
Prang...
Suara benda berjatuhan di ruangan tuan Bisma Davis, ia merasa sangat kesal saat putrinya menolak permintaan nya begitu saja.
''Berani sekali dia menolak permintaan ku, dia pikir dia siapa? aku sudah memohon sampai menjatuhkan harga diriku, tapi dia tidak memperlihatkan reaksi apapun." Kesal tuan Bisma, yang terus melemparkan benda apapun yang berada di hadapannya.
"Bisma apa yang sedang kau lakukan di dalam sana, jangan merusak barang apapun. Karena kau tak mungkin sanggup menggantinya kembali." Pekik nyonya Tita dari luar ruangan terus menggedor gedor pintu ruangan tuan Bisma.
Sedangkan tuan Bisma yang mendengar ucapan sang istri membuatnya naik pitam, lantaran sang istri selalu saja memandangnya sebelah mata. Walau apapun yang sudah banyak ia lakukan untuknya dan keluarganya.
"Tita aku sangat ingin membunuhmu sekarang juga. Jadi berhentilah untuk terus membuatku kesal, dan pergilah dari sana jangan menggangguku!'' Teriak tuan Bisma dari dalam ruangannya.
Nyonya Tita yang mendapatkan peringatan dari sang suami pun langsung pergi begitu saja, karena takut dengan kemarahan dan kekejaman tuan Bisma. "Dasar pria yang tak tahu di untung, semuanya gara gara dia yang terlalu ceroboh. Awas saja jika sampai bener benar bangkrut, aku akan menembak kepalanya itu.'' Kesal nyonya Tita yang berjalan meninggalkan ruangan tuan Bisma.
Setelah tak mendengar suara teriakan sang istri, tuan Bisma pun keluar dari ruangannya untuk menuju suatu tempat yang bisa menenangkan hati dan pikirannya yang sedang sangat kacau saat ini. Namun saat ini ia tak menyadari bahwa nyonya Tita mengikutinya dari belakang.
''Kemana tua bangka itu akan pergi? aku harus mengikutinya sekarang juga! awas saja jika dia berani macam macam di belakangku." Ucap nyonya Tita saat melihat mobil sang suami berhenti di sebuah gedung apartemen, yang lumayan jauh dari kediaman nya.
*
*
Di mansion utama.
Ceklek...
Ravin membuka pintu kamarnya untuk mencari keberadaan sang istri, karena Mila sudah tak mungkin lagi masuk ke kamarnya yang dulu. Semua pakaian dan barang barang yang Mila miliki sudah di pindahkan ke kamarnya, jadi tak ada alasan lagi untuk Mila mengelak permintaan sang suami.
''Dimana dia?'' Ravin memindai seluruh ruangan nya yang terasa begitu sunyi dan sepi.
__ADS_1
"Pak Lim bilang Lala ku sudah masuk ke kamar satu jam yang lalu, tapi disini tidak ada siapapun!'' Ravin berjalan menuju kamar mandi miliknya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat pemandangan yang bisa merusak iman imin dan akal sehatnya.
"Apa dia sedang menggodaku? apakah tubuhnya tidak merasa keinginan tidur di dalam bathtube seperti itu."
Dengan cepat Ravin mengambil handuk untuk menutupi tubuh istrinya, membawanya ke dalam kamar dan membaringkannya dengan sangat perlahan. Agar Mila tidak terganggu dengan aktifitasnya saat ini.
Ravin mendengus kesal saat sesuatu mulai mengeras di balik celananya, yang meminta menjelajahi rumah barunya. ''Damn, kenapa harus seperti ini.'' Kesal Ravin pada dirinya sendiri, Ravin merasa sangat frustasi saat melihat tubuh putih mulus istrinya hanya terbungkus handuk.
"Aku tidak mungkin jadi pencuri, walaupun dia sudah sah menjadi istriku. Tapi aku tidak akan mengambil keuntungan dari istriku sendiri.'' Ucap Ravin dalam hatinya.
Dengan perlahan Ravin pun akan turun meninggalkan istrinya dan berpikir untuk mengambilkan pakaian untuk sang istri, namun tangan Mila menarik nya hingga ia pun ikut terjatuh kembali di atas ranjangnya.
Kini Mila memeluk lengan kekar Ravin bagaikan sebuah guling, jangan di tanyaka lagi bagaimana keadaan jantung Ravin saat ini.
"Aku tidak yakin bisa menahan semua ini lebih lama lagi, sayang bangunlah dan lihatlah apa yang sudah kau lakukan padaku.'' Ucap Ravin lirih, sambil memegangi jantung nya yang berdetak begitu cepat.
Senyuman Ravin langsung memudar begitu saja, ia pun langsung menghela nafasnya secara kasar. "Sepertinya aku sedang berlalusinasi tadi.''
Ravin mengecup kening sang istri dan berpikir akan kembali pada rencana awal, yaitu mengambil pakaian untuk Mila.
"Kak kau mau kemana?'' Tanya Mila saat melihat Ravin meninggalkan nya begitu saja.
''Ini hanya ilusi Ravin!'' ucapnya pada dirinya sendiri dan berjalan begitu saja tanpa melihat ke arah sang istri.
"Kenapa dia pergi begitu saja, apakah tubuhku ini sangat jelek?" tanya Mila pada dirinya sendiri.
"Aku sudah berusaha seperti perintah dokter Tasya, untuk menyenangkan suami walaupun aku sangat malu sekali melakukan hal ini, tapi demi mendapatkan hasil yang maksimal aku akan melakukan apapun untuk program kehamilanku itu bisa berhasil. Aku sangat ingin sekali merasakan bagaimana rasanya hamil dan melahirkan, tapi semuanya sungguh sangat sia sia saja.'' Mila merasa sangat sedih dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Sedangkan ravin baru kembali dari ruang ganti untuk mengambil pakaian untuk sang istri, dan terkejut saat melihat istrinya menutupi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Ya ampun aku pasti sangat terlalu lama meninggalkan nya, dia pasti sangat kedinginan." Dengan cepat Ravin pun menurunkan suhu ruangan itu dan menghampiri istrinya untuk memakaikan baju.
Namun langkah Ravin terhenti saat mendengar suara tangisan sang istri dari dalam selimut.
"Hiks... Hiks...''
''Sayang apa kau menangis?" Dengan cepat Ravin membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh istrinya. Namun Mila menariknya kembali ia tak ingin jika tubuhnya di lihat oleh Ravin saat ini.
Adegan tarik ulur pun di mulai, "Sayang aku tidak melakukan apapun padamu jadi tolong berhenti menanagis, jangan membuatku takut sayang." Bujuk Ravin pasa sang istri, ia tak tahu bahwa itulah penyebab istrinya menangis.
Berbeda dengan yang ada di dalam pikiran ravin, Mila merasa dirinya tak menarik karena ia seorang janda dan yang pasti dia sudah suci lagi.
"Lala mari kita bicarakan hal ini dengan perlahan, aku mohon." Pinta Ravin dengan nada yang di buat selembut mungkin. Dan benar saja Mila langsung berhenti menangis saat Ravin memohon padanya.
''Jangan memohon padaku, aku yang salah tubuhku memegang sudah tak bagus lagi dan kau pasti merasa sangat jijik saat melihatnya. Iya kan? dan satu lagi aku memang bukan seorang gadis yang memiliki kesucian untuk menyenangkan hatimu pasti karena itulah kau meninggalkan aku tadi. Iya kan!'' Mila terus berbicara panjang lebar, membuat Ravin tak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan sang istri.
"Sayang bukan itu maksudku, tapi."
"Sudah tidak masalah jika kau tidak ingin menyentuhku.'' Ucap Mila yang langsung akan pergi begitu saja meninggalkan Ravin yang masih dengan raut wajah tak percayanya.
Kini Ravin mulai mencerna apa yang di katakan Mila padanya, dan setelah ia mengerti apa yang membuat istrinya menangis dan kesal padanya. Ravin tersenyum dan mengikuti Mila yang akan pergi ke ruang ganti, dengan cepat Ravin menggendong istrinya ala bridal style dan membawanya ke atas ranjang king sizenya.
Ravin menindih tubuh sang istri dan menguncinya agar Mila tidak bisa lari atau pun mengelak dari serangannya nanti.
"Apa yang akan kamu lakukan kak?''
"Seperti yang kamu inginkan istriku!''
Bersambung...
__ADS_1