Teriak Mila menghentikan perkataan yang akan Mia ucapkan pada Hendra.
Mia pun langsung bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan Hendra masih berdiri mematung di tempatnya. Ia masih memikirkan kata-kata mantan adik iparnya yang seperti peringatan baginya.
"Akan apa, kenapa kau tidak menyelesaikan kata-katamu dulu" Teriak Hendra saat melihat Mia pergi begitu saja.
"Sial karena gadis itu aku mengundur waktu ku untuk mencari keberadaan istri dan calon anakku. Dimana kau Diana?''
__ADS_1
*
*
"Juna bagaimana apa kau sudah mengerjakan apa yang aku perintahkan" Tanya Ravin saat melihat asisten pribadi sudah kembali.
"Sudah tuan, seperti yang kau minta saya sudah mengurungnya di ruang bawah tanah"
"Bagus, biarkan dia di sana sampai ajal menjemput nya dengan sendirinya. Aku tidak akan pernah memaafkan siapapun yang berani menyentuh keluarga ku termasuk Karina. Walaupun dia saudara dari mendiang istriku, tapi aku tidak akan segan-segan untuk menghukumnya." Ucap Ravin dengan penuh ketegasan.
"Lalu bagaimana dengan nona Mila apa dia''
"Dia baik-baik saja" Jawab Ravin memotong perkataan Juna.
"Juna kumpulkan semua foto Anggun dan simpan semuanya di gudang"
"Apa aku tidak salah dengar''
"Apa itu penting, kerjakan saja apa yang sudah aku perintahkan pada mu''
"Baik tuan"
"Ini adalah pertama kalinya tuan memerintahkan ini padaku, ini tidak seperti biasanya sebenarnya apa yang terjadi dan apa yang sudah tidak ku ketahui"
Begitu banyak pertanyaan yang berada di dalam pikiran Juna saat ini. Namun ia tetap mematuhi apa yang di perintahkan Ravin padanya karena dia hanya lah seorang bawahan dan tidak berhak mengetahui apapun yang dilakukan oleh tuannya.
"Mungkin saja tuan muda berusaha untuk mulai melupakan nona Anggun dalam hidupnya, itu adalah berita bagus untukku maka aku bisa lebih mudah mengantarkan nona mila kedalam kehidupan tuan muda."
*
__ADS_1
*
"Keluarkan aku dari sini.'' Teriak Karina di dalam ruangan yang begitu sempit dan gelap membuat nafas nya begitu sesak.
"Ravin keluarkan aku dari sini, aku berjanji tidak akan pernah mengganggu mu lagi aku mohon Ravin" Teriakan demi teriakan yang di ucapkan Karina di lorong yang begitu gelap dan bau membuatnya sangat ketakutan.
"Aku tidak boleh mati di tempat ini. Aku harus mencari cara lain untuk keluar dari sini, aku tidak boleh menyerah setelah sejauh ini. Ravin adalah milikku hanya milikku dan tidak boleh ada yang memiliki nya selain aku jika dulu anggun bisa memiliki nya maka selanjutnya adalah aku, dan selain aku tidak boleh ada wanita mana pun yang menggantikan posisi itu apalagi si wanita kampungan itu.''
Karina terus berteriak tanpa henti, membuat para penjaga yang menjaga keamanan di luar ruang bawah tanah itu merinding ketakutan.
"Sepertinya wanita itu sudah mulai tidak waras''
"Iya mungkin saja malaikat maut sudah mulai menghampiri nya saat ini''
"Itulah azab untuk orang-orang jahat"
"Tunggu apa kita termasuk orang jahat?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu''
"Iya karena mungkin kita sama jahatnya, karena sudah mengurung wanita itu di tempat yang begitu gelap dan sempit. Mungkin saja disana terdapat banyak hantu yang akan memangsanya''
"Jika kau merasa kasihan, kau boleh memani wanita itu disana agar dia tidak sendirian" Ejek salah satu dari mereka.
Para pengawal yang di perintahkan juna pun mulai bergosip ria, berbagai obrolan yang begitu menarik pun mengalir begitu saja dengan di iringi canda dan tawa di antara mereka berempat. Menghiraukan Karina yang terus berteriak memanggil ravin di dalam ruang bawah tanah.
"Ahh.. sudahlah sekarang lebih baik kau berikan informasi ini pada bos Juna secepatnya'' Ucap salah satu dari mereka langsung menghentikan sesi bergosip nya.
"Tidak perlu, kita biarkan saja wanita itu berteriak sesuka hatinya''
__ADS_1
*M*encintai seseorang harus ada takarannya, jika melebihi batas normal itu bukan cinta melainkan obsesi.
Bersambung..