
Setelah melakukan meeting pagi Ravin kini mulai bersiap mulai mengerjakan pekerjaan nya yang sempat tertunda. Namun sebelum ia mengerjakan pekerjaan nya matanya kini tertuju pada rantang yang berisi makanan yang ia bawa dari mansion.
"Sepertinya aku tidak bisa melupakan makanan itu,'' Ravin yang langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri rantang makanan tersebut. Namun saat ia akan membuka rantang makanan tersebut pintu ruangan nya di ketuk oleh seseorang dan ia pun mengurungkan niatnya untuk memakan kembali makanan yang ia bawa dan menutup nya kembali.
"Siapa yang sudah mengganggu ku. Masuk!" Ravin pun mengijinkan orang tersebut masuk ke dalam ruangannya setelah ia kembali duduk di kursinya kembali.
''Daddy!" teriak makhluk kecil yang imut menggemaskan yang tak lain adalah putranya sendiri, sejak setelah pergi ke tempat wisata beberapa hari yang lalu membuat Kenzo semakin dekat dengan sang daddy.
"Kenz kau datang?''
"Maaf tuan jika kami mengganggu anda yang sedang bekerja.'' Mila sedikit membungkukan badannya di hadapan Ravin.
"Tidak masalah.'' Sahut Ravin yang kini sedang menggendong putranya.
"Dad kau juga membawa bekal makanan dari rumah?" tanya Kenzo dengan wajah polosnya saat melihat ada rantang makanan di ruangan daddynya. Mila pun ikut melirik pada rantang makanan yang ada di meja itu.
"A... Itu, itu aku.'' Ravin sangat gugup dan kelimpungan harus menjawab apa pada putranya yang mulai cerewet itu.
"Daddy kau tidak perlu malu-malu seperti itu, Karena masakan yang mommy masak memang sangat enak sekali sampai aku saja tidak bisa berhenti mengunyah apalagi saat mommy sendiri yang menyuapinya.'' Ucap Kenzo dengan penuh keceriaan.
''Mommy tolong siapkan makananku, aku juga ingin makan siang bersama dengan daddy sekarang!''
"Iya. tunggu sebentar!'' Mila pun membuka tas Kenzo dan mengambil kotak bekalnya dan menyiapkan nya di meja.
"Sudah selesai."
"Terimakasih mom!'' sahut Kenzo yang langsung menghadiahkan sebuah kecupan kecil di pipi Mila.
"Mommy tolong buka juga bekal daddy Karena aku ingin kita makan bersama sekarang.'' Pinta Kenzo lagi dan Mila pun langsung menuruti keinginan Kenzo tanpa banyak bertanya lagi. Sedangkan Ravin hanya diam saja tanpa mengatakan hal apapun.
"Sudah selesai, silahkan makan."
"Terimakasih mom.'' Jawab Kenzo dengan senyuman yang tak pernah pudar menghiasi wajahnya.
Glekk...
Ravin merasa tergoda pada makanan yang ada di hadapan kini. Namun ia gengsi untuk memakannya di hadapan Mila, ''Kalian makanlah aku harus mengerjakan sesuatu terlebih dahulu."
"No dad, itu sama saja kau tidak menghargai perjuangan mommy lihatlah tangan mommy yang terkena cipratan minyak panas saat memasak pagi tadi." Kenzo langsung menunjuk ke arah tangan Mila yang di bungkus plaster bermotif kartun.
__ADS_1
Ingin sekali Ravin tertawa saat mendengar penuturan putranya namun ia tahan sebisa mungkin. ''Baiklah jika kau memaksa aku akan memakannya.'' Jawab Ravin tanpa ekspresi.
''Mommy mau kah kau meyuapi kami berdua!'' pinta Kenzo dengan wajah memohon nya, membuat Mila dan Ravin merasa terkejut di buatnya.
"Kenz aku bisa makan sendiri jadi kau saja yang di suapi aku akan memakan makanan ku sendiri.'' Tolak Ravin dengan cepat.
"No dad, kau akan tahu rasanya bagaimana jika memakan langsung dari tangan mommy!''
"Kenapa kenzo selalu meminta hal yang aneh padaku''
"Ya ampun gusti kenapa Kenzo selalu menempatkan ku di posisi sulit seperti ini, bagaimana jika tuan muda berpikir lain tentang ku?'' Mila ingin protes namun ia tak berani apalagi saat melihat tatapan Ravin yang begitu menakutkan.
"Mommy apa kau mengatakan sesuatu?''
"Tidak sayang.'' Jawab Mila dengan gugup.
Para dua orang dewasa itu pun kini saling diam dengan pikirannya masing-masing. Mereka berdua sama-sama tidak bisa menolak keinginan Kenzo tapi mereka berdua pun sama canggungnya dengan hal ini. Dan kini mereka berdua pun saling menatap satu sama lain.
"Mom, dad kenapa kalian diam saja?'' tanya Kenzo mengejutkan mereka berdua.
''Iya baiklah ayo suapi aku juga.''Sahut Ravin dengan terpaksa.
''Aku akan melakukan apapun demi melihat senyuman mu Kenz, dan aku rasa ini juga tidak buruk."
Acara makan mereka pun di mulai Mila menyuapi dua pria beda usia itu secara bergantian.
''Aku seperti memiliki dua bayi sekarang!'' Mila yang terkikik geli di dalam hatinya.
*
*
''Tidak sepeti biasanya kenapa beberapa hari ini kak Mila tidak bisa di hubungi ya, semoga dia baik-baik saja?" Mia kembali menyimpan ponsel nya di saku celananya.
"Sekarang aku harus bagaimana pikirkan sesuatu mia? Ahh..! sebaiknya aku datang saja ke rumah besar itu, sekalian aku juga ingin bertemu dengan bocah kecil yang menggemaskan itu dan memberikan buku ini padanya.'' Mia memegangi buku dongeng pengantar tidur untuk Kenzo.
"Bocah kecil itu pasti sangat menyukai nya!'' ucap Mia dengan penuh senyuman, kini ia pun mengambil kunci motornya untuk datang ke mansion utama menemui sang kakak.
Setelah beberapa saat mengendarai kendaraannya Mia pun kini sudah sampai di halaman mansion utama, "Wow ternyata ternyata rumah ini lebih luas dan besar dari yang aku bayangkan!'' seru Mia dengan tatapan penuh kekaguman.
__ADS_1
"Ini sih the real sultan beneran asli no kaleng-kaleng pokoknya!''
"Hey, siapa kau ada disini.'' Suara seseorang yang mengejutkan Mia dari kekagumannya.
"Kau yang siapa?'' Mia balik bertanya pada pengawal kepercayaan Ravin yang kini menatapnya dengan tatapan tak suka.
"Apa kau bercanda? sekarang kau keluar lah dari lingkungan mansion ini atau aku akan,''
''Akan apa?'' sahut Mia yang memotong perkataan Erik tanpa rasa takut sama sekali.
"Berani sekali kau, apa kau tak tahu siapa aku?" geram Erik yang mulai terpancing emosi pada gadil kecil yang ada di hadapan nya saat ini.
"tidak! dan tidak mau tahu, sekarang minyingkirlah dari hadapanku Karena aku harus menemui seseorang di rumah besar itu''
"Gadis ini pasti akan membuat onar di mansion utama aku harus segera mencegahnya jika tidak tuan muda pasti akan marah.''
"Dengar tuan muda tidak ada di rumah, dan kau tidak di inijinkan masuk ke dalam apalagi jika hanya untuk menggoda tuan muda saja!''
"Menggoda. Apa kau lihat aku ini seperti gadis penggoda?''
''Jangan banyak alasan sekarang ikut aku secara baik-baik!"
"Dasar pria aneh apa kau tidak bisa membedakan lihatlah style ku saja tidak cocok menjadi Penggoda!'' sahut Mia dengan nada sinisnya.
Sedangkan anak buah Erik yang sudah mengetahui siapa Mia mereka hanya diam saja. Dan menonton pertengkaran di antara mereka berdua yang bagaikan drama sinetron.
"Menurutmu siapa yang akan menang?'' tanya salah satu pengawal itu pada temannya.
''Entahlah, kita lihat saja bos kita yang anti perempuan itu kini menghadapi adiknya nona Mila yang terkenal dengan kebarbaran nya.'' Sahut temannya dan di angguki teman lainnya.
"Jangan menyentuhku jika tidak kau akan rasakan akibatnya!'' Mia menatap tajam ke arah Erik.
"Hhmm.... Benarkah? lihat sekarang aku menyentuh mu!'' Erik yang mengulurkan tangannya akan menyentuh tangan Mia namun dengan cepat Mila menghindar dan balik mengancam Erik.
"Angkat tangan jika tidak aku akan menembak mu!'' Mia langsung menekan punggung Erik dengan kunci motornya.
Erik tersenyum smirk, "Cihh... kau pikir aku ini bodoh.'' Ia pun langsung menepis tangan Mia dan memanggulnya bagaikan karung beras untuk membawa nya ke luar mansion.
''Hey bodoh turunkan aku. Kakak... tolong aku!''
__ADS_1
Bersambung