
Mila menghentakkan kakinya keluar dari kantor Adyaksa, namun langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya. Membuat Mila langsung melirik ke arah sumber suara.
"Kamu disini juga dek?" tanya Mila dengan raut wajah penuh tanya, menatap sang adik yang berjalan keluar dari kantor suaminya.
"Iya kak, ada yang harus aku bicarakan dengan mu tapi tidak disini." Ajak Mia yang langsung menggandeng tangan sang kakak.
"Ngomong ngomong kak, kenapa di cuaca panas begini kau memakai pakaian seperti kepompong, apa kau sakit?'' tanya Mia dengan tatapan menyelidik.
"Hhmmm.. Aku,"
"Lala sayang tunggu aku!" Ravin menarik tangan Mila dan membawa kedalam pelukannya. Dengan nafas tersenggal karena sedikit berlari saat mengejar istrinya.
"Tebar ke romantisan terus. Membuat mata suciku sakit saja!'' sindir Mia, membua Mila langsung melepaskan pelukannya dengan paksa.
Mila sangat malu dengan sindiran adiknya, sedangkan Ravin merasa sangat kesal pada adik iparnya yang sudah mengganggu momen romantis mereka. Kini Mila mulai mengerucutkan bibirnya, ia masih sangat kesal pada Ravin yang mengusirnya begitu saja saat dari ruangan nya tadi.
"Ayo dek,'' ajak Mila yang langsung menggandeng tangan Mia untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Namun dengan cepat Ravin mencegah tangan istrinya, "sayang jangan pergi aku mohon. Maafkan aku tadi aku kira itu bukan dirimu tapi Erik. sungguh!" Ucap Ravin dengan suara selembut mungkin membuat Mila langsung menghentikan langkahnya. Sedangkan Mia mendengus kesal saat kakaknya kini mulai berjalan menghampiri suaminya.
"Kak"
"Kita bicara di ruangan ku saja!" Ucap Ravin yang langsung menggendong tubuh ramping istrinya ala bridal style meninggalkan Mia yang masih berdiri di tempatnya.
Mia mencebik kesal dan menghentakan kakinya, mengikuti pasangan pengantin yang baru beberapa Minggu itu. "Dasar sudah tua tapi masih bertingkah seperti remaja yang sedang kasmaran, Hmmm.. Aku jadi iri jadinya."
"Kak turunkan aku, aku sangat malu menjadi bahan tontonan para karyawan mu saat ini.'' Ucap Mila yang sedikit menyembunyikan wajahnya di dada bidang Ravin.
''Kenapa harus malu, kau adalah nyonya Adyaksa istriku! dan satu lagi kenapa kau memakai pakaian seperti ini di saat cuaca panas terik. Apa kau sakit? tanya Ravin yang menatap wajah istrinya dengan intens.
''Haruskah dia bertanya seperti itu padaku? sebenarnya siapa juga yang mau berpakaian seperti ini di cuaca terik. Tapi apa boleh buat karena ulahnya aku terpaksa harus memakai ini untuk menutupi seluruh tubuhku yang sudah seperti macan tutul." Batin Mila.
Flashback.
__ADS_1
"Sayang hanya sebentar saja.''
"Tidak kak, aku sudah mandi tadi.'' Tolak Mila yang akan keluar dari kamar mandi. Namun dengan cepat Ravin mulai melakukan aksinya, ia mulai mencari titik kelemahan sang istri untuk membuatnya tak berdaya.
Suara de*a*an pun mulai keluar dari bibi Mila memenuhi ruangan itu, membuat ravin sangat bersemangat saat melakukan aksinya.
Dengan cepat Ravin pun mulai tancap gas, untuk pergi menuju puncak nirwana bersama sang istri. Tak hanya di kamar mandi ia pun melanjutkan aksinya di kamar tidur dan membuat Mila kembali tertidur karena kelelahan.
Setelah beberapa jam berlalu. Mila kembali terbesar merasakan sakit di seluruh tubuhnya, dengan langkah sedikit tertatih ia pun berjalan ke kamar mandi dan berapa terkejutnya Mila saat melihat pantulan dirinya di cermin.
"Ravindra!" Teriak Mila dengan sangat kencang melepaskan semua kekesalan yang ada di dalam hatinya saat ini.
Flashback end.
Kini di ruangan Ravin Mila sedang menyuapi sang siami dengan sangat telaten, sedangkan Mia hanya duduk diam di pojokan sofa dengan bibir mengerucut.
"Aku tidak menyangka, kanebo kering macam kakak ipar bisa modus seperti itu." Ucap Mia dalam hatinya.
"Kak apa masih sangat lama? sebaiknya kita bicara langsung sekarang saja.'' ucap Mia langsung pada intinya, karena ia sudah tak tahan lagi melihat kemesraan sang kakak yang seolah mengejek nya.
"Bukan. Tapi ini soal ayah kita!''
Deghh...
Mila langsung menghentikan pekerjaan nya dan menatap ke arah sang adik, sedangkan Ravin langsung terbatuk tersendak makanannya sendiri.
"Minum kak,'' Mila menyodorkan segelas air putih pada suaminya. Dan langsung berjalan menghampiri Mia yang kini duduk lesu dengan wajah sedihnya.
"Apa maksudmu dek? kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal seperti itu?'' Tanya Mila. Namun Mia langsung memeluk tubuh sang kakak dan menangis di pelukannya.
"Kenapa kakak tidak mengatakan hal itu padaku, apakah kakak tidak percaya pada adikmu ini? kak aku sudah tahu semuanya, bahwa pria tua itu adalah ayah kita!"
Deghh..
__ADS_1
"Kamu tahu dari mana Mia?" tanya Mila dengan raut wajah penuh tanya.
''Kak aku tahu segalanya," Kini Mia pun menceritakan semua yang sudah ia ketahui pada kakaknya tanpa ada lagi yang ia tutupi. Sedangkan Ravin hanya diam menyimak tanpa ingin menghentikan kisah yang sedang di ceritakan oleh Mia, karena ia pun ingin mengetahui bagaimana reaksi istrinya saat mengeta kebenaran yang terjadi saat ini.
Mila menghela nafas panjangnya dan kembali memeluk sang adik, ''jangan pikirkan apapun lagi. Aku sudah ikhkas untuk semua yang akan terjadi di masa depan nanti, karena aku juga sudah terlanjur kecewa pada ayah." Kini Mila pun kembali mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu, saat ayannya datang kerumah lama mereka hanya untuk meminta bantuan saja.
"Biarkan saja dia merima karmanya sendiri, aku sudah terlanjur kecewa pada ayah. Dia hanya memikirkan harta saja sedangkan dia tak pernah mengingat kita dan juga ibu. Karena ayah, ibu kita menjadi sering sakit sakitan hingga pada akhirnya beliau pergi meninggalkan kita.'' Ucap Mila sambil terisak di pelukan adiknya.
"Baiklah kalau begitu Mia pulang dulu kak, masih banyak pekerjaan di rumah. Jaga diri kakak dan lupakan semua yang terjadi tapi ingatlah jangan mudah terbawa suasana jika suatu hari ayah datang padamu kak.'' Mia mulai memperingatkan sang kakak sebelum ia pergi meninggalkan tempat itu.
"Kakak janji." Ucap Mila lirih saat melihat pintu ruangan itu kini di tutup oleh sang adik.
*
*
Beberapa hari pun berlalu. Kini berita elektronik sedang di hebohkan dengan semua berita tentang nyonya Tita dan Bisma Davis. Bukti vidio rekaman kejahatan yang mereka lakukan pada Tuan Arza beberapa tahun lalu pun tersebat di internet, membuat ia tidak bisa mengelak dari tuduhan kejahatan mereka dan di ancam hukuman mati.
Erik merasa sangat puas karena dendam nya telah terbalaskan, ia pun berencana untuk membawa papa nya pergi ke luar negri untuk pengobatan.
Sedangkan di sisi lain seorang gadis tengah menangis pilu. ''Tidak Mia jangan menangis, pria seperti itu pantas mendapatkan hukuman seperti ini.'' Mia berusaha menguatkan hatinya.
Namun berbeda dengan Mila yang tak tahu tentang berita apapun yang tengah heboh di jagat maya saat ini, karena Ravin selalu menjaganya dua puluh empat jam dan berusaha keras agar sang istri tidak syok dengan berita yang tengah viral saat ini.
Hoekk... Hoeekk...
Suara dari kamar mandi membangunkan kenzo dari tidur siangnya.
"Mom, apa kau baik baik saja?" tanya Kenzo dengan wajah polosnya.
"Tidak apa apa sayang mommy hanya sedikit pusing saja, maaf karena suara bising mommy membangunkan ridur nyenyakmu.'' Ucap Mila Mila sambil tersenyum walau wajahnya terlihat sangat pucat.
"Mommy minumlah." Kenzo memberikan segelas air putih pada Mila. Namun belum sempat Mila mengambilnya, kini pandangannya terasa gelap dan jatuh begitu saja di kamar mandi.
__ADS_1
"Mommy....''
Bersambung.