Setelah 11 Tahun Pernikahan

Setelah 11 Tahun Pernikahan
Bab 51


__ADS_3

Ravin langsung meminum air yang berada di hadapan sampai habis. ''Kau" geram Ravin pada asisten pribadinya yang datang secara tiba-tiba mengejutkan dirinya.


"Maaf tuan saya tidak bermaksud mengejutkan anda." Juna yang sedikit membungkukan badannya di hadapan Ravin.


Namun ravin tak memperdulikan ucapan asisten pribadinya, "Pak Lim. Pak Lim''


"Saya tuan muda!'' Seru Pak Lim yang langsung datang menghampiri majikannya.


''Tolong bungkus ini semua aku akan membawanya ke kantor untuk makan siang nanti."


"Baik tuan muda," Pak Lim pun langsung pergi mengambil rantang makan untuk tuan mudanya.


Sedangkan Juna langsung ternganga saat mendengar Ravin menyuruh kepala pelayan mansion untuk membungkus makanan yang ada di meja. ''Sejak kapan tuan muda mulai membawa bekal makanan dari rumah?'' tanya Juna lirih.


"Tuan ini bekal makan siang anda,'' pak Lim langsung menyodorkan rantang makanan itu pada Ravin.


"Juna bawa rantang itu!'' perintah Ravin pada asisten pribadinya dan langsung pergi begitu saja meninggalkan juna di ruang makan.


"Baik tuan!"


"Ssssttt.... Pak Lim sebenarnya siapa yang memasak hari ini kenapa tuan muda sepertinya sangat menyukai makanan ini.'' Bisik Juna pada kepala pelayan mansion utama.


"Yang masak pagi ini nona mila tuan!'' jawab Pak Lim seadanya.


"Waah... benarkah, aku jadi penasaran bagaimana rasa masakan yang nona Mila buat?"


Tiiiiiiitttttt.......


Suara bunyi klakson mobil menyadarkan Juna dan Pak Lim yang kini sedang bergosip ria.


''Mati aku, iya tuan saya datang!'' seru Juna yang sedikit berlari menghampiri big bosnya.


*

__ADS_1


*


"Anak tampan sekarang masuklah ke kelasmu aku akan datang menjemputmu saat kau pulang nanti.''


''Siap mom'' Ucap Kenzo dengan penuh semangat.


"Anak pintar!''


"Bye bye mom?'' ucap Kenzo sambil melambaykan tangannya sebelum masuk ke dalam kelas.


Setelah mengantar Kenzo ke sekolah Mila mengendarai mobilnya menju pusat perbelanjaan yang tak jauh dari sana. Mila akan berbelanja kebutuhan pribadinya yang sudah habis namun ia tak menyangka saat di sana ia akan bertemu dengan seseorang yang di kenal nya.


"Mila" ucap seseorang yang berada di belakang nya saat ini, membuat mila langsung membalikan badannya menatap ke arah wanita paruh baya yang kini menatapnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


"Ibu!'' jawab Mila dengan sangat gugup saat melihat mantan ibu mertuanya yang kini tengah berdiri di hadapannya. Mila masih mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu saat pertemuan tak sengaja mereka.


"Mila aku ingin berbicara dengan mu sebentar saja tapi tidak disini,'' pinta Bu Isna yang sedikit memohon pada Mila.


Mila mengajak mantan ibu mertuanya ke sebuah cafe yang tak jauh dari sana, Mila berpikir itu adalah tempat yang cocok untuk mereka berbicara dengan tenang namun sejak tadi tak ada yang mau memulai percakapan di antara mereka berdua.


''Ibu ingin bicara apa?" tanya mila membuka suaranya dengan ramah dan sopan pada mantan ibu mertuanya yang kini hanya duduk diam tak mengatakan apapun.


Bu Isna pun kini menatap ke arah wanita yang pernah menjadi menantu dalam keluarga nya, wanita yang selalu baik dan tak pernah melawan kata-kata kasar yang selalu ia lontarkan pada Mila.


''Mila maafkan ibu.'' Kata Bu Isna dengan raut wajah sedih penuh penyesalan itu kini menatap ke arah Mila dan menggenggam tangan Mila dengan sangat erat.


"Maaf untuk apa bu?'' tanya Mila masih dengan nada ramahnya.


"Ibu sudah tahu semuanya Mila, ibu sangat menyesal sudah selalu berbuat jahat padamu kau boleh menghukum ibu asalkan ibu mendapatkan maaf dari mu." Jawab bu Isna dengan air mata penuh penyesalan yang teramat dalam.


"Sudahlah bu semuanya sudah berakhir, Mila juga udah maafin ibu lagi pula ibu tidak salah dalam hal ini. Karena semuanya sudah menjadi takdir yang sudah di gariskan oleh allah untuk kita, sekarang kita ambil hikmahnya saja dari semua yang sudah terjadi di dalam hidup kita.'' Jawab Mila dengan bijak.


"Aku memang sangat bodoh sudah membuang menantu seperti mu, Hendra maafkan ibu karena ibu begitu egois yang terus memaksa mu untuk meninggalkan istri sebaik dan sebijak Mila, walau apa pun yang sudah di lakukan ibu pada nya dia masih mau memaafkan kesalahan ibu dengan mudah nya."

__ADS_1


"Terimakasih Mila, Karena kamu sudah mau memaafkan kesalahan ibu jadi kembalilah pada Hendra dia sangat membutuhkan mu saat ini."


"Maaf bu Mila tidak bisa!'' sahut Mila yang langsung meremas tangannya sendiri di bawah meja tersebut.


"Maaf walaupun aku masih mencintai nya tapi aku tidak akan pernah kembali lagi pada mas Hendra bu, karena begitu dalam luka yang sudah ia torehkan padaku."


"Mila, ibu berjanji tidak akan ikut campur lagi dengan rumah tangga kalian setelah kalian rujuk nanti.'' Ucap bu Isna meyakinkan Mila.


Sedangkan Mila yang mendengar penuturan bu isna hanya menghela nafas panjangnya, ''andai saja dulu sebelum kejadian ini mungkin semua nya akan baik-baik saja tapi sekarang.''


''Maafkan Mila bu, tapi Mila tak bisa.''


Bu Isna menghela nafas panjangnya ia merasa kecewa dengan keputusan yang sudah di ambil Mila saat ini, namun bu Isna juga tak menyalahkan Mila atas kejadian ini karena semua yang terjadi memang salahnya Karena terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya.


"Baiklah jika itu keputusan mu ibu tidak akan memaksa. Karena ibu tahu dimana posisi ibu sekarang!'' sahut bu Isna dengan pasrah.


''Maaf bu," hanya kata maaf yang bisa Mila ucapkan saat ini karena menolak permintaan mantan ibu mertuanya.


"Kamu tidak salah Mila, jangan terus meminta maaf begitu'' Sahut bu Isna yang tidak enak hati pada Mila.


"Baiklah kalau begitu Mila ibu pulang dulu ya, terimakasih sudah mau memaafkan kesalahan ibu dan terimakasih juga atas waktu nya, maaf ibu sudah mengganggu kenyamanan mu sekarang ibu mau pulang dan memberikan obat ini pada Hendra." Pamit bu Isna sambil menunjukan kantong plastik putih yang ada di tangannya.


"Iya bu.'' Jawab Mila yang tak ingin menanyakan keadaan hendra saat ini, padahal Bu Isna sangat berharap jika mila menanyakan sesuatu tentang keadaan putranya.


"Aku harap keputusan ku saat ini tidak salah, Karena aku hanya ingin menjaga kewarasanku sebagai wanita yang begitu lemah dan tak berdaya Karena cinta, dan aku berharap ini adalah jalan terbaik untuk kami.''


Mila menatap ke arah bu Isna yang kini semakin menjauh dari hadapan nya. "Andai saja jika anakku saat ini masih ada bersama dengan ku mungkin aku akan mempertimbangkan kembali permintaan mu bu, tapi semua yang terjadi bukan atas kehendak kita melainkan takdir dari sang pencipta.''


Pada akhirnya penyesalan akan datang di akhir cerita dan menyadarkan kita dari sebuah kesalahan yang begitu merugikan diri sendiri,


jadi berpikirlah dengan bijak saat kau akan melakukan segala sesuatu agar kau tak menyesal di kemudian hari.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2