
Mia terkejut, saat melihat pria yang ada di hadapannya kini sudah membuka penutup kepalanya dan juga maskernya, Mia sedikit memundurkan langkah kakinya karena tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Kau!''
"Iya aku kenapa kau takut.'' Ucap Erik yang langsung berjalan menghampiri Mia.
"Kau mau apa?" tanya Mia yang terkejut saat Erik mendorong tubuhnya ke dinding dan menghalangi jalannya.
''Kenapa kau ketakutan seperti itu? apakah wajahku ini sangar jelek dan mengejutkan mu.'' Erik sedikit tertawa melihat wajah terkejut Mia saat ini.
"Dasar tidak waras, tawamu sumbang sekali. Sekarang menyingkirlah dariku dan jangan berpikir macam macam!" seru Mia yang langsung mendorong tubuh kekar Erik agar menjauh darinya.
"Santai saja kenapa kau kesal padaku? jadi bagaimana apakah kau akan membantuku menuntaskan semua misi ini."
"Tidak mau." Jawab Mia dengan cepat.
"Tapi sayangnya kau tak bisa menolak permintaanku, dan apa kau tidak ingin mengetahui siapa ayahmu dan dimana dia berada saat ini.''
Mia mendengus kesal, saat mendengar ucapan Erik yang penuh teka teki menurutnya. "Ck jangan banyak bertele tele cepat katakan siapa ayahku dan dimana dia? aku akan menanyakan banyak pertanyaan padanya, mengapa dia meninggalkan kami tanpa kabar.''
"Bagus, sekarang ikut aku.'' Erik langsung menarik paksa tangan Mia dan membawanya ke sebuah ruangan mewah dan sedikit gelap.
"Kau mau apa membawaku ketempat ini, ingat jangan macam macam padaku. Kalau tidak kau akan merasakan akibatnya.'" Ancam Mia menekan setiap kata katanya, sedangkan Erik yang mendengar ucapan Mia hanya tersenyum sinis dan memutar bola matanya malas.
"Percaya diri sekali." Sahut Erik dengan ketus, dan langsung berjalan untuk menghidupkan lampunya. Ruangan mewah itu kini sangat terang dan memperlihatkan seorang pria paruh baya yang sedang tertidur di ranjangnya.
"Apa dia ayahku? Ayah!'' teriak Mia yang langsung membangunkan pria paruh baya itu. Mia berniat untuk menghampiri pria paruh baya yang sedang tidur terlentang dan tak bisa melakukan apapun selain menatap ke arah Mia dan putranya.
Dengan cepat Erik mencegah Mia untuk mengganggu istrahat sang papa. "Diam dan jangan berbisik."
"Apaan sih, minggir dan lepasin tanganku. Aku akan menemui ayahku terlebih dahulu." Ucap Mia yang berusaha melewati tangannya dari genggaman Erik.
__ADS_1
Pletak..
Erik menyentil kening Mia dengan cukup keras hingga membuat Mia meringis kesakitan, ''dasar pria menyebalkan kau sangat kasar sekali pada perempuan, aku sangat kasihan pada wanita yang akan menjadi istri atau kekasihmu nanti.''
"Apa kau sedang mengutukku? dengar biar aku jelaskan terlebih dahulu nona, dia adalah papaku. Dan papaku menjadi korban keserakan ayahmu dan mamaku sendiri, aku sangat ingin membalaskan perbuatan mereka pada papa."
"Apa kau tahu Mia, saat usiaku menginjak sembilan tahun aku menjadi saksi kejahatan ibu kandungku sendiri pada suaminya demi pria lain, apa kau tahu siapa itu? tanya Erik yang langsung dj jawab gelengan kepala oleh Mia.
"Dia adalah Bisma Davis ayahmu."
Deghh..
Mia sedikit terkejut saat mendengar nama mendiang ayahnya di sebut, ada rasa tak terima di hatinya. Namun Mia menahan karena ingin tahu apa yang akan di ceritakan Erik selanjutnya.
"Bisma dan Tita yang tak lain adalah ayahmu dan mama kandungku, tega merebut semua aset kepemilikan papa setelah membuat papa tak berdaya seperti saat ini. Bertahun tahun kami hidup terluntang lantung di jalanan dengan kondisi papa yang tidak bisa berbuat apapun, hingga aku tumbuh dewasa dan berusaha untuk bangkit dan membalas perbuatan mereka."
Mia mengepal erat tangannya saat mendengar cerita Erik, ia merasa sangat marah dan emosi saat mengetahui jika ayahnya telah menghianatinya dan ibunya.
"Lalu.''
"Jangan bawa kakak dalam hal ini biar aku saja yang akan mengurus tua bangka itu." Sahut Mia dengan nafas yang memburu.
''Berani sekali dia membohongi kami dan meninggalkan ibu begitu saja. Dan selama ini kakaklah yang selalu berperan baik menggantikan sosok ayah yang menafkahi keluarga kami tapi ternyata, di belahan dunia lain ayahku hidup bahagia bersama dengan orang lain setelah menyingkirkan suami dan putra dari wanita yang kini menjadi pasangan hidupnya. Dan kakak, tega sekali kakak menyembunyikan hal sebesar ini dariku!'' Mia terus berperang batin menahan amarah dalam hatinya.
Kini Mia melangkahkan kakinya mengmpiri pria paruh baya yang terbaring di atas ranjang, yang kini sedang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan oleh Mia.
"Paman apakah kau merasa sakit di bagian tertentu? paman meskipun aku tidak terlalu mengetahui siapa ayahku tapi aku tidak bisa membenarkan apa yang sudah ia lakukan pada kami dan juga keluargamu. Kesalahan tetap kesalahan dan bagiku setiap kesalahan tidak ada maafnya. Paman jangan salah mengerti, itu adalah prinsipku.'' Ucap Mia sambil menekan titik titik sarap otot papa Erik.
"Iya paman Mia mengerti, ini sudah malam dan gadis baik baik tidak keluyuran tengah malamkan. Tapi apa boleh buat, putra paman itu sangat menyebalkan sok sokan jadi pria misterius segala.'' Ucap Mia panjang lebar, membuat Erik merasa kesal karena Mia seperti sedang memojokannya.
"Dasar gadis konyol, entah mimpi apa aku semalam bisa bertemu gadis seperti dirinya.'' Gumam Erik dalam hatinya.
__ADS_1
"Stop bicara omong kosong pada papa ku atau aku akan mengurungmu di gudang bawah tanah." Ancam Erik yang kini menatap tajam ke arah Mia. Namun Mia cuek dan seolah tak perduli dengan apa yang di ucapkan Erik padanya.
"Dasar pria aneh,'' gumam Mia lirih namun masih dapat di dengar oleh papa Erik, kini papa Erik pun menatap Mia dengan lekat dan tersenyum dalam hatinya.
*
*
Pagi hari di mansion utama. Para pelayan dan koki tengah berbaris memperhatikan Mila sedang memasak dengan sangat pokus dan tak menyadari bahwa suaminya datang menemui nya.
"Tu,"
"Ssttt'' Ravin mengkode untuk para pelayan dan koki itu pergi meninggalkan mereka berdua di dalam dapur.
"Sayang," Ravin memeluk tubuh Ramping istrinya dari belakang dan membuat Mila sedikit tekejut.
"Kak apa yang sedang kau lakukan!" pekik Mila.
"Memeluk istriku, apa lagi?'' Jawab Ravin singkat.
"Kak apa kau tidak malu dilihat mereka?''
"Siapa?"
"Me, hahh... Dimana mereka, maksudku para pelayan itu?'' tanya Mila dengan raut wajah bingungnya.
"Sudah pergi." Jawab Ravin dengan entengnya, dan langsung mengangkat tubuh sang istri ala bridal style.
"Kak apa yang kau lakukan, turunkan aku!'' pekik Mila yang langsung menjadi bahan. tontonan para pelayan dan koki mansion yang kini tengah berbaris di sana.
"Kak turunkan aku belum selesai memasak."
__ADS_1
"Biarkan saja itu bukan pekerjaan mu sayang, pekerjaan mu sekarang adalah menemani suamimu ini mandi." Bisik Ravin yang langsung membuat pipi Mila bersemu merah karenanya.
Bersambung...